Berita

Beriman dan Berpikir, Ciri Pembaruan Islam ala Cak Nur

Al-Musthofa Publication Beriman dan Berpikir, Ciri Pembaruan Islam ala Cak Nur

Jakarta, NU Online

Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) Gus Ulil Abshar Abdalla menyebutkan bahwa salah satu ciri dari pembaruan Islam yang dikemukakan oleh seorang pemikir Islam Nurcholish Madjid (Cak Nur) adalah beriman dan berpikir. Menurut Gus Ulil, dua fondasi dasar pembaruan Islam yang dikemukakan Cak Nur adalah mencintai agama sekaligus mencintai tradisi Islam sebagai pengetahuan.

 

“Karena saat ini saya melihat suatu gejala, meskipun bukan dominan, bahwa pembaruan (Islam) hanya dimaknai hanya sekadar mengritik pemikiran Islam atau bahkan mengritik Islam itu sendiri. Memang Cak Nur itu melakukan penafsiran ulang atas pemhaman Islam, tetapi fondasi dasarnya Cak Nur itu sebenarnya cinta kepada tradisi Islam dan kita merasakan itu,” kata Gus Ulil secara virtual, dalam diskusi menuju Haul ke-16 Cak Nur bertajuk Cak Nur dan Tradisi Intelektual Islam di Indonesia, pada Jumat (27/8/2021) malam. 

 

Gus Ulil memastikan bahwa Cak Nur memiliki satu cita-cita mengenai bentuk Islam yang ideal. Hal itu diimplementasikan dengan caranya mencintai Islam sangat dalam sekaligus menjalani tradisi pemikiran Islam. Ketika melakukan proses pembaruan Islam, Cak Nur memandang bahwa ada sesuatu yang bermasalah dalam model keberagamaan umat Islam, sehingga Cak Nur lantas mengajukan banyak kritik. 

 

“Tetapi sebenarnya di dalam kritik itu ada suatu komitmen keterikatan kepada iman yang begitu kuat. Bagi saya, fondasi pembaruan Islam yang di dalamnya ada unsur yang berkelindan yaitu kritik kepada pemahaman tetapi juga cinta kepada tradisi. Bagi saya itu perlu untuk dikemukakan kembali dan dikatakan secara eksplisit,” terang pengampu Ngaji Ihya Ulumiddin itu.

 

Gejala-gejala memprihatinkan

Saat ini, terdapat dua gejala yang memprihatinkan. Pertama, muncul skeptisisme yang luas pada agama sehingga melahirkan sikap agnotisisme. Sikap itu menjadi penyebab dari munculnya kelompok-kelompok radikal yang diinspirasikan oleh Islam, terutama melalui bentuknya yang paling vulgar yaitu Al-Qaeda dan ISIS. 

 

“Sekarang ini banyak orang yang mungkin nyaris hilang kepercayaan kepada agama, antara lain karena mereka melihat agama ini sudah susah diselamatkan. Saya memahami itu. Bahkan sekarang ada semacam frustrasi kepada agama yang dibentuk oleh keadaan gambaran tentang agama, terutama Islam yang (seolah) identik dengan ISIS, Al-Qaeda, dan sekarang dengan kemenangan Taliban di Afghanistan, juga diidentikkan dengan Talibanisme. (Seakan-akan) beragama itu ya seperti itu,” terang Gus Ulil. 

 

Ia menjelaskan, salah satu ciri komunikasi modern yang dimungkinkan saat ini adalah melalui media digital. Di dalam pola komunikasi modern ini, segala sesuatu yang vulgar, termasuk cara beragama seperti ISIS atau Al-Qaeda akan menarik perhatian media dan dengan mudah dikonsumsi oleh publik. 

 

“Sesuatu yang vulgar itu menarik perhatian, walaupun itu tidak mencerminkan realitas sesungguhnya di lapangan. Tetapi yang vulgar itu dianggap oleh manusia modern sekarang ini sebagai wakil dari seluruh keadaan yang ada. Nah sekarang, bentuk agama yang sangat vulgar ini menohok memori dan perhatian masyarakat modern yang mengonsumsi media digital,” tegas Gus Ulil. 

 

Itulah salah satu yang membuat persepsi bahwa agama sebagai masalah, muncul. Tak ayal, persepsi itu akhirnya menimbulkan rasa skeptisisme pada agama dan akan berlanjut kepada sikap agnostisisme, sebuah sikap yang memandang agama sebagai sesuatu yang tidak mungkin bisa diselamatkan. 

 

“Kita berhadapan dengan situasi semacam ini sehingga menurut saya agenda pembaruan itu sekarang mendapatkan tantangan yang serius. Karena orang-orang yang sampai pada kesimpulan ‘saya sudah kapok pada agama’, itu merasa atau melihat di dalam setiap tindakan pembaruan sebagai sesuatu yang sia-sia karena mereka trauma kepada agama yang direpresentasikan vulgar oleh semacam ISIS,” jelas menantu Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri itu.

 

Gejala kedua yang tidak menarik perhatian Gus Ulil adalah sebagian umat beragama yang ingin menjalankan perintah-perintah agama tetapi tidak melibatkan agama sebagai tradisi pemikiran. Kalangan seperti ini dinilai sebagai umat beragama yang hanya menghayati agama hanya sebatas objek keimanan. 

 

“Segala hal yang ditulis atas nama agama itu tidak boleh dipertanyakan. Itu juga kita lihat dan sekarang saya kira tren seperti ini dominan di publik Indonesia dan global. Segala hal yang ditulis atas nama Islam tidak boleh dikritik, tidak boleh ditentang sehingga agama tidak menjadi sebagai diskursus intelektual,” terangnya. 

 

Sebagai santri pondok pesantren pada era 1980-an, Gus Ulil mengaku diperkenalkan oleh Cak Nur sebuah konsep Islam yang tidak hanya sekadar objek keimanan tetapi juga sebagai tradisi intelektual pemikiran. Dua hal ini, kata Gus Ulil, saat ini sudah mulai hilang sehingga harus kembali menghidupkan pembaruan Islam. 

 

“Dinamika dalam (sebagian) masyarakat kita di Indonesia dan juga di tingkat global memandang Islam sebagai iman saja, sebagai sekumpulan doktrin yang tidak bisa dipersoalkan. Tidak ada sesuatu yang bersifat ilmu di situ. Sekalipun ada ilmu di situ maka ilmu yang tidak bisa diperdebatkan lagi,” katanya.

 

Dosen Fakultas Islam Nusantara di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta ini menganggap, dua situasi atau gejala masyarakat modern saat ini, yakni sikap trauma pada agama dan sikap beragama hanya sebatas doktrin menjadi masalah.

 

“Nah agenda pembaharuan Cak Nur pada tahun 1970-an dan 1990-an, itu menawarkan sesuatu yang saya anggap jalan tengah. Artinya, kamu bisa beriman sekaligus berpikir. Beriman tapi juga melibatkan tindakan untuk memberikan argumentasi-argumentasi pemikiran. Jadi, di sini ada satu tindakan yang berpikir dari dalam iman itu sendiri,” pungkas Gus Ulil.

 

Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Kendi Setiawan

Al-Musthofa Publication Beriman dan Berpikir, Ciri Pembaruan Islam ala Cak Nur

Source link