Berita

Ketua NU Sulbar Jelaskan Keterkaitan Corona dengan Al-Qur’an 

Al-Musthofa Publication Ketua NU Sulbar Jelaskan Keterkaitan Corona dengan Al-Qur'an 

Jakarta, NU Online

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Barat, KH Adnan Nora, menyebutkan bahwa keberadaan virus corona bersangkutan erat dengan ayat ke-82 dalam surat Yaasiin. Maka, sepatutnya keterkaitan itu oleh umat Islam diartikan sebagai ujian kecil dari Allah SWT bukan bencana (bala).

 

“Sesungguhnya dalam Al-Qur’an kaitan dengan corona ini sederhana sekali. Idza arada syai’an an yaqula lahu kun fayakun. Kalau Allah menghendaki sesuatu dan menginginkan sesuatu, Allah hanya akan mengatakan kun fayakun,” kata Kiai Adnan saat mengisi ceramah di acara Shalawat Nariyah dan Doa untuk Keselamatan Bangsa dari Wabah, Jumat (16/7) malam.

 

Dijelaskannnya, saat ini banyak di antara para ahli teori dan praktik sedang berusaha menghilangkan virus berukuran kecil yang hanya dapat dilihat menggunakan alat pembesar. Padahal, menurut (para ahli)-nya juga materi virus corona dapat lebur hanya dengan membersihkannya menggunakan sabun di air mengalir.

 

“Dan yang menarik makhluk yang dianggap lemah ini ternyata dapat memporakporandakan seluruh aspek kehidupan kita. Baik dari sisi ritual peribadahan, sosial kemasyarakatan, bahkan sampai hubungan persoalan birokrasi di negara ini,” jelasnya.

 

Partikel berukuran kecil ini, sambung dia, tanpa disadari telah memutar balik seluruh teori yang telah dibuat oleh para ahli ilmiah. Akan tetapi, keberadaannya perlu diakui juga sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah. Maka dari itu, satu-satunya jalan adalah dengan cara mendekatkan diri dengan memohon ampun kepada-Nya. 

 

“Ketika kita memohon kepada Allah SWT, Dia hanya akan berkata kun (kembali kamu corona) fayakun (maka akan kembali/hilang),” paparnya. 

 

Rais Syuriyah PBNU, KH Manarul Hidayat dengan mengatakan, salah satu sebab hilangnya wabah pandemi Covid-19 adalah dengan memperbanyak berdzikir, membaca shalawat dan berdoa.

 

“Bahwa dalam ajaran agama kita ada tiga istilah yang tidak boleh dilupakan. Yaitu ujian, teguran, dan adzab,” kata Kiai Manarul. 

 

Ujian, lanjut dia, berlaku untuk orang-orang mukmin, taqwa dan beriman. Sebab Allah tidak akan membiarkan hambaNya yang beriman luput dari ujian. “Dan di setiap ujian insyaallah akan naik kelas dan naik derajat,” lanjutnya. 

 

Selanjutnya, sambung dia, teguran yang diperuntukkan kepada hamba Allah yang cenderung mengaku-ngaku bahwa dirinya Islam, akan tetapi tidak mematuhi ajaran-ajaran yang diperintahkan oleh Allah SWT. 

 

“Mereka akan ditegur oleh Allah agar kembali mengikuti aturan Allah,” sambung Dewan Pengawas Syari’ah MUI ini. 

 

Kemudian, Adzab yang sifatnya umum. Oleh karena itu, kiai Manarul mengatakan, dalam hal ini kecermatan mereflesikan diri sangat diprioritaskan untuk menentukan istilah apa yang pantas disematkan pada keadaan serba darurat saat ini. 

 

“Yang namanya azab itu pasti semua akan kena. Sekarang ini gara-gara corona pasar tutup, toko tutup, kantor tutup, madrasah juga tutup, pesantren pun tutup,” terang Pengurus Ikatan Pondok Pesantren Seluruh Indonesia (Rabithah Ma’had Islami) periode 1999–2014 ini. 

 

Bahkan, menurutnya bukan hanya lembaga-lembaga pendidikan yang tutup, melainkan segala jenis peribadahan baik wajib maupun sunnah diberlakukan pembatasan. Menyikapi hal demikian solusi yang paling ampuh adalah dengan cara  bersabar dan memperbanyak muhasabah sebagai usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

 

“Tujuan Allah adalah agar back to basic manusia kembali mengikuti aturan Allah dan Rasulullah. Itulah kuncinya,” imbuh Pengasuh Pondok Pesantren Almanar Azhari Islamic Boarding School itu. 

 

Kontributor: Syifa Arrahmah 

Editor: Kendi Setiawan

Al-Musthofa Publication Ketua NU Sulbar Jelaskan Keterkaitan Corona dengan Al-Qur'an 

Source link