Berita

Beberapa Karamah Sayyidah Nafisah

Al-Musthofa Publication Beberapa Karamah Sayyidah Nafisah

Sebagai wanita yang sangat taat, tekun, istiqamah dan selalu ikhlas, Sayyidah Nafisah oleh Allah swt diberi berbagai karamah. Ia mendapatkan karamah sebagai penghormatan dan kemuliaan baginya atas segala amal yang selalu diridhai oleh Allah. 


Puasa dan Ibadah Malam Selama 40 Tahun

Diceritakan dalam kitab Mursyîduz Zuwar, Sayyidah Nafisah terkenal karena kesungguhan beribadah semenjak masih belia. Ia beribadah malam tanpa pernah tidur selama 40 karena kekhawatiran atas nasibnya di akhirat kelak. Hal itu disaksikan oleh keponakannya, Sayyidah Zainab. Syekh Muwaffiquddin bin Utsman (wafat 615 H) menceritakan:


خَدَمْتُ عَمَّتِي السَيِّدَةَ نَفِيْسَة أَرْبَعِيْنَ سَنَةً فَمَا رَأَيْتُهَا نَامَتْ لَيْلًا وَلَا أَفْطَرَتْ نَهَارًا إِلَّا الْعِيْدَيْنِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيْقِ. فَقُلْتُ لَهَا: أَمَّا تَرْفَقِيْنَ بِنَفْسِكِ؟ فَقُلْتُ: كَيْفَ أَرْفُقُ بِهَا وَأَمَامِي عَقِبَاتٌ لَا يَقْطَعُهَا إِلَّا الفَائِزُوْنَ


Artinya, “Aku (Sayyidah Zainab) telah melayani bibiku selama 40 tahun, dan aku tidak pernah melihatnya tidur di malam hari, tidak pernah melihatnya berbuka di siang hari kecuali dua hari raya dan hari Tasyrik. Aku bertanya kepadanya: ‘Apa engkau tidak kasihan dengan tubuhmu?’ Dia menjawab: ‘Bagaimana aku kasihan pada tubuhku, sedangkan di depanku ada banyak rintangan yang tak seorang pun bisa melewatinya kecuali orang-orang yang beruntung?” (Muwaffiquddin, Mursyîduz Zuwar ilâ Qubûril Abrâr, [Lebanon: Dârul Mishriyah: 1995], halaman 196-197).


Begitulah keadaan para kekasih Allah. Ia rela merasakan ketidaknyamanan, tekanan, bahkan rela membuang waktu istirahatnya demi ibadah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhannya. Sayyidah Nafisah rela hidup dengan keadaan tidak nyaman secara materi, sebab baginya yang terpenting adalah bisa beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Tidak ada yang lebih berharga dan lebih penting selama hidup di dunia, selain mendekatkan diri kepada-Nya, dengan memperbanyak ibadah. 

 

Mengalirkan Air Sungai Nil saat Paceklik

Syekh Taufiq Abul Ilmi dalam kitabnya berjudul Sayyidah Nafisah Radhiyallâhu ‘Anha menjelaskan, suatu ketika Sayyidah Nafisah ada di Mesir terjadi paceklik yang sangat parah. Sungai Nil yang menjadi sumber kehidupan mereka mengering dan kebutuhan masyarakat pada air sangat mendesak. Syekh Taufiq lalu mengatakan:


فَجَاءَ النَّاسُ اِلَيْهَا وَسَأَلُوهَا الدُعَاءَ فَأَعْطَتْهُمْ قنَاعَهَا فَجَادُوْا بِهِ اِلَى النَّهَرِ وَطَرَحُوْهُ فِيْهِ فَمَا رَجَعُوْا حَتَّى زَخَرَ النَّيْلُ بِمَائِهِ وَزَادَ زِيَادَةً عَظِيْمَةً

 

Artinya, “Orang-orang mendatangi Sayyidah Nafisah dan meminta doa kepadanya, kemudian ia memberi mereka sebuah kain. Mereka lalu membawanya ke sungai Nil, (setelah sampai) mereka melemparkan kain itu. Mereka pun tidak pulang sampai air sungai Nil berisi penuh, bahkan semakin bertambah sangat banyak.” (Taufiq Abul Ilmi, Sayyidah Nafisah Radhiyallâhu ‘Anha, [Mesir: Wazâratul Auqâf: 2001], halaman 104).


Berkah Doanya Menyelamatkan Orang dari Penguasa Zalim

Saat Sayyidah Nafisah berada di Mesir, raja yang berkuasa adalah raja yang zalim. Dengan segala otoritas dan kekuatan militernya, ia merampas hak-hak rakyat. Ia gunakan kekuasaannya untuk menghina, menyiksa, dan bahkan membunuh rakyat. Satu per satu ditangkap oleh raja. Mulai dari Mesir ujung timur sampai paling barat. 


Suatu ketika pasukan Sang Raja menangkap seorang lelaki. Ketika lelaki yang ditangkap ini berjalan bersama pasukan untuk menghadap kepadanya, kebetulan berpapasan dengan Sayyidah Nafisah. Kesempatan ini tidak disia-siakannya untuk meminta doa keselamatan kepada sosok wanita shalehah itu. Lalu beliau mendoakannya: 


حَجَبَ اللهُ عَنْكَ أَبْصَارَ الظَّالِمِيْنَ


Artinya, “Semoga Allah menghalang-halangi penglihatan orang-orang zalim darimu.”


Setelah melanjutkan perjalanan dan menghadap, Sang Raja pun bertanya kepada pasukannya, “Mana Si Fulan?”


“Lha itu berdiri di depan anda?”, jawab pasukan.


“Demi Allah aku tidak melihatnya”, tegas Sang Raja.


Para pasukan pun mengisahkan tadi lelaki tersebut sempat bertemu Sayyidah Nafisah dan meminta doa keselamatan darinya. Sang Raja kemudian berujar penuh penyesalan: “Apakah kezalimanku sampai parah sedemikian ini? Ya Tuhanku, aku bertaubat kepadamu.” 


Kemudian Sang Raja menangis dan bertaubat atas kezalimannya selama ini. Subhanallâh. (Muwaffiquddin, Mursyîduz Zuwar, halaman 206).


Air Wudhunya Sembuhkan Penyakit

Beberapa tahun ada di mesir, Sayyidah Nafisah hidup bersama masyarakat. Mereka sangat menghormatinya, selain karena keturunan Rasulullah saw, ia juga memiliki derajat sangat mulia. Menurut Syekh Jabbar Siraj, Sayyidah Nafisah bersama suaminya tinggal di rumah Umi Hani’. Rumah yang ditempatinya berdampingan dengan rumah keluarga Yahudi yang mempunyai anak perempuan lumpuh.


Suatu ketika, Si Ibu ingin pergi ke pemandian umum. Ia bertanya kepada anaknya, “Kamu ikut aku atau bagimana?” 


“Titipkan saja aku ke perempuan itu (Sayyidah Nafisah)”, jawab Si Anak. 


Si Ibu pun menitipkan anaknya di rumah Sayyidah Nafisah. Saat waktu Zuhur tiba, Sayyidah Nafisah berwudhu. Air bekas wudhunya kemudian mengalir sampai di samping anak lumpuh tersebut. Si Anak pun seketika menyentuh air dan mengusapkannya ke seluruh tubuh. Atas izin Allah, Si Anak dapat berdiri dan berjalan seperti tidak pernah lumpuh sama sekali. Ketika ibunya kembali, ia pun tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Si Anak lalu menceritakan peristiwa dahsyat yang dialaminya.


Mendengar penuturan kejadian itu, Si Ibu dan semua keluarganya bersyahadat masuk Islam dengan bimbingan Sayyidah Nafisah. Seiring tersebarnya berita ini, lebih dari 70 Yahudi masuk Islam dalam waktu singkat dan semakin banyak orang berkunjung ke rumah Sayyidah Nafisah untuk meminta doa serta mengharap berkah darinya.” (Jabbar Siraj, Qishshatu Sayyidah Nafisah, [Yaman, Maktabah Taufiqiyah], halaman 19).


Menggali Kuburnya Sendiri

Pernah suatu ketika, karena melihat semakin banyak orang yang mendatangi Sayyidah Nafisah untuk meminta doa dan berkahnya agar semua keinginannya terkabul, suaminya ingin membawanya pulang ke Hijaz, Madinah. Namun Sayyidah Nafisah menolak ajakan itu. Sayyidah Nafisah berkata, ”Aku pernah bermimpi bertemu baginda Rasul. Ia berkata, jangan pergi dari Mesir karena Allah akan mewafatkanmu di sana.”


Karena mengetahui isyarat tersebut kemudian Sayyidah Nafisah menggali kuburnya sendiri dan menirakatinya dengan khataman Al-Qur’an ribuan kali. Sebagian riwayatmenyatakan sampai 1900 kali. Sebagian lain menyatakan 2000 kali. Sebagian lain menyatakan 6000 kali. Yang pasti, Sayyidah Nafisah turun ke dalam lubang makam yang digalinya ketika siang dan malam untuk membaca Al-Qur’an dan shalat di sana.


Menurut Syekh Muwaffiquddin, Sayyidah Nafisah mulai sakit pada Rajab 208 H. Di sela-sela sakitnya, ia mengirim surat kepada suaminya yang sedang berada di Madinah. Ia meminta suaminya pulang ke Mesir. Rasa sakit Sayyidah Nafisah semakin bertambah parah pada Ramadhan. Para dokter pun datang melihat kondisinya. Mereka memberi saran agar Sayyidah Nafisah membatalkan puasanya agar tubuhnya kuat dan kembali sehat. Namun beliau menolaknya dengan keras, “Na’ûdzubillah, selama 30 tahun aku berdoa agar aku wafat dalam keadaan berpuasa dan sekarang kalian datang menyuruhku membatalkan?”


Sakitnya semakin hari semakin parah. Sampai pertengahan Ramadhan, setelah wafatnya Imam asy-Syafi’i, Sayyidah Nafisah mengehmbuskan nafas terakhinya. Sebelum wafat, beliau membaca surat Al-An’am, mulai awal sampai tepat pada ayat berikut:


قُلْ لِلهِ كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ (الأنفال: 12)


Artinya, “Katakanlah (Muhamad), milik Allah. Dia telah menetapkan (sifat) kasih sayang pada diri-Nya.” (QS Al-An’am: 12).


Tepat saat sampai pada ayat itulah Sayyidah Nafisah wafat. Begitulah nasib-nasib orang mulia di sisi Allah, ia wafat dalam keadaan membaca Al-Qur’an, sebagaimana tercermin ketika hidupnya yang sangat mencintai Al-Qur’an. Karenanya, Allah mewafatkannya dalam keadaan membaca Al-Qur’an, dan tepat pada ayat yang sangat luhur dan mulia. Ayat yang menjadi tanda-tanda husnul khâtimah.


Sebelum wafat, Sayyidah Nafisah berwasiat agar suaminya yang mengurus jenazahnya. Awalnya, suaminya ingin agar jasad istrinya dimakamkan di Baqi’ bersama keluarganya. Ia datang membawa peti untuk membawa jenazahnya. Namun masyarakat Mesir keberatan. Mereka meminta agar jenazah Sayyidah Nafisah tetap dimakamkan di Mesir. Kemudian penduduk Mesir melapor kepada penguasa setempat, agar mau membujuk suaminya meluluskan permintaan masyarakat Mesir.


Sang Penguasa lalu bergegas mendatangi suaminya dan berkata, “Demi Allah, jangan larang kami untuk melihat makam Sayyidah Nafisah. Dulu sewaktu masih hidup, ketika tertimpa musibah atau sedang punya hajat, kami datang ke rumahnya meminta doa. Maka, tinggalkanlah jenazahnya di sini sehingga jika kita punya hajat, kita bisa bertawassul dan berdoa kepada Allah di samping makamnya.” (Muwaffiquddin, Mursyîduz Zuwar, halaman 220-221).

 


Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Durjan, Kokop, Bangkalan.

 

Al-Musthofa Publication Beberapa Karamah Sayyidah Nafisah

Source link