Maahad Al Musthofa Mobile

Rembang, NU Online

Jejak prajurit Pangeran Diponegoro dapat ditemukan di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Namun, tidak mudah untuk tiba ke sana. “Dari pusat Kota Lasem harus melewati jalan sepi sekitar tiga kilometer. Di sisi utara jalan, terdapat bukit dan lembah yang rimbun yang tampak begitu indah terlihat,” kata pegiat sejarah asal Lasem, Rembang, Abdullah Hamid, Jumat (26/2).

 

Menurut Abdullah Hamid, dari lokasi tersebut, peziarah perlu menaiki kaki pegunungan yang agak curam sejauh dua kilometer hingga sampailah pada makam Raden Panji Kamboro, prajurit Pangeran Diponegoro. Lokasinya di Desa Criwik Kecamatan Pancur yang dahulunya masuk Kecamatan Lasem. Di sebelahnya terdapat pohon jati dan beringin ganggang besar besar berusia sangat tua.

 

“Informasi makam itu berdasarkan Kitab Carita Lasem. Kitab tersebut digubah oleh Raden Panji Kamzah pada tahun 1787 tahun Jawa atau 1858 tahun Masehi dalam aksara dan bahasa Jawa (ha-na-ca-ra-ka) yang makamnya di Desa Dorokandang,” kata Abdullah Hamid.

 

Ia meneruskan, alih aksara ke dalam aksara latin dilakukan oleh Raden Panji Karsono, Modine Wong Jawa lan Cina sa-Lasem, dengan menjiplak kitab tersebut yang telah usang dan compang-camping, menyebut peninggalan ayahnya, yaitu Kakek Kambara. Alih aksara dilakukan di rumahnya di Dusun Kemendhung Desa Karangturi pada bulan puasa Ramadlan tahun 1857 tahun Jawa atau tahun 1920 M.  

 

“Sayang sekali kitab asli Carita (Sejarah) Lasem versi pertama tahun 1858 M dam 1920 M itu tidak pernah bisa kita baca sekalipun karena sudah tidak ditemukan lagi. Kitab yang masih ada dan dapat dibaca sekarang berasal dari naskah buku yang telah dibuat dan diupayakan cetak sejak tahun 1966 M oleh UP Ramadharma S Reksowardojo, kemudian baru dicetak dan diterbitkan tahun 1985 M oleh Pembabar Pustaka. Kitab itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Perpustakaan Daerah Kabupatem Rembang,” imbuhnya.

 

Pria yang juga Ketua NU Care-LAZISNU Lasem itu menerangkan, hal yang menarik seperti disebutkan di atas, Raden Panji Karsono merupakan anak atau cucu Kambara atau Kamboro (dialek Jawa) prajurit Diponegoro. Fakta itu ditandai dengan di Dusun Kemendhung, tempat Raden Panji Karsono berdomisili terdapat pohon sawo kecik yang konon tertua di Lasem, ciri jejak pengikut Diponegoro. Lokasinya berada di pinggir jalan Jl Eyang Sambu.

 

“Pada tanggal 25 Februari 2021 saya berkesempatan diantar Undarto, perangkat desa, untuk berziarah ke makam RP Karsono di Pemakaman Mahbang Desa Karangturi. Makam ini memiliki ciri-ciri seperti makam Muslim. Seperti membujur utara-selatan, dikelilingi persegi empat agak lebar dengan batu bata kuno,” ujarnya.

 

Di sebelah utara, ia meneruskan, tak jauh dari makam tersebut atau sekitar 50 meter terdapat makam KH Dimyati Ikhsan pendiri Pesantren At-Taslim yang tiap tahunnya diperingati Haul dan Tahlil Akbar. Kemudian, sekitar 300 meter dari maka ini terdapat makam KH Hamid Syarif, Jolotudo, veteran Laskar Hizbullah. 

 

Adapun berdasarkan cerita tutur, sekitar akhir tahun 1800-an di Sumber Girang Lasem terdapat tokoh Mbah Karjono keturunan Kiai Mojo, penasihat Pangeran Diponegoro yang mengungsi di daerah Gunung Rakitan Kecamatan Sluke sekitar tujuh kilometer dari Lasem, karena pengejaran Belanda.

 

Menurut Abdullah Hamid, Gunung Rakitan adalah kawasan pegunungan yang cukup tinggi, namun sangat indah dipandang mata. Rumah keturunannya itu di Sumber Girang terdapat pohon sawo yang berusia tua sekali. Mbah Karjono dikenal hidup zuhud, hanya mau makan dari hasil bercocok tanam sendiri di pekarangan rumahnya. 


Selain itu, di dalam Kitab Carita Lasem, di dalamnya disebutkan juga perlawanan terhadap penjajah Belanda di Lasem jauh sebelum masa Perang Diponegoro. Pada tahun 1678 Raden Wingit cucu Adipati Lasem Tejokusuma I pernah menjadi senapati di Mataram. Ia kemudian kembali ke Lasem memimpin perang melawan Belanda. Ia juga dikenal bernama Pangeran Kajoran, karena kemudian babat alas di Pegunungan Kajar Lasem (dialek Jawa kadang menyebut Kajor).

 

“Beliau dikenal juga bernama Panembahan Rama, guru spiritual Trunojoyo. Namun masyarakat setempat lebih populer menyebutnya Guling Wesi. Raden Wingit akhirnya syahid, makamnya di puncak perbukitan Dukuh Mentoro Desa Sendang Coyo,” jelasnya.

 

Nama Mentoro diambil dari kata Mataram, sebelumnya bertugas atau mengabdi. Jalan menuju makam sekitar 3 km dari pusat kota Lasem melewati bukit ke bukit hijau yang apik.

 

Abdullah Hamid meneruskan, pada tahun 1750 M kembali rakyat Lasem berperang melawan Belanda. Dipimpin RP Margono bersama rakyat di Alun-alun Lasem melakukan sumpah setia bersatu padu mengusir Belanda.

 

“Esoknya sehabis Shalat Jumat di Masjid Jami Lasem, Kiai Ali Baidlowi memberikan weworo (mengumumkan) perang sabil melawan Belanda. Oei Ing Kiat atau Widyaningrat, tokoh Tiongkok Muslim ikut memimpin perjuangan. Ia bahkan gugur. Jenazahnya dimakamkan di puncak Gunung Bugel,” kisahnya.

 

“Dari uraian di atas tampak jelas sanad perjuangan rakyat Lasem tidak terputus. Naik turun gunung menegakkan NKRI, sejak sebelum sampai sesudah masa Diponegoro,” pungkas Abdullah Hamid.

 

Pewarta: Kendi Setiawan

Editor: Musthofa Asrori

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link