Maahad Al Musthofa Mobile

Sumenep, NU Online

Historiografi kemunculan organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)  di suatu daerah penting diketahui oleh para kader sejak dini. Namun demikian, hal tersebut tidak serta-merta berjalan mulus. Hal itu dikarenakan minimnya penelusuran sejarah yang berimbas pada data yang simpang siur.


Atas dasar hal itu, Akh Fauzi menulis buku Napak Tilas Gerakan Mahasiswa: Historiografi Gerakan PMII Sumenep Tahun 1999-2007. Salah seorang kader PMII  di ujung timur Pulau Madura ini menulis buku tersebut didorong atas semangat untuk mengungkap fakta secara de facto maupun de jure terkait kelahiran PMII di Kabupaten Sumenep. 


Pria kelahiran Pulau Masalembu Sumenep ini menyebutkan, bahwa masih terdapat beberapa data yang kontradiktif dalam sejarah dan dialektika PMII lokal, dalam hal ini Sumenep. Hal itu terbukti dengan adanya beberapa perbedaan dalam materi kaderisasi formal yang dilaksanakan oleh setiap komisariat di Kabupaten Sumenep.  


“Karena itu, saya pribadi ingin mencoba untuk mengungkap fakta sejarah terkait PMII di lokal Sumenep. Agar betul-betul bisa dijadikan sumber autentik bagi kader-kader selanjutnya,” ujarnya kepada NU Online, Jumat (16/4). 


Buku yang ditulis oleh kader jebolan Komisariat Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sumenep ini fokus pada penelusuran sejarah. Ia butuh waktu satu tahun lebih untuk menyelesaikan buku tersebut. Ke depan, buku itu akan dijadikan sebagai salah satu materi dasar kaderisasi PMII lokal di Sumenep.


Bahkan, keseriusannya menulis buku dengan seobjektif mungkin terlihat saat ia secara langsung menjadikan putra Mahbub Djunaidi, Ketua Umum Pertama PB PMII, sebagai narasumber. Sebab, menurut dia sangat penting untuk mengetahui latar belakang berpindahnya Mahbub Djunaidi dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke PMII.


“Selama ini juga masih banyak yang belum paham betul sejarah itu. Jadi saya wawancara langsung dengan putra almarhum, guna mendapatkan data autentik dari sumber primer,” paparnya. 


Tiga data dan fakta

Buku yang ditulis sejak Februari 2020 tersebut menjabarkan sejumlah data dan fakta sejarah yang diklasifikasikan ke dalam tiga bagian. Pertama, membahas tentang embrio kelahiran PMII Sumenep.


“Kedua, perkembangan dan dinamika keberlangsung PMII di Sumenep. Ketiga, biografi singkat sejumlah tokoh yang menjadi pelopor lahirnya PMII di Sumenep hingga mantan-mantan ketua cabang dari 2001 sampai 2007,” ungkapnya.


Tak hanya itu, Akh Fauzi dalam pengantar bukunya juga menjelaskan temuannya tentang adanya tokoh pendiri PMII yang tidak banyak diekspos oleh pelaku sejarah lain. Seperti, Ahmad Ali Murtadha. 


“Jadi untuk melengkapi temuan sejarah ke-PMII-an, sekilas saya bahas itu,” ungkap pria yang juga pengurus PC PMII Sumenep ini.


Kendati demikian, dirinya merasa bahwa buku yang ia tulis belum sepenuhnya final. Dalam arti, hanya sebagai pembuka kran untuk menumbuhkan semangat kader-kader PMII di Sumenep agar melanjutkan penelusuran sejarah PMII Sumenep. 


“Saya berharap, nantinya akan ada banyak kader PMII yang bisa meneruskan penelusuran dan kajian-kajian strategis semacam ini, yang ditulis seobjektif mungkin dan dapat dikaji secara bersama-sama dengan serius,” pungkasnya.


Penulis: A Habiburrahman

Editor: Editor: Musthofa Asrori

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link