Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Di bulan suci Ramadhan, orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala yang besar. Bahkan ada sebuah hadist pun disebutkan bahwasanya tidurnya seorang yang berpuasa adalah ibadah.

 

Meluruskan hadist tersebut, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf mengatakan tidur yang bernilai ibadah bukan berarti tidur dalam seharian penuh. Melainkan, orang yang tidur dalam rangka untuk tidak berbuat maksiat.

 

“Dan, tidurnya orang yang berpuasa ini betul-betul dijaga, sebagaimana cara tidurnya Rasulullah SAW,” kata Habib Syech dalam tayangan video Kultum Hukum Tidur di Bulan Puasa yang diunggah Senin (20/4) malam. 

 

“Ada orang yang tidur sedari ia bangun sahur sampai menjelang Maghrib. Yang dimaksud dalam hadist tersebut bukan tidur yang semacam ini, itu memang tidurnya orang pemalas,” Pengasuh Majelis Ahbaabul Musthofa itu menjelaskan.

 

Adapun maksud dari tidur yang bernilai ibadah, menurut Habib Syech dalam video berdurasi 22 menit 21 detik tersebut, adalah tidurnya seorang yang lelah setelah ia beribadah; usai melaksanakan shalat, membaca Al-Qur’an, ataupun melakukan kebaikan lainnya. Karena kelelahan dirinya dalam ibadah tadi, lalu ia tidur sesaat untuk beristirahat (melepas lelahnya), maka hal itu akan dihitung sebagai ibadah.  

 

“Dengan tujuan supaya tidak ngrasani (membicarakan kejelekan) orang, tidak mengumpat orang lain, dan tidak berbuat kemaksiatan. Karena orang ini hobinya ibadah, maka insyaallah tidur tersebut termasuk ibadah,” ujar Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah itu.

 

Lebih lanjut, Habib yang gemar bershalawat itu berharap, mudah-mudahan tidur kita di malam hari untuk menanti sahur, setelah usai melaksanakan shalat tarawih dan membaca Al-Qur’an juga dihitung oleh Allah sebagai ibadah.

 

Jika tidur kita setelah melakukan ibadah, insyaallah akan dihitung sebagai ibadah pula. Namun, jika tidur kita setelah melakukan kemaksiatan ataupun suatu perbuatan yang tidak bermanfaat, maka tidak akan dihitung sebagai ibadah.

 

“Insyaallah kita semua menjadi orang-orang yang dihitung oleh Allah SWT. Semua kegiatan yang kita lakukan menjadi suatu ibadah; baik tidur kita, diamnya kita, maupun dalam jaga kita,” demikian penjelasan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf.


Amalan-amalan sunnah di bulan Ramadhan

Pada artikel NU Online: 10 Amalan Sunnah dalam BerpuasaUstadz M Tatam Wijaya mengupas amalan-amalan yang disunnahkan dalam bulan Ramadhan. Ia mendasarkan Kitab Nihâyah al-Zain fî Irsyâd al-Mubtadi’in karya Syekh Muhammad ibn ‘Umar Nawawi al-Bantani. Adapun amalan-amalan tersebut adalah

Pertama, makan sahur. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW pada hadist yang diriwayatkan Al Bukhari, yang artinya “Bersantap sahurlah kalian, karena dalam sahur itu ada keberkahan.”


Aktivitas sahur sendiri tercapai dengan menyantap sesuatu walaupun hanya sedikit atau hanya seteguk air. Waktunya adalah selepas tengah malam. Utamanya, ia diakhirkan selama tidak sampai masuk waktu yang diragukan: apakah masih malam atau sudah terbit fajar.

 

Kedua, menyegerakan berbuka sebelum shalat Maghrib. Ketiga, membaca doa yang ma‘tsur sebelum atau setelah berbuka.

Keempat, mandi besar dari junub, haid, atau nifas sebelum terbit fajar agar bisa menuanikan ibadah dalam keadaan suci, di samping khawatir masuk air ke mulut, telinga, anus, dan sebagainya jika mandi setelah fajar. Kendati tidak bersedia mandi seluruh tubuh sebelum fajar, hendaknya mencuci bagian-bagian tersebut (yang sekiranya rawan masuk air) disertai dengan niat mandi besar.   

 

Kelima, menahan lisan dari perkara-perkara yang tak berguna, apalagi perkara haram, seperti berbohong dan mengumpat. Sebab, semuanya akan menggugurkan pahala puasa.  

 

Keenam, menahan diri dari segala hal yang tak sejalan dengan hikmah puasa, meskipun itu tidak sampai membatalkan, seperti berlebihan dalam mengadakan makanan atau minuman, bersenang-senang dengan perkara-perkara yang sejalan dengan keinginan dan kepuasan nafsu, baik yang didengar (seperti musik), ditonton, disentuh, diraba, dicium, dan sebagainya. Sebab semua itu tak seiring dengan hikmah dari ibadah puasa.   

 

Ketujuh, memperbanyak sedekah, baik kepada keluarga, kaum kerabat, maupun tetangga. Berilah mereka makanan secukupnya. Kendati tidak ada, jangan sampai luput walau hanya seteguk air atau sebiji kurma. 

 

Selain itu, juga sebaiknya memperbanyak baca Al-Quran, belajar Al-Quran, menuntut ilmu, berdzikir, berbuat baik di mana pun, walaupun saat berada di jalan. Dasarnya adalah Rasulullah SAW selalu memeriksa hapalan Al-Qur’annya kepada malaikat Jibril setiap malam di bulan Ramadhan. 

 

Kedelapan, memperbanyak i’tikaf di masjid. Kesembilan, mengkhatamkan Al-Quran setidaknya sekali selama bulan Ramadan. Kesepuluh, istiqamah dalam menjalankan amaliah Ramadhan dan melanjutkan amaliah-amaliah tersebut di bulan-bulan berikutnya.

 

Kontributor: Disisi Saidi Fatah

Editor: Kendi Setiawan

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link