Berita

Imam Abu Hanifah Khatamkan 60 Kali Al-Qur’an Saat Ramadhan

Al-Musthofa Publication Imam Abu Hanifah Khatamkan 60 Kali Al-Qur’an Saat Ramadhan

Imam Abu Hanifah adalah seorang mujtahid besar. Pendiri Mazhab Hanafi, satu dari empat mazhab fiqih Islam. Nama lengkapnya adalah Abu Hanifah al-Nu’mân bin Tsâbit (w. 150 H).


Menurut Imam al-Dzahabi, Abu Hanifah termasuk dalam kalangan tabi’in karena ia berjumpa dengan Sayyidina Anas bin Malik (annahu ra’a anas bin mâlik) sebagaimana perkataannya:


حَدَّثَنَا سَيْفُ بْنُ جَابِرٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا حَنِيفَةَ يَقُولُ: رَأَيْتُ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ


Artinya, “Saif bin Jâbir bercerita, sesungguhnya ia mendengar Abu Hanifah berkata: “Aku berjumpa dengan (Sayyidina) Anas radhiyallahu ‘anhu.” (Imam Abu ‘Abdillah Muhammad al-Dzahabi, Manâqib al-Imâm Abî Hanîfah wa Shâhibaihi Abî Yûsuf wa Muhammad bin al-Hasan, Hyderabad: Lajnah Ihya al-Ma’arif al-Nu’maniyyah, tt, halaman 14).


Ia memiliki wajah yang tampan, selalu berpakaian rapi dan harum (jamîlal wajhi sariyyats tsaubi, ‘athiran). Meski demikian Imam Abu Hanifah terkenal dengan ketakutan yang sangat karena Allah kepada hal-hal yang haram. (Al-Dzahabi: 14-18).


Imam Abdullah bin Mubarak mengatakan:


مَا رَأَيْتُ رَجُلًا أَوْقَرَ فِي مَجْلِسِهِ، وَلا أَحْسَنَ سَمْتًا وَحِلْمًا مِنْ أَبِي حَنِيفَةَ


Artinya “Aku tidak melihat seseorang yang lebih mulia (atau menyejukkan) dalam majlisnya, dan tidak (pula aku melihat orang) yang lebih bagus sambutan dan kesantunannya dari (Imam) Abu Hanifah.” (Al-Dzahabi: 18)


Selain kesantunan dan wibawa, Imam Abu Hanifah terkenal sangat dermawan, apalagi jika berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Menurut cerita cucunya, Isma’il bin Hammad, Imam Abu Hanifah tak segan memberikan uang yang banyak untuk guru anaknya. Ia bercerita:


عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ حَمَّادِ بْنِ أَبِي حَنِيفَة, قَال: لَمَّا حَذِقَ أَبِي حَمَّادٌ قِرَاءَةَ الْفَاتِحَةِ، أَعْطَى أَبُو حَنِيفَةَ الْمُعَلِّمَ خَمْس مِائَة درْهَمٍ


Artinya “Dari Isma’il bin Hammad bin Abi Hanifah, ia berkata: “Saat ayahku, Hammad, sudah (cukup) terampil membaca al-Fatihah, (kakekku) Abu Hanifah memberi guru (ngajinya) lima ratus dirham.” (Al-Dzahabi: 18).


Imam Abu Hanifah selalu mengisi waktunya untuk mengajar. Bahkan, salah seorang karibnya, ahli hadits yang terkenal ketsiqqah dan keadilannya, Imam Mis’ar bin Kidam (w. 153 H) menyaksikan sendiri kesibukan Abu Hanifah dalam berbagi ilmu. Saat ia mendatangi masjidnya Imam Abu Hanifah, ia melihatnya sedang shalat subuh, kemudian membuka majlis ilmu sampai waktu dhuhur. Setelah selesai shalat, ia kembali membuka majlisnya sampai ‘ashar, kemudian membuka majlisnya kembali sampai hampir maghrib. Begitu seterusnya sampai waktu ‘isya, dan itu dilakukan setiap hari. (Sayyid ‘Afîfi, Hayâh Abî Hanîfah, Kairo: al-Mathba’ah al-Salafiyyah, halaman 67-68). Abu al-Walid berkata:


ما رأيت أحرص منه علي علم يعمل به ويعلّمه الناس


Artinya “Aku tidak melihat (orang) yang lebih peduli darinya tentang ilmu yang diamalkan dan yang diajarkan kepada manusia.” (‘Afîfi: 69)


Usahanya menjaga adab juga sangat terkenal, baik di saat sunyi maupun ramai. Artinya, Imam Abu Hanifah menampakkan dirinya secara konsisten, baik saat ia sendirian ataupun di saat ia bersama-sama orang lain. Ia bahkan tidak pernah menyelonjorkan kakinya di saat sepi (sendirian). Katanya, “ri’âyatul adab minallahi awlâ” (menjaga adab kepada Allah jauh lebih utama). (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliyâ’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 261-262).


Banyak sahabat atau muridnya yang mendampinginya berbulan-bulan menyaksikan hal yang sama. Imam Abu al-Juwairiyah mengatakan:


لقد صحبته ستة أشهر: فما رأيته وضع جنبه فيها علي الأرض


Artinya “Sungguh aku telah menemaninya selama enam bulan. (Selama itu) aku tidak (pernah) melihatnya meletakkan sisi (perut)nya  di atas bumi (tiduran).” (‘Afîfi: 68)


Imam Abu Hanifah adalah orang yang wara’, bertakwa dan bersikap sangat baik terhadap teman dan saudara-saudaranya (mufdlilan ‘alâ ikhwânihi). Ia dijuluki al-watad (pasak) karena banyak melaksanakan shalat. Menurut penuturan Imam Abu Yusuf, ia mengkhatamkan al-Qur’an di setiap malam dalam satu rakaat. Katanya:


كَانَ أَبُو حَنِيفَةَ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ فِي رَكْعَةٍ


Artinya “(Imam) Abu Hanifah mengkhatamkan al-Qur’an di setiap malam dalam satu rakaat.” (al-Dzahabi: 21).


Jika di malam-malam biasa saja Imam Abu Hanifah mengkhatamkan al-Qur’an secara penuh, tentu ia tidak akan melewatkannya saat Ramadhan tiba. Diriwayatkan oleh Yahya bin Nashr bahwa Imam Abu Hanifah mengkhatamkan al-Qur’an sampai enam puluh kali selama Ramadhan. Ia berkata:


رُبَّمَا خَتَمَ أَبُو حَنِيفَةَ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ سِتِّينَ مَرَّةً


Artinya “Kerap kali (Imam) Abu Hanifah mengkhatamkan Al-Qur’an enam puluh kali di (bulan) Ramadhan.” (al-Dzahabi: 23).


Di riwayat lain, Ali bin Zaid mengatakan:


رأيت أبا حنيفة ختم القرآن في شهر رمضان ستين ختمة: ختمة بالليل وختمة بالنهار


Artinya “Aku melihat (Imam) Abu Hanifah mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan (sebanyak) enam puluh kali: khatam (satu kali) di malam hari, dan khatam (satu kali) di siang hari.” (‘Afîfi: 68-69)


Di sepuluh hari terakhir Ramadhan, Imam Abu Hanifah tetap menyibukkan diri membaca al-Qur’an, ditambah dengan menyedikitkan ucapannya. Bayangkan saja, Imam Abu Hanifah yang sudah sangat terkenal pendiam, menjadi lebih pendiam di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Muhammad bin Jabir menggambarkan pribadi Imam Abu Hanifah dengan mengatakan:


كانَ أَبُو حَنِيفَةَ قَلِيلَ الْكَلامِ إِلا بِمَا يُسْأَلُ عَنْهُ، قَلِيلَ الضَّحِكِ كَثِيرَ الْفِكْرِ


Artinya “(Imam) Abu Hanifah adalah orang yang sedikit bicara kecuali pada hal yang ditanyakan kepadanya, sedikit tertawa (dan) banyak berpikir.” (al-Dzahabi: 18).


Di saat-saat akhir Ramadhan, Imam Abu Hanifah lebih menyedikitkan lagi ucapannya. Ia mendedikasikan dirinya dalam ibadah kepada Allah. Abdullah bin Labid mengatakan:


كان أبو حنيفة إذا دخل شهر رمضان نفرغ لقراءة القرآن, فإذا كان العشر الأواخر فقليل ما يوصل الي كلامه


Artinya “(Imam) Abu Hanifah saat bulan Ramadhan masuk ia membaktikan (dirinya) untuk membaca al-Qur’an. Ketika Ramadhan (memasuki) sepuluh hari terakhir, ia sangat jarang berkata-kata.” (Imam Abu ‘Abdillah Husain bin Ali al-Shaimari, Akhbâr Abî Hanîfah wa Ashhâbihi, Beirut: ‘Alam al-Kutub, 1985, hlm. 57)


Imam Abu Hanifah membuktikan bahwa mengajar dan beribadah dengan tulus tanpa pamrih, mengharumkan namanya sampai sekarang. Sudah 1.000 tahun lebih ia wafat, tapi orang-orang masih sering menyebut, menulis, mengkaji dan menceritakan kisah-kisahnya, dan mungkin akan terus terjadi selama 1.000, 2.000 atau 3.000 tahun lagi. Jejak yang ditinggalkannya akan terus menjejak dan menapak, berjalan dan berlari melintas waktu demi waktu.

Wallahu a’lam bis shawwab…


Ustadz Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah.

Al-Musthofa Publication Imam Abu Hanifah Khatamkan 60 Kali Al-Qur’an Saat Ramadhan

Source link