Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Dikotomi Muslim baik dan Muslim tidak baik berkembang di dunia Barat. Guru Besar Universitas Chuo, Tokyo, Jepang Hisanori Kato menyebut hal ini merupakan sesuatu yang berbahaya bagi perkembangan Muslim.


“Di dunia Barat, ada Muslim yang baik, ada Muslim yang tidak begitu baik. Itu menurut saya berbahaya,” katanya dalam kegiatan Bedah Jurnal Islam Nusantara Edisi Kedua dan Diskusi Moderasi Beragama yang digelar Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di Kampus Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta, Kamis (15/4).


Di sinilah, menurutnya, penting untuk penyelenggaraan diskusi antarmuslim yang keras dan moderat, juga dengan antarumat beragama. Sebab, perbedaan pandangan merupakan keniscayaan yang tidak bisa dinafikan. Kato mengaku kagum dengan Gus Dur dan Abu Bakar Ba’asyir yang saling menghormati pandangan masing-masing meskipun berseberangan.


“Saya sangat terkesan saat itu. Satu hal yang saya ingin saya tunjukkan,” kata pria yang menamatkan studi magister dan doktornya di Australia itu.


Mengutip pernyataan Gus Ulil Abshar Abdalla, ia menyampaikan bahwa keindahan Islam itu dapat dilihat dari sejarahnya yang penuh dengan ketidaksetujuan. Diskursus Islam Nusantara yang menjadi perdebatan juga, menurutnya, dapat menjadi contoh bagi dunia.


“Saya kira, bisa diskusi dengan orang tidak menerima Islam Nusantara. Islam Nusantara juga menjadi tempat diskusi. Ini bisa menjadi contoh di dunia. Ini sangat penting,” katanya.


Lebih lanjut, Kato menjelaskan bahwa agama sangat dipengaruhi oleh lingkungan, sejarah, dan pola pemikiran. Ia mencontohkan agama Buddha yang dibawa 2.500 tahun lalu dan Nasrani yang dibawa Yesus masih sama dengan sekarang. Hal tersebut menjadi sebuah pertanyaan.

 

“Itu berarti bahwa Islam Nusantara sangat memperlihatkan makna gerakan agama di Indonesia,” katanya.


Senada dengan Kato, Guru Besar Universitas Emori, Amerika Serikat, James B. Hosterey juga menyampaikan bahwa istilah Muslim baik dan tidak baik berkembangan di Barat. “Mereka selalu mencari Muslim baik. Dengan membuat gagasan Muslim baik, selalu ada di belakang yang namanya teroris ekstremis,” katanya.


Oleh karena itu, diplomasi soft power Islam Nusantara, menurutnya, penting untuk terus digaungkan. Selama ini, NU terus berupaya melalui keikutsertaannya dalam berbagai kesempatan di luar negeri dan penyelenggaraan forum internasional untuk mengampanyekan Islam Nusantara, seperti ISOMIL tahun 2016.


“Kalau Jurnal Islam Nusantara akan makin menarik artikel yang berkualitas tinggi, maka Islam Nusantara harus menjadi objek studi,” ujarnya.


Jurnal Islam Nusantara ini tersedia secara daring dalam format PDF. Jurnal ini dapat diunduh secara gratis melalui laman berikut http://journal.unusia.ac.id/index.php/ISLAMNUSANTARA


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link