Maahad Al Musthofa Mobile

Makassar, NU Online

Ibadah puasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu kewajiban bagi umat Islam. Namun bagi penderita Diabetes Melitus diperlukan beberapa persiapan sebelum puasa agar tidak menimbulkan komplikasi yang membahayakan kesehatan. 

 

Ketua Lembaga Kesehatan Nahdatul Ulama (LKNU) Sulawesi Selatan (Sulsel), dr Syatirah Jalaluddin mengatakan, Diabetes Melitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah.

 

Dijelaskan, penyakit ini terjadi karena pancreas, salah satu organ dalam perut, tidak dapat memproduksi hormone insulin yang cukup atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang sudah produksi secara efektif. 

 

“Hormon insulin berfungsi menstimulasi penyerapan glukosa ke dalam otot dan lemak. Diabetes diklasifikan menjadi Diabetes tipe 1 dan Diabetes tipe 2. Diabetes Mellitus tipe 2 secara global memiliki insiden yang paling tinggi, sekitar 90% sampai 95%,” jelasnya dalam keterangan resminya kepada NU Online, Sabtu (17/4).

 

“Angka kematian cukup tinggi karena dapat menyebabkan berbagai komplikasim mulai dari masalah jantung dan pembuluh darah, serebrovaskuler, kelainan ginjal, koma diabetic, dan komplikasi lainnya,” sambungnya.

 

Oleh karena itu kata dia, pada penderita Diabetes Mellitus tipe 2 yang ingin berpuasa pada bulan Ramadhan disarankan untuk melakukan konseling mengenai kondisi kesehatan, nutrisi, dan aktivitas fisik yang dapat dilakukan oleh penderita Diabetes Mellitus tipe 2 ketika sedang berpuasa Ramadhan.

 

Dijelaskan olehnya, puasa dapat menyebabkan perubahan metabolisme tubuh, disebabkan karena terjadi perubahan jumlah karbohidrat ataupun lemak yang dikonsumsi. Pada penderita Diabetes Mellitus kadar gula darah dapat mengalami penurunan dengan baik. Tetapi juga beresiko terjadi hipoglikemia, yang mengarah pada terjadinya penurunan kesadaran. 

 

“Berpuasa Ramadhan berarti seseorang tidak diperbolehkan untuk makan dan minum baik secara oral ataupun injeksi dari terbit matahari sampai terbenam matahari, dan hal ini dapat berlangsung selama 13-14 jam,” terang dr Syatirah, Dekan Kesehatan dan Ilmu Kedokteran (FKIK) UIN Alauddin Makassar itu.

 

Tapi pada dasarnya lanjutnya, penderita Diabetes Mellitus dapat tetap menjalankan puasa di bulan Ramadhan, dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter, meyakinkan kondisi penyakit terkontrol dan menjalankan manajemen dan pemantauan dengan sebaik-baiknya.

 

“Beberapa penelitian bahkan menemukan bahwa puasa memberikan manfaat bagi penderita DM, yaitu penurunan glukosa darah, HbA1C, profil lipid, dan tekanan darah,” ungkap Alumnus Kedokteran Universitas Hasanuddin itu.

 

dr Syatirah mengatakan, sebagai umat muslim, yang memahami bahwa ajaran Islam sepenuhnya memberikan manfaat bagi umat manusia, dan tentunya keyakinan diri dan keimanan itu akan memperkuat keyakinan psikologis orang untuk menjalankan segala perintah Allah. 

 

“Yakinlah bahwa Allah telah menciptakan manusia sebaik-baik bentuk, dan tidak ada yang paling paham tentang tubuh manusia, melainkan pencipta-Nya,” tuturnya.  

 

Ia pun membeberkan aturan dan tips berpuasa untuk penderita Diabetes Mellitus, yaitu 

1.    Manajemen diri dapat dilakukan bila penderita memiliki kesadaran yang tinggi akan penyakitnya, dan ini bisa terjadi bila penderita mendapat edukasi yang komprehensif dari seorang profesional. Oleh sebab itu, sebelum melakukan puasa, pasien harus paham dulu kondisinya, paham apa yang harus dilakukan, paham apa yang harus dikonsumsi, dan tentunya informasi itu didapatkan dari tenaga medis profesional.

 

2.     Melakukan pemeriksaan glukosa secara teratur. Pemeriksaan glukosa secara teratur dapat dilakukan dengan cara mandiri menggunakan alat pemeriksaan glukosa darah perifer, yang cukup akurat dan mudah pemeriksaannya. 

 

3.    Asupan nutrisi. Selama bulan Ramadhan terjadi perubahan pola diet, masalah asupan nutrisi yang paling sering terjadi karena porsi berlebihan di saat berbuka dan saat sahur, serta waktu tidur yang berkurang. Nutrisi yang dikonsumsi sebaiknya merupakan karbohidrat kompleks, meningkatkan asupan cairan untuk memastikan agar tubuh tidak mengalami dehidrasi, meningkatkan asupan buah dan sayur sehingga menurunkan jumlah asupan lemak dan gula simpel yang dikonsumsi 

 

4.     Melakukan latihan fisik. Aktivitas fisik sebaiknya dilakukan kurang lebih 2 jam setelah berbuka puasa. Aktitas sedang sampai berat sebaiknya dilakukan pada malah hari Ketika sudah diperbolehkan makan dan minum untuk mencegah hipoglikemia.  

 

5.     Penderita Diabetes Mellitus harus paham pada kondisi apa mereka harus segera berbuka puasa. Biasanya dokter akan memberikan informasi tanda dan gejala hipoglikemia kepada pasien, sehingga ketiga gejala itu muncul, penderita harus segera berbuka puasa. 

 

6.     Mengontrol kondisi penyakit dengan rutin mengkonsumsi obat anti diabetes yang telah digunakan selama ini. Tentunya aka nada penyesuaian dosis dan waktu konsumsi obat dan semuanya dapat dikonsultasikan terlebih dahulu.

 

Kontributor: Ridwa

Editor: Kendi Setiawan

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link