Berita

Diaspora Santri Australia Diingatkan Harus Dapat Berkiprah di Bidangnya

Al-Musthofa Publication Diaspora Santri Australia Diingatkan Harus Dapat Berkiprah di Bidangnya

Perth, NU Online

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia dan Selandia Baru mengadakan Santri Australia Bertighosah pada Sabtu (9/10/2021) malam. Kegiatan yang bertepatan dengan 3 Rabiul Awal 1443 H ini merupakan rangkaian Peringatan Hari Santri dan Maulid Nabi Muhammad saw.


Kegiatan tersebut juga bekerja sama dengan pengurus Masjid Al-Lathief, Perth Western Australia.


Acara istighosah dipandu oleh Imam Masjid Ustad Mumu Mubarok Omo, yang sekaligus menjadi Mustasyar PCINU Australia dan Selandia Baru.


Dalam sambutan pembuka, ​​​Ketua PCINU Australia dan Selandia Baru, Yudi Maksum mengutip pesan dari Kiai Aziz Manshur. “Santri yang sudah pulang harus bisa seperti paku, qum khaistu aqamakum. Bertempatlah di mana engkau ditempatkan oleh Allah subhanahu wata’alaa.”

 

Maknanya, kata Yudi Makusm, jika santri ditempatkan menjadi petani, harus ridha dan nerimo. Mungkin ilmunya untuk ngurusi para petani. “Jika santri ditempatkan di Australia baik itu sebagai TKI, mahasiswa, penduduk tetap di Australia, ya tetap disyukuri dan dijalani dengan kelapangan hati,” ujarnya.

 

“Sebagai santri apa yang ditakdirkan oleh Allah ‘azza wajalla itu adalah sebuah kehendak dan qudrah yang dinashkan dalam Al-Qur’an, insyaallah qadirun ‘ala kulli syaiin. Allah berkuasa atas segala sesuatu. Dalam rukun iman pun kita diwajibkan untuk mengimani takdirullah ini bi khairihi wa sharrihi. Dengan kebaikan dan keburukan. Jadi nasib para santri yang bertebaran di negeri Kanguru adalah semata-mata kehendak dan takdir Allah,” paparnya.

 

Sebagai Nahdliyin, Yusdi Maksum masih mengaku sebagai santri yang tetap takdzim kepada para kiai-kiai NU dan menjadi santrinya Mbah Hasyim Asy’ari untuk ngurip-nguripi NU di Negeri Australia. Santri, menurutnya ada beberapa jenis. Pertama adalah santri pondokan. Santri yang satu ini makan dan minumnya berada di pondok pesantren.

 

“Santri pondok biasanya sejak bangun tidur sampai balik tidur lagi berkutat di lingkungan pondok. Mereka hanya keluar pondok di waktu tidak ngaji,” ujarnya.

 

Kedua, santri kalongan atau santri kelelawar, yaitu santri yang tidak hidup di pondok tetapi menghisap ilmu di pondok untuk ngalap berkah ilmu kiai pondok. Biasanya santri kelelawar ini mengaji ke pondok bakda maghrib dan bakda subuh di pondok-pondok pesantren yang ada di kampung-kampung.

 

“Yang ketiga, santri madrasah, yaitu santri yang masuk sekolah-sekolah madrasah sore sepulang sekolah Pendidikan umum di pagi hari,” lanjutnya. 

 

Yusdi Maksum menjelaskan pada usia sekolahnya dia mengalami kehidupan sebagai santri madrasah dan santri kalongan. Sementara di waktu kuliah, ia sempat mengenyam Pendidikan pondok pesantren di Yogyakarta.

 

Sebagai ciri-ciri santri yang utama adalah sifat tawadu terhadap para kiai dan alim ulama terutama guru-guru yang telah berjasa mendidik para santri, sehingga mereka bisa menjadi seperti saat ini. Para santri senantiasa menjunjung prinsip alakhlaqu ‘ala ‘ilmi (ahlak itu lebih tinggi dari ilmu).

 

“Sepintar-pintarnya seorang santri atau sealim-alimnya seorang santri masih harus tetap hormat terhadap guru-gurunya. Ilmu seorang santri tidak akan berkah kalau tidak mampu menghormati para kiainya,” tegasnya.

 

Dalam kesempatan itu pula, Yudi mengatkan jika belajar ilmu agama hendaknya melalui seorang guru agama yang mumpuni dan sanadnya jelas. Karena agama tidak bisa hanya dipelajari lewat buku atau internet, terutama dari sumber medsosisiah (media sosial belaka).

 

“Man ta’allama bila syaikhin fa syaikhuhu syaitaan. Barangsiapa belajar agama tanpa seorang guru, maka gurunya itu syaitan. Ilmu agama yang didapat dari seorang guru akan kaya dengan akhlak, ikhwal, perilaku, asbal mas’alah dan lain sebagainya,” ujarnya.

 

Sebelumnya Yudi Maksum juga mengingatkan di bulan Rabiul Awwal adalah bulan kelahiran Rasullulah Muhammad saw. Hendaknya umat Islam merasa bersyukur suka cita akan kelahiran Nabi di akhir zaman ini dengan memperbanyak shalawat kepada beliau, menambah kecintaan dan pengetahuan tentang sirah Nabi Muhammad saw.

 

Kegiatan Santri Diaspora Australia Beristighosah ini dihadiri oleh para santri dan participan yang bersebar di beberapa kota di Australia seperti Sydney, Brisbane, Perth, Melbourne Adelaide, Jakarta, bahkan ada santri dari Hong Kong yang ikut pergabung melalui Zoom dan disiarkan di TVNU. 


Editor: Kendi Setiawan

Al-Musthofa Publication Diaspora Santri Australia Diingatkan Harus Dapat Berkiprah di Bidangnya

Source link