Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) berharap, peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) setiap tanggal 26 April dimanfaatkan untuk merefleksikan dampak kejadian bencana yang terjadi di Indonesia.

 

Ketua LPBI NU M Ali Yusuf mengatakan, budaya sadar risiko bencana dan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana masih menjadi PR besar bangsa Indonesia.

 

“Kita semua mengetahui betapa besar dan luas dampak dari beberapa kejadian bencana terakhir yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Jumlah korban yang sangat banyak khususnya korban jiwa, kerusakan yang masif yang tentunya menyebabkan kerugian yang besar khususnya bagi masyarakat di daerah terdampak bencana,” ujar Ali di kantor PBNU Jakarta, Senin (26/4).


Menurut Ali, HKB 2021 harus menjadi momen penting bagi seluruh komponen bangsa untuk berupaya selalu menumbuhkan budaya sadar risiko bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan bencana.

 

“LPBI NU sendiri sebagai lembaga yang concern dalam penanggulangan bencana dan perubahan iklim selama ini telah mengembangkan beragam upaya yang terangkum menjadi empat hal pokok, pertama mengenali ancaman, mengurangi risiko, meningkatkan kesiapsiagaan dan menghadapi setiap ancaman bencana. Upaya tersebut dilakukan di antaranya melalui Santri Siaga Bencana dan Santri Tangguh Bencana,” ungkapnya.

 

Selain itu, kata Ali, sebagai rangkaian peringatan HKB tahun 2021, LPBI NU juga menggelar webinar ‘Refleksi Kesiapsiagaan Bencana di Daerah Terdampak Bencana, dan webinar yang akan membahas kajian fikih penanganan sampah plastik.

 

“LPBI NU mengintruksikan kepada seluruh pengurus cabang dan wilayah yang ada di Indonesia untuk bersama-sama merefleksikan peringatan HKB dan memberikan edukasi terkait kesiapsiagaan masyarakat tentang bencana di daerahnya masing-masing,” paparnya.

 

Ali menambahkan, LPBI NU juga akan menggandeng sejumlah tokoh agama untuk bersinergi mensosialisasikan tentang budaya sadar bencana melalui pendekatan keagamaan.

 

Untuk diketahui, HKB pertama kali dicetuskan pada tahun 2017, merupakan Inisiasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang diperingati pada 26 April setiap tahunnya, dengan tujuan membudayakan latihan secara terpadu, terencana dan berkesinambungan guna meningkatkan kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menuju Indonesia Tangguh Bencana.

 

HKB tahun ini menggunakan slogan ‘Siap untuk Selamat’ serta mengusung tema Latihan Membuat kita Selamat dari Bencana dengan empat hal yang perlu dilakukan. Pertama, mengenali ancaman bencana yang ada di sekitar. Kedua, mengenali risiko bencana. Ketiga, mengetahui tempat evakuasi. Keempat, pelatihan menghadapi bencana bersama keluarga.

 

Kontributor: Anty Husnawati

Editor: Kendi Setiawan

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link