Berita

Kelangkaan Sumber Pangan dalam Kacamata Syariah

Al-Musthofa Publication Kelangkaan Sumber Pangan dalam Kacamata Syariah

Manusia sebagai puncak tertinggi dalam piramida rantai makanan, tentunya membutuhkan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Ketergantungan manusia terhadap hewan dan tumbuhan sebagai sumber pangan, menjadikannya harus mampu mendistribusikan sumber daya alam yang ada dengan baik. Begitu pula dengan hewan yang bergantung pada tumbuh-tumbuhan untuk pemenuhan kebutuhannya serta bertahan hidup. 

Realitas tersebut menggambarkan bahwa manusia menempati posisi tertinggi dalam piramida rantai makanan dan sumber daya alam. Namun, perkembangan dan jumlah penduduk manusia di bumi yang sangat cepat dan tinggi, sayangnya tidak dibarengi dengan pertumbuhan dalam sektor sumber daya alam. Ketersediaan bahan pangan terus merosot, sehingga krisis pangan pun terjadi di muka bumi, tempat di mana manusia mendirikan peradaban mereka. 

Dalam bidang ekonomi, kelangkaan sumber daya alam menjadi pembahasan yang utama. Krisis ini menarik para ahli untuk menaruh fokus mereka pada observasi fenomena yang sedang terjadi. Tidak sedikit para cendekiawan melahirkan karya-karya baru untuk memberikan solusi atas masalah tersebut. 

Pembahasan kelangkaan sumber daya alam faktanya menjadi pokok utama yang menimbulkan perbedaan pandangan di kalangan masyarakat. Sebagian orang menganggap kelangkaan sumber daya alam benar adanya, sedangkan sebagian lain meyakini bahwa Tuhan sudah menyiapkan segala sesuatu untuk manusia dengan sempurna. 

Pada dasarnya, manusia membutuhkan barang dan jasa untuk dapat menjalani kehidupan di muka bumi. Sedangkan sumber daya yang tergambar dari barang dan jasa itu keberadaannya ditentukan oleh sumber daya alam dan kemampuan manusia dalam mengelolanya. Ekonomi positif mengatakan, apabila sumber daya alam dieksploitasi dan didistribusikan dengan baik, yakni dengan menyesuaikan kebutuhan manusia, maka tidak akan terjadi masalah kelangkaan sumber daya alam. 

Eksklusivitas sumber daya alam itu bersifat relatif, dalam arti tidak dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan manusia yang tidak ada habisnya. Bahkan, kebutuhan manusia itu senantiasa bertambah, bermacam-macam, dan  berkelanjutan. Lantas, bagaimana sesuatu yang tidak terbatas bersandar pada sesuatu yang terbatas? 

Dewasa ini telah banyak bermunculan karya-karya ilmiah yang mulai mendalami permasalahan ini secara spesifik. Mengkonfirmasi dengan data dan statistik guna melerai polemik. Para penganut ekonomi positif mengarahkan pandangan mereka untuk mengatakan bahwa kelaparan yang terjadi karena terbatasnya sumber daya alam disebabkan oleh ketidakpiawaian manusia dalam mengelola dan mendistribusikan sumber daya alam tersebut, bukan karena eksklusivitas itu sendiri.

Mendiagnosa kelaparan sebagai akibat dari kelangkaan pangan dan lahan adalah upaya menyalahkan alam atas masalah buatan manusia. Setidaknya, ada kurang lebih 500 juta orang di dunia menderita kekurangan gizi dan kelaparan. Suatu masalah yang terjadi di tengah melimpahnya pangan.

Salah satu cara yang dapat membuktikan bahwa kelangkaan lahan dan pangan bukanlah penyebab utama dari kelaparan adalah dengan menjelaskan bahwa tidak ada kelangkaan di keduanya. Setidaknya, dunia menghasilkan setiap hari dua pon biji-bijian, yaitu lebih dari tiga ribu kalori dan protein berlimpah untuk setiap pria, wanita, dan anak-anak. Dengan perkiraan, tiga ribu ini lebih banyak dari pada yang dikonsumsi oleh orang Barat setiap harinya. 

Secara global, tidak ada dasar atas anggapan kelangkaan pangan dan lahan untuk umat manusia. Penting untuk dimunculkan, apakah ada sumber daya yang cukup untuk menghasilkan makanan di Negara yang terdapat orang-orang membutuhkan di dalamnya? Kemudian dikonfirmasi bahwa sebenarnya, banyak negara mampu memenuhi kebutuhan mereka. Akan tetapi selalu tidak dimanfaatkan dengan baik sehingga membuat kekurangan pangan bagi banyak orang dan kelebihan pangan bagi sebagian orang. 

Pendeskripsian kebutuhan berperan penting untuk merumuskan masalah. kebutuhan adalah sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk menjaga keberlangsungan hidup mereka. Yang mana, ketidak mampuan manusia dalam memenuhi kebutuhannya akan berimbas pada kerusakan dan kehancuran bagi manusia. Dapat disimpulkan bahwa kebutuhan manusia dapat dibatasi, bersifat terbatas, dan bisa dipenuhi. Sedangkan keinginan merupakan perasaan dari diri manusia yang menyebabkan manusia terus meminta sesuatu di luar kebutuhannya. 

Dengan demikian, keinginan adalah hal baru dan tidak terbatas. Lantas, bagaimana Islam memandang masalah ini? Apakah Islam mengakui adanya kelangkaan pangan seperti yang diyakini oleh Ekonomi positif? 

Islam menegaskan bahwa sumber daya alam dari pangan dan jasa itu cukup bagi manusia dalam cakupan global. Dan menjadi tidak cukup apabila diarahkan hanya untuk memenuhi keinginan segelintir orang. Suatu penegasan yang membawa kita untuk bisa menyimpulkan bahwa masalah kelaparan yang terjadi ini, bisa dislesaikan dengan tangan kita sendiri. Kemungkinan terrealisasinya produk yang lebih unggul dengan sumber daya serupa, bisa diciptakan selama manusia mampu mengelola sumber daya alam tersebut dengan bijak dan baik dalam menggunakannya. 

Berpedoman dengan premis di atas, bisa di-resume bahwa pendapat-pendapat akan ketidak mampuan sumber daya alam dalam memenuhi kebutuhan manusia adalah sesuatu yang tidak dapat diterima. Nyatanya, sumber daya alam tersebut telah tersedia secara sempurna di muka bumi, hanya saja ia digunakan pada hal yang bukan semestinya. 

Kebutuhan pokok manusia secara menyeluruh bisa dikategorikan, bahkan kita mampu untuk membatasinya. Beberapa Ekonom (ahli Ekonomi) telah mengklasifikasi kebutuhan manusia menjadi dua. Yaitu kebutuhan ekonomi, kemudian diikuti oleh kebutuhan non-ekonomi. 

Kebutuhan ekonomi bisa dikembalikan ke beberapa sektor yang tidak lebih dari sepuluh macam. Yaitu pangan, sandang, papan, pengobatan, kesehatan, reproduksi, transportasi dan pendidikan. Biasanya dari semua hal itu akan melahirkan kebutuhan baru, akan tetapi bukan berarti bahwa hal tersebut tidak bisa dibatasi. 

Sikap tegas Islam yang mengatakan bahwa sumber daya alam cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia bukanlah sesuatu yang tidak berdasar. Sikap ini telah jelas dalam al-Qur’an. Allah SWT berfirman, “Dia ciptakan padanya gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dan kemudian dia berkahi, dan dia tentukan makanan-makanan (bagi penghuni)nya  dalam empat hari, memadai untuk (memenuhi kebutuhan)mereka yang memerlukannya”. (Surat Fussilat ayat 10).

Dengan demikian, Allah SWT telah menjamin kebutuhan seluruh umat manusia dari sandang, pangan, dan papan secara global. Sisanya adalah tugas manusia sebagai makhluk untuk bisa memanfaatkan, mendistribusikan serta mengelolanya dengan baik dan bijak. 

Berbicara dalam konteks yang lebih kecil, seperti pada tingkat kelompok atau individu, terkadang ditemukan adanya kelangkaan beberapa sumber daya alam, maka hal tersebut dikembalikan kepada kemampuan manusia dalam pendistribusian dari tempat yang memiliki sumber daya alam melimpah ke tempat-tempat yang membutuhkan. 

Islam mengamini akan keterkaitan antara sumber daya alam dan kebutuhan manusia. Ketersediaan sumber daya alam hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan yang harus dipenuhi, dan menjadi tidak cukup apabila untuk memenuhi nafsu semata. Oleh karena itu, beberapa hal penting yang harus disadari salah satunya adalah bahwa kedudukan sumber daya alam menurut Islam, sangat berkaitan dengan kedudukannya terhadap kebutuhan manusia. 

Allah SWT menerapkan hukum alam di muka bumi, salah satunya adalah bahwa sumber daya terbagi menjadi dua, yakni ada yang sudah disiapkan dan ada juga yang membutuhkan campur tangan manusia untuk produksi. Maka, peran manusia sangat penting pada kehidupan mereka sendiri. Sebagai mana yang telah Allah firmankan dalam Al-Quran, “Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah  di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekinya. Hanya kepada-Nyalah kamu(kembali setelah)dibangkitkan”. (Surat Al-Mulk ayat 15).

Dari segi prinsip, Islam membedakan secara jelas antara kebutuhan dan keinginan. Telah tergambar bahwa tidak ada kelangkaan pada sumber daya alam, sebagaimana kebutuhan manusia itu bukanlah sesuatu yang tak terbatas. Maka, konsep permasalahan yang ditawarkan ekonomi positif, tidak bisa diterima oleh kacamata Islam.

Akan tetapi, bukan berarti Islam menafikan (meniadakan) adanya permasalahan ekonomi secara keseluruhan pada kehidupan manusia. Dan menganjurkan kepada masyarakat untuk tidak berusaha dalam aktivitas ekonomi. Terkadang manusia menyaksikan sendiri fenomena kelangkaan ini, dan menyimpulkan bahwa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi adalah perilaku manusia sendiri. 

Sebagaimana termaktub pada firman Allah, “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi mereka mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat” . (An-Nahl ayat 112).

Pada akhirnya, Islam mampu menghadirkan solusi atas fenomena yang sedang terjadi. Dengan membedakan antara kebutuhan dan keinginan manusia, kita dapat menemukan akar permasalahan ini. Berangkat dari petunjuk al-Qur’an, bahwa Islam tidak mengimani akan adanya kelangkaan sumber daya di muka bumi, selama manusia mampu untuk mengoptimalkan semua potensi dan nikmat yang telah Allah sediakan di laut ataupun di darat bagi umat manusia.

Muhamad Ansori, Mahasiswa Universitas Al-Zaitunah, Tunisia.

Al-Musthofa Publication Kelangkaan Sumber Pangan dalam Kacamata Syariah

Source link