Berita

KH Abun Bunyamin Ruhiat (1949-2022) Sang Pengabdi Ilmu

Al-Musthofa Publication KH Abun Bunyamin Ruhiat (1949-2022) Sang Pengabdi Ilmu

Al-baqa’ lillah, keabadian hanya milik Allah. Semua makhluk, begitu ia terlahir, kapan pun dapat merasakan kematian manakala ajal menjemput. Meski demikian, kematian tidaklah berarti menjadi lenyap tak berbekas (annihilation). Selain menjadi pintu gerbang untuk kehidupan selanjutnya, kematian telah dibentuk dan membentuk kehidupan dunia itu sendiri.   

Tentang bagaimana kematian dibentuk oleh kehidupan, KH Abun Bunyamin Ruhiat (kami biasa memanggil beliau ‘Bapak’), yang berpulang ke hadirat Allah pada 19 Noveber 2022, telah memperlihatkannya; sebuah kematian yang ‘bermakna’. Bagaimana memaknai kematian seseorang? Lihat, kenang, dan pelajarilah apa yang telah dilakukan selama hidupnya.  

Menimba ilmu di Pondok Pesantren Cipasung yang beliau asuh adalah satu di antara kesempatan terbaik saya dalam hidup ini, alhamdulillah. Setidaknya, bagi saya yang pernah nyantri di Cipasung selama enam tahun, Bapak adalah sosok ideal ‘Pengabdi Ilmu’. Kata ‘ilmu’ di sini tentu saja bermakna luas, bukan ‘ilmu’ dengan ‘i’ kecil, tetapi Ilmu dengan ‘I’ besar. Ia tidak hanya berarti pengetahuan yang tertulis di buku dan terpatri di pikiran, akan tetapi segala hal yang berkaitan dengan keberlangsungan ilmu itu sendiri; pondok pesantren, para santri, dan segala hal yang terjadi di dalamnya.  

Saya, dan seluruh santri Cipasung siapa pun itu, akan sepakat terkait ‘militansi’ Bapak dalam hal pengajian. Berulang kali Bapak menyampaikan pesan dari Abah Ruhiat, sang pendiri Pesantren Cipasung bahwa “Tarekat Cipasung itu ngaji!” 

 

Sejak didirikan pada 1931, Cipasung didirikan untuk menjadi semacam ‘pusat pengajian Islam’. Konon, ketika perjuangan kemerdekaan melawan Jepang, Abah Ruhiat bertugas untuk lebih fokus kepada pengembangan pendidikan Islam ketika sahabatnya, KH Zainal Mustofa dari Sukamanah merancang perlawanan fisik yang frontal melawan Jepang. Hingga saat ini terdapat pengajian bulanan yang diikuti oleh masyarakat sekitar dan oleh para pimpinan pondok pesantren di sekitar Singaparna. Akhlak para kiai yang terus belajar meski telah memiliki santri menunjukkan sebuah cerminan pepatah Rasulullah untuk mencari ilmu sejak dalam kandungan hingga akhir hayat.  

Santri Cipasung tahu betapa bapak tidak akan pernah absen dalam mengisi pengajian harian jika tidak karena sakit dan urusan lain yang lebih penting. Jika ada kesempatan sekecil apa pun, bapak akan berusaha mengisi pengajian. Tak jarang ketika selesai mengikuti acara hingga larut malam, bapak masih menyempatkan diri untuk mengisi pengajian dan dengan sabar tetap membacakan kitab, menerjemahkan dan menjelaskannya kepada para santri meskipun dengan katup mata yang menghitam karena lelah.

 

Santri Cipasung juga tahu bahwa bapak tidak akan mengisi pengajian jika tidak muthala’ah (membaca) terlebih dahulu, meski sudah puluhan tahun beliau mengampu kitab yang sama. Bagi saya yang tinggal di asrama yang berdekatan dengan rumah beliau (Asrama Slamet), Bapak yang sedang muthala’ah kitab di beranda adalah pemandangan yang acap kali disaksikan. Ketika sedang sakit, tak jarang bapak memanggil salah satu santrinya untuk membantu mencari makna sebuah kosakata dalam Kamus al-Munawwir. Bapak mengajari kami sikap rendah hati dalam belajar dan pentingnya ‘membaca’ dalam proses memperoleh ilmu. Inilah sebuah ‘pengalaman belajar’ yang berharga bagi saya pribadi.  

 

Karya Bapak tidak banyak. Dalam refleksi saya, menulis, bagi Bapak dan seluruh masyayikh Cipasung umumnya, bukan sekadar mengguratkan tinta di kertas, melainkan adalah bagian integral dari mengajar itu sendiri. Dalam kata lain, menulis baginya adalah sebuah tindak ‘performatif’ yang semakna dengan mengajar santri itu sendiri. Maka, membaca, menulis dan mengajar telah menubuh menjadi satu (embodied). Dalam ‘alam pikir’ Bapak, seakan apa yang kita kenal dalam filsafat ilmu (Barat) dengan ontologi-epistemologi-aksiologi, semuanya melebur menubuh menjadi satu, tidak berada dalam sekat dikotomis. 

Salah satu karya Bapak yang fenomenal tentu saja adalah Diktat Jurumiyyah, sebuah penjelasan kitab Jurumiyyah dalam bahasa Sunda yang beliau gunakan untuk mengajar santri Cipasung. Melampaui kesederhanaan judulnya, buku ini mencerminkan sebuah kejeniusan sang penulis dalam ‘memahami bahasa kaumnya’. Dari Bapak, saya belajar bahwa mengajar bukanlah sebuah ajang ‘akrobat kepintaran’ di hadapan murid, melainkan sebuah proses dedikatif yang harus disertai kesabaran untuk menanamkan pemahaman di benak peserta didik dengan ‘memahami bahasanya’.

Di sela-sela pengajian, Bapak terkadang mengingatkan para santri tentang perjuangan kehidupan. Salah satu nasihat yang sering kali beliau ucapkan ketika ngaji–seingat saya–adalah Lamun teu ayeuna rek iraha? Lamun teu ku urang rek ku saha? Kalau tidak sekarang, lalu mau kapan? Kalau bukan kita, lalu siapa?         

Sebuah pengalaman unik yang saya dapatkan dari Bapak juga terjadi ketika kami berkesempatan untuk melakukan ibadah umrah bersama di tahun 2008. Sesampainya kami di bandara San’a, Yaman, Bapak mengeluarkan kertas dan bollpoint dan selalu membawanya sepanjang perjalanan menuju Madinah. Ketika saya bertanya untuk apa kertas itu, Bapak menjawab: Lamun manggihan bahasa nu anyar ku bapa mah sok dicatet. Kalau menemukan Bahasa (kosakata Bahasa Arab) yang baru, Bapak selalu mencatatnya. Ternyata, beliau memang mengamati seluruh tulisan berbahasa Arab di bandara dan mencatatnya jika ada istilah yang belum beliau ketahui. Dalam hal ini, saya adalah satu di antara santri yang terberkahi dengan mendapatkan kesempatan untuk membersamai beliau dalam menjalankan ibadah di tanah suci dan menyaksikan bapak secara langsung sebagai pembelajar tanpa henti. 

Selanjutnya, bagaimana kematian membentuk kehidupan? Ada adagium yang mengatakan maut al-‘alim maut al-‘alam. Kematian seorang alim atau cerdik pandai adalah kematian alam. Menurut Rasulullah, seorang alim dengan ilmunya, adalah satu di antara empat pasak/tiang alam semesta. Ketika seorang kiai secara fisik telah pergi, tentu saja ilmu yang melekat padanya juga pergi, tugasnya telah purna. Adalah keharusan santri-santrinya untuk memaknai kepergian sang kiai dengan ‘menapak tilas’ jejak kehidupannya untuk melanjutkan bahkan menciptakan kehidupan selanjutnya yang lebih baik yang tentu saja diharapkan sang kiai. Tugas santri Bapak adalah melanjutkan tarekatnya, Tarekat Cipasung, Tarekat Ngaji!  

 

Terakhir, apa yang saya kenang dari Bapak adalah keindahan irama syair yang khas gubahan Bapak dan selalu kami senandungkan ketika ngaji Lata’if al-Isyarah di pagi hari, 13 tahun-an silam. Sebuah irama yang biasa terdengar dari madrasah lantai pertama. Irama itu masih terngiang jelas dalam telinga hingga tulisan ini akan selesai diketik. 

Pamugi bagja di kalanggengan, sawarga tempat Bapa 
Elmu ti Bapa, kalintang manpaatna.

(Semoga bahagia di keabadian, surga tempat untuk Bapak. Ilmu dari Bapak, sungguh besar manfaatnya).

Asep Nahrul Musadad, santri Pesantren Cipasung Tasikmalaya, angkatan 2010.

Al-Musthofa Publication KH Abun Bunyamin Ruhiat (1949-2022) Sang Pengabdi Ilmu

Source link