Maahad Al Musthofa Mobile

Malam kian dingin. Bintang-gemintang menghilang satu-satu. Kabut mulai menyelimuti pedukuhan kecil itu. Rumah anyaman bambu di ujung dukuh begitu lenggang. Suara malam bersahutan riuh dengan ku-ku­ burung hantu dari rumpun bambu di belakang rumah.

            Sarindi terbangun. Titik-titik keringat di dahinya satu-dua mulai meleleh. Wajah ayunya pucat dengan pandangan nanar. Baru satu jam dia terlelap, namun mimpi-mimpi itu hadir lagi. Desahan napas tertahan bercampur tetesan peluh dalam dinginnya udara malam, mengiringi gerakan ritmis dua insan yang coba menggapai nirwana. Sarindi begidik! Mengingatnya membuat tubuh dengan perut yang mulai membuncit itu bergetar. Dipeluknya tubuh berbalut daster itu. Begitu erat! Mencengkeramnya, berharap tubuh hina itu remuk tak bersisa. Dan air matanya pun ikut membanjir, menggigil, meraung dalam tangisan pilu tanpa suara. Satu lagi, malam-malam yang dia lalui dengan sejuta sesal.

            Keesokan harinya Sarindi berjalan ke rumah Sang Sesepuh di dampingi ibunya. Wajahnya begitu tenang meski kantung mata menggantung disana. Dia berjalan selangkah demi selangkah dengan seribu keyakinan yang tak tergoyahkan.

            Sutri memucat, gemetar menggandeng erat tangan anak semata wayangnya. Seolah dia tengah digiring ke tiang gantungan. Berkali-kali dia membujuk anaknya itu semenjak subuh-subuh tadi saat mengutarakan keputusannya. Namun sedikit pun anaknya tak goyah. Saat dia terpukul akan nasib anaknya dengan linangan air mata, suaminya hanya terdiam mendengar keputusan itu dan memutuskan pergi ke sawah lebih pagi tanpa sepatah kata.

            “Tidakkah kita pulang saja, Sarindi?”

            Sarindi tak menjawab. Langkah kakinya kian mantap. Lagi-lagi Sutri mengusap matanya yang sudah teramat sembab. Malu, marah, luka, sedih, kehilangan, semuanya campur aduk jadi satu. Masalah ini begitu membingungkan. Mau bagaimana lagi? Saat takdir sudah menggariskan seorang janda muda yang ditinggal mati suaminya yang mandul, tergoda janji-janji busuk pemuda tampan dukuh sebelah yang entah dimana sekarang dia berada!

            Sang Sesepuh di dalam kamar saat Drapto, salah seorang muridnya, mengetuk pintu kamar. Dengan langkah yang termakan usia, Sang Sesepuh menemui Sarindi dan Sutri yang tengah bersimpu di atas tikar pandan di ruang depan.

            “Sepagi ini, ada maksud apa kalian kemari?” tanya Sang Sesepuh dengan lantang setelah duduk bersila di depan mereka. Hati Sang Sesepuh amat janggal. Perasaan aneh tiba-tiba menerkamnya.

            Sarindi angkat bicara. Dengan begitu gamblang dia mengakui semua yang telah diperbuatnya pada Sang Sesepuh.

            Sang Sesepuh diam sejenak setelah mendengar penjelasan Sarindi, “Apa kau yakin?” Harusnya Sang Sesepuh tak perlu lagi bertanya. Dari tatapan mata Sarindi, caranya bertutur dan ketenangan yang menyelimutinya, dia tahu perempuan itu lebih dari sekedar yakin. Dia benar-benar siap.

            “Hari ini aku telah datang ke rumahmu, maka biarlah aku menjalani apa yang memang harus aku jalani!” ucap Sarindi mantap. Sutri hanya menunduk di sebelah Sarindi.

            “Baikllah! Sutri, jaga anakmu baik-baik. Saat waktunya tiba, bawalah dia kemari. Dan sekarang, pulanglah!”

            Sutri mengangangguk murung. Hari itu takdir telah mencatatnya untuk berjumpa dengan sebuah perpisahan.

            Waktu terus berlalu seiring dengan perut Sarindi yang makin membesar. Kabar itu sudah mulai menyebar. Sutri jadi jarang keluar rumah, tak tahan mendengar cemooh dan pertanyaan-pertanyaan menohok yang menusuk telinga. Sedangkan suami Sutri kini benar-benar menutup mata, telinga dan hatinya. Dia berangkat ke sawah tiap subuh dan pulang saat petang menjelang, seolah tak pernah terjadi apapun.

            Sarindi hanya berdiam di dalam rumah. Sesekali duduk-duduk di teras depan rumah. Hari-hari terasa amat lamban. Tiap detik yang berlalu membuat jantungnya berdetak lincah. Dia sudah tidak sabar lagi menunggu hari yang dinanti-nanti.

Malam itu tepat ketika bulan purnama bersinar terang bagai raja diatas singga sana. Dibantu Sutri, susah payah Sarindi melahirkan putranya. Dengan keringat yang masih menetes, Sarindi mencium bayi mungil yang dibaringkan di sampingnya.

            “Anak kamu ganteng, Sari!”

            Sarindi tersenyum. “Iya, bu. Beri nama dia “purnama”, bu! Karena dia begitu tampan, indah seperti bulan purnama!”

            Genap empat puluh hari setelah kehadiran Purnama, akhirnya Sutri akan benar-benar kehilangan dalam hidupnya. Suratan takdir benar-benar akan terjadi. Subuh-subuh dia melihat Sarindi memeluk erat Purnama dalam gendongannya. Sutri tahu, itu adalah hari terakhir Purnama bertemu ibunya, juga hari terakhir Sutri melihat wajah ayu anaknya.

            Pagi itu Sarindi sungkem pada kedua orang tuanya, mengutarakan seribu kata maaf dengan cucuran air mata. Setelah sekali lagi mencium putranya Sarindi benar-benar tak sabar lagi. Dengan tangan yang diikat menggunkan lengan bajunya, dia berjalan menyusuri jalanan pedukuhan diiringi kedua orang tuanya. Penduduk yang melihatnya langsung ikut mengiring Sarindi. Mereka tahu, ini adalah harinya, upacara adat akan segera dilaksanakan. Sebagian menggunjing, sebagian ikut berduka.

            Dengan iringan penduduk yang makin banyak, Sarindi sampai di rumah Sang Sesepuh. Mendengar keramaian, Sang Sesepuh keluar rumah. Kepada Drapto, Sang Sesepuh menyuruh untuk mengarak Sarindi ke lapangan dan menggali lubang sedalam dada disana. Tak perlu dua kali, Drapto segera menjalankan perintah.

            Pukul sembilan pagi. Seluruh penduduk berkumpul di lapangan, meninggalkan semua aktifitas untuk sebuah upacara adat. Di tengah lapangan Sarindi telah dikubur sebatas dada. Sang Sesepuh membuka upacara adat itu, penduduk berkerumun memutari Sarindi dengan jarak yang telah ditentukan, membawa bongkahan-bongkahan batu sekepalan tangan. Dan saat Sang Sesepuh memberi aba-aba, penduduk mulai melempari Sarindi dengan batu!

            Sutri menjerit, melengking tinggi ditengah keramaian, meronta-ronta dalam pelukan suaminya. Hatinya remuk melihat nasib anak semata wayangnya.

            Di sela jerit tangis Sutri dan gemuruh lemparan batu penduduk, Sarindi menunduk, begitu takzim merasai setiap jengkal rasa. Tanpa ada seorang pun yang tahu, Sarindi tersenyum begitu indah. Senyuman paling indah dalam hidupnya. Dia begitu bahagia. Akhirnya, hari yang dinanti-nanti telah tiba! Semerbak wewangian bunga menyusup kedalam hidungnya. Matanya menangkap cahaya putih yang menyilaukan. Sarindi menangis, sebuah senyuman dengan tangisan bahagia. Hari ini, dia benar-benar akan kembali, menginggalkan jeritan ibunya yang samar-samar menghilang dan bayangan sosok Purnama yang kian memudar.

            Malam harinya Sutri memeluk Purnama yang terlelap di pangkuannya. Menatap kosong jalanan gelap. Sesekali matanya basah, meratapi perpisahannya dengan Sarindi.

            Angin berhembus kian dingin membawa kabut malam. Langit tampak indah berhiaskan purnama. Namun, malam ini tak satu pun bintang-gemintang terlihat. Hanya purnama sendiri di atas sana yang bersinar. Sendirian. Dia benar-benar telah kehilangan bintang-gemintangnya![]

Penulis: San Bashori (Penulis adalah santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri sejak 2015 hingga sekarang).

Baca juga: Nasehat Hidup dalam Ilmu Nahwu.

Simak juga: Hakikat Ulama ; KH. Aziz Manshur

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link