Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Indonesia dikejutkan dengan aksi teroris dalam beberapa hari terakhir. Rabu (31/3) sore, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) di Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan diserang oleh seorang perempuan tak dikenal yang diduga teroris pada. Sebelumnya, pada Minggu (28/3) pagi, sepasang suami istri melakukan aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar.

Seorang mantan kombatan yang menjadi salah satu tokoh pelatihan teroris kelompok Jamaah Islamiyah (JI) Munir alias Abu Rimba adalah mengatakan bahwa tindakan tersebut sebagai tindakan konyol. Ia dengan tegas mengatakan cara-cara seperti bom bunuh diri itu salah besar. Menurutnya langkah seperti ini hanya ingin mencari perhatian. 

Ia juga menilai, pemahaman pelaku sudah jauh dari hakikat agama Islam itu sendiri yaitu Islam rahmatan lil alamin. Ia yakin kalau mereka paham dengan Islam rahmatan lil alamin, dia tahu hukumnya melakukan tindakan bom bunuh diri.

“Kalau pendapat saya, tindakan begitu jelas salah. Dosa besar itu kita membunuh orang yang nggak mendzalimi kita. Kecuali kalau orang itu sudah mengganggu kita, sudah menzalimi umat Islam,” kata Abu Rimba dalam pernyataan yang diterima NU Online, Rabu (31/3).

Abu Rimba mengungkapkan, dulu ia masuk ke jaringan teroris berawal dari niatnya menjadi relawan pergi membela Palestina yang ditindas Israel tahun 2008. Saat itu, dari selebaran yang ia dapat, ia tahu FPI butuh relawan untuk ke Palestina. Ia pun ikut tes dan pelatihan di FPI di Aceh Utara.

Setelah latihan fisik di Lhokseumawe, agar bisa mengikuti pelatihan sesuai selebaran ia dapat. Singkat kata, ia pun berangkat ke Jakarta untuk bergabung dan persiapan berangkat ke Palestina. Namun cita-citanya tidak terwujud karena ia gagal berangkat. Beberapa kali ia menanyakan keberangkatannya ke para pengurus FPI di Petamburan, tapi jawabannya tidak jelas. Ia kemudian diminta menunggu dan stand by di Bogor, juga tidak mendapat kepastian.

Abu Rimba akhirnya memutuskan pulang ke Aceh. Dari situlah yang dikontak Yudhi Zulfahri untuk menyiapkan lahan pelatihan dan menjemput beberapa tokoh JI yang akan menggelar pelatihan di Aceh. Yudhi Zulfahri mahasiswa STPDN yang bergabung dengan JI dan ikut pelatihan di Jalin Jantho. Dari situlah akhirnya, Abu Rimba berkenalan dengan beberapa tokoh JI, salah satunya Dulmatin.

Sebelumnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau kepada seluruh pihak untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan tidak perlu takut terhadap aksi teror. Sebab target utama terorisme adalah menebar rasa takut. Karenanya, terorisme harus dilawan bersama.

“Mari kita lawan bersama. Mari kita tidak takut kepada teror. Karena target utama terorisme adalah rasa takut. Rasa takut itu jika tidak terkelola akan membuat kekacauan dan instabilitas. Kita tetap tidak takut,” tegas Ketua PBNU H Robikin Emhas.

Ia menegaskan, tidak ada landasan teologis untuk melakukan jihad di Indonesia. Sebab Indonesia merupakan Darussalam (negara damai) bukan darul kuffar (negara kafir). Menurutnya, Indonesia didirikan atas dasar kesepakatan para pendiri negara sebagai sebuah muahadah wathaniyah (kesepakatan berbangsa).

“Negara ini sah dalam pandangan Islam. Oleh karena itu, siapa pun yang melakukan tindak kekerasan apalagi melakukan teror dengan mengatasnamakan agama, saya pastikan itu bukan ajaran agama. Agama sekali lagi, tegas, melarang seseorang melakukan tindak kekerasan, apalagi aksi teror,” pungkas Robikin.

Editor: Ahmad Rozali

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link