Berita

Beda Anak-anak dengan Orang Dewasa dalam Ber-Tuhan

Al-Musthofa Publication Beda Anak-anak dengan Orang Dewasa dalam Ber-Tuhan

Jakarta, NU Online

Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU Prof H Agus Zainal Arifin menjelaskan analogi relasi anak-anak dengan orang dewasa dalam ber-Tuhan. Menurutnya, anak-anak berfokus pada pemberian, sedangkan orang dewasa fokus pada yang memberi.

 

Ia menggambarkannya dalam tulisan yang diunggah di laman Facebook, Jumat (6/8/2021).

 

“Seorang perempuan cantik jelita sedang membagi-bagikan permen. Sejumlah anak kecil berkumpul rebutan permen itu, sambil teriak-teriak khawatir tidak kebagian. Tapi di ujung sana ada seorang pemuda yang begitu tekun memperhatikan. Bahasa tubuhnya menunjukkan dia sedang terpesona oleh sesuatu. Pertanyaannya, pemuda itu apakah terpesona oleh permen ataukah terpesona oleh yang sedang membagikan permen?’” tulisnya.

 

Pasti semua sepakat, lanjutnya, bahwa pemuda itu sedang terpesona dengan yang membagikan permen. Bahkan dia rela tidak kebagian permen, meskipun itu permen mahal dan lezat sekalipun. Sebab dia lebih berharap kebagian yang membagikan permen. Apa pun yang dapat dilakukan pasti dia lakukan, asalkan berhasil disukai perempuan cantik tersebut.

 

Beda dengan anak-anak yang sedang berebut itu. Perhatian anak-anak hanya fokus kepada permennya dan sama sekali tidak perhatian kepada yang membagikan permen.

 

“Demikianlah perbedaan sifat anak-anak dan dewasa. Sifat kekanak-kanakan biasanya hanya fokus kepada pemberian Tuhan, dan tidak ingin mengenal dan mendekat kepada Tuhan yang memberi pemberian itu,” Kepala Pusat Kecerdasan Artifisial dan Teknologi Kesehatan, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya itu, mengiyaskan.

 

“Bila tumbuh semakin dewasa, maka fokusnya seharusnya akan berubah. Bukan lagi kepada pemberian, melainkan kepada Yang Maha Pemberi,” imbuhnya.

 

Bahkan ketika sudah sangat akrab dengan Yang Maha Pemberi, maka baginya tidak masalah mau diberi sebanyak apa pun atau sesedikit apa pun. Seandainya tidak diberi apa pun tidak akan pernah protes. “Sebab menurutnya, berhasil disukai Yang Maha Pemberi, itu saja sudah lebih dari cukup dibanding diberi dunia seisinya,” pungkasnya.

 

Dalam literatur klasik, kita juga mengenal kisah Nabi Muhammad SAW yang membagikan harta ghanimah kepada orang-orang yang baru masuk Islam. Sedangkan para sahabat yang sejak awal tidak mendapat jatah, malah justru tidak diberi.

 

Ada kisah yang hampir mirip tentang sebuah pemberian dengan yang memberi. Penulis keislaman NU Online, Sunatullah dalam tulisan Perang Hunain: 10 Pelajaran dan Hikmah Darinya, mengutip Syekh Said Ramadhan al-Buthi dalam kitabnya, Fiqhus Sirah Nabawiyah tentang keutamaan kaum Anshar dan kecintaan Rasulullah SAW terhadap mereka.

 

“Sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh al-Buthi, setelah semuanya selesai, Rasulullah membagi harta rampasan kepada semua sahabat. Namun, sahabat Anshar merasa iri ketika Rasulullah membagikan ghanimah kepada kaumnya (Quraisy). Mereka mengira bahwa Rasulullah lebih mencintai kaumnya daripada sahabat Anshar. Lalu, apa yang Rasulullah SAW sampaikan ketika mendengar masalah ini? Dalam khutbah, Rasulullah SAW memberikan jawaban atas semua persepsi yang membebani hati sebagian sahabat Anshar itu, dan sekaligus mencurahkan segala cinta yang begitu besar terhadap orang-orang Anshar,” tulis Sunatullah.


Dalam khutbah yang sama, lanjut dia, Rasulullah juga menunjukkan berbagai macam bukti yang beliau sampaikan kepada orang-orang yang amat beliau cintai, tetapi telah lupa akan cinta sang Rasul. 


Setelah mendengar khutbah Rasulullah, sahabat Anshar sadar, ternyata kelembutan, kepekaan, dan kasih sayang Rasulullah itu begitu menyentuh perasaan kaum Anshar, bahkan membuat perasaan mereka bergetar, dan selanjutnya suara tangis mereka meledak, tangis kebahagiaan dan haru yang mereka rasakan sekaligus.

 

Apalah arti harta dan rampasan perang dibandingkan keberadaan Rasulullah bersama mereka, ketika nanti mereka kembali pulang bersamanya ke kediaman mereka masing-masing untuk mencurahkan segala hidup dan matinya bersamanya. Bukti apa lagi yang dapat menunjukkan kesetiaan, cinta yang tulus, serta kasih sayang yang lebih kuat dibandingkan semua itu?

 

Rasulullah ternyata lebih senang meninggalkan tanah airnya dan menghabiskan hari-harinya bersama kaum Anshar. Lantas, bagaimana mungkin harta rampasan perang dapat menjadi tolok ukur kecintaan Rasulullah? 

 

Kontributor: Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Editor: Kendi Setiawan

 

Al-Musthofa Publication Beda Anak-anak dengan Orang Dewasa dalam Ber-Tuhan

Source link