Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Dai kondang KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) mengatakan, Nabi Adam AS tercipta dari tanah yang dalam bahasa Arab bernama ardlun. Kata ini, menurut Gus Miftah memiliki asal kata yang sama dengan ridha. Hikmah dari diciptakannya manusia dari tanah ini bertujuan agar manusia belajar dari sifat tanah yang selalu mengalah. 


“Ia diinjak tidak pernah berontak. Ia dikencingi tidak pernah emosi. Namun, didiamkan saja tanah semakin lama harganya kian mahal,” jelasnya saat memberi mauidzah hasanah pernikahan pasangan selebriti Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah di Jakarta, Sabtu (3/4).


Sementara perempuan, lanjut Gus Miftah, diciptakan dari tulang rusuk bagian kiri yang posisinya dekat dengan jantung dan hati. Karena, pada dasarnya wanita suka disayangi dan dicintai. Allah tidak menciptakan wanita dari tulang kaki agar tidak diinjak-injak. Tidak juga diciptakan dari tulang kepala agar wanita tidak menginjak-injak lelaki. 


Menurut Gus Miftah, setiap pasangan harus bisa memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap pasangan tidak boleh memaksa pasangannya untuk sempurna dan tidak memiliki kesalahan seperti malaikat.


“Pasangan kita bukan malaikat. Pasangan kita bukan setan. Pasangan kita bukan hewan. Artinya, tetaplah menjadi manusia yang kadang benar, kadang salah. Ketika ada kesalahan, kita mampu untuk memaafkan,” jelasnya.


Menurut pria kelahiran Lampung, 5 Agustus 1981 ini, memaafkan memang tidak menghapus masa lalu. Akan tetapi, sikap tersebut bisa dipastikan memperindah masa depan.  


Ia juga mengingatkan kepada para suami untuk senantiasa memuliakan istri, karena tidaklah seorang lelaki memuliakan perempuan kecuali ia merupakan pribadi yang mulia. Sebaliknya, tidaklah seorang lelaki yang menghinakan perempuan kecuali dirinya juga orang yang terhina.


Sementara untuk para istri, Gus Miftah berpesan bahwa lelaki adalah pemimpin atau imam bagi perempuan. “Suami yang baik akan mendengarkan pendapat istrinya. Istri yang baik mendapatkan banyak pendapatan dari suaminya,” katanya disambut senyum yang hadir.


Gus Miftah pun menjabarkan kepanjangan dari kata ‘istri’ yakni istana tempat ridha ilahi dan ‘suami’ yakni surga untuk anak maupun istri. Oleh karenanya, ia berpesan untuk tidak mencari pasangan yang sempurna, tapi untuk senantiasa menerima pasangan dengan sempurna.


“Lebih baik memilih pasangan yang sederhana namun menyenangkan, daripada terlihat sempurna tapi menyusahkan,” tegas Gus Miftah pada acara akad pernikahan yang dihadiri Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ini.


“Nikah itu senang, tapi jangan senang menikah,” pungkas kiai muda NU yang memiliki selera humor tinggi ini.


Pewarta: Muhammad Faizin

Editor: Musthofa Asrori

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link