Berita

Kehidupan bak Pelaut Arungi Samudra

Al-Musthofa Publication Kehidupan bak Pelaut Arungi Samudra

Jakarta, NU Online
Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin menggambarkan penghuni kehidupan dunia laksana seorang pelaut yang sedang mengarungi samudera. Satu tarikan nafas bagaikan satu rengkuhan dayung. Cepat atau lambat biduk yang ditumpangi akan mengantarkannya ke pantai tujuan.

Dalam proses perjalanan itu, setiap nahkoda berada di antara dua keresahan yakni antara mengingat perjalanan yang sudah dilewati dengan rintangan gelombang yang dahsyat atau menatap sisa-sisa perjalanan yang masih panjang dimana ujung rimbanya belum tentu mencapai keselamatan.

Perumpamaan ini disampaikan Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH M Cholil Nafis saat menjadi khatib pada shalat Idul Fitri 1443 H di Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta, Senin (2/5/2022).

“Gambaran kehidupan ini hendak mengingatkan agar kita senantiasa memanfaatkan umur yang kita miliki dengan sebaik-baiknya,” katanya.

“Usia yang masih kita punyai akan menghadapi tantangan zaman dan selera kehidupan yang menggoda maka haruslah kita pergunakan secara optimal untuk memperbanyak berbuat baik guna meraih keselamatan dan kebahagiaan hidup di akhirat kelak,” imbuhnya.

Kiai Cholil juga mengutip taushiyah Lukmanul Hakim kepada putranya yang menyebut bahwa dunia ini laksana lautan yang dalam dan telah banyak manusia tenggelam di dalamnya. Untuk mengarunginya butuh strategi agar bisa selamat dalam mengarunginya.

“Jadikanlah takwa kepada Allah SWT sebagai kapal untuk mengarunginya, iman sebagai muatannya, tawakal sebagai layarnya, niscaya Engkau akan selamat sampai tujuan,” jelas Kiai Cholil.

Hidup ini lanjutnya, akan dituntut oleh Allah SWT dengan dua hal yakni apa karya yang dipersembahkan dan apa jasa yang ditinggalkan.

“Hidup ini hanya melewati waktu yang akan dicatat apakah tindakannya menjadi torehan sejarah yang monumental atau hal sia-sia yang dibuang,” jelasnya.

Oleh karenanya, Kiai Cholil mengajak umat Islam untuk dapat menjadi orang yang berguna bagi orang banyak di antaranya dengan melepaskan sikap individualisme dan memiliki kepekaan sosial. Rasulullah saw menggambarkan solidaritas manusia beriman seperti satu fisik yang diimplementasikan dengan saling merasakan. Kemudian, diaplikasikan dengan saling menguatkan yang diilustrasikan bagaikan satu bangunan.

“Artinya, implementasi takwa yang kita raih melalui traning Ramadhan harus diimplementasi pada sebelas bulan berikutnya dengan merasakan penderitaan saudara-saudara kita dan saling menguatkan dengan mengorbankan segala kemampuannya untuk kepentingan masyarakat,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya merevitalisasi  konsep “trilogi ukhuwah” yang awalnya dikenalkan oleh tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Shiddiq (1926-1991). Konsep trilogi ukhuwah adalah menyatukan antara ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan dalam ikatan kebangsaan) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama umat manusia).

“Ukhuwah Islamiyah, adalah persaudaraan sesama pemeluk agama Islam, baik dalam bingkai kenegaraan atau bingkai keumatan. Inilah modal umat Islam dalam melakukan interaksi sosial sesama muslim,” jelas Ketua MUI Pusat ini.

“Ukhuwah wathaniyah adalah persaudaraan untuk membangun persatuan antar anak bangsa dalam kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Inilah modal dasar untuk melakukan pergaulan sosial dan dialog dengan pelbagai komponen bangsa Indonesia yang majmuk, tentu saja tidak terbatas pada satu agama semata,” imbuhnya.

Dan ukhuwah basyariyah lanjutnya adalah persaudaraan yang paling mendasar sebagai manusia yang lahir dari bapak dan ibu yang sama, yaitu Adam dan Hawa. Ini  prinsip dan landasan untuk membangun persaudaraan manakala ukhuwah Islamiyah atau ukhuwah wathaniyah tak lagi mengikat dengan kuat.

Editor: Muhammad Faizin

Al-Musthofa Publication Kehidupan bak Pelaut Arungi Samudra

Source link