Berita

Khutbah Jumat: Kunci Kebahagiaan Hidup

Al-Musthofa Publication Khutbah Jumat: Kunci Kebahagiaan Hidup

Naskah khutbah Jumat kali ini menjelaskan tentang bagaimana meraih kebahagiaan hidup yang setiap orang pasti mengidam-idamkannya. Namun sayangnya, tak banyak orang yang menyadari bahwa kebahagiaan sebenarnya berasal dari hati. Hatilah yang sejatinya dapat menentukan bahagia atau tidaknya seseorang. Namun hati seperti apakah yang dapat membuat pemiliknya bahagia? Simak Khutbah Jumat ini!

 

 

Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul “Khutbah Jumat: Kunci Kebahagiaan Hidup“. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat! (Redaksi).

 



Khutbah I

 

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ مَنَعَنَا بِالتَّعَاوُنِ عَلَى اْلِإثْمِ وَالْعُدْوَانِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الدَّيَّانْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى سَائِرِ الْعَرَبِ وَالْعَجَم، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدنَا مُحَمَّد مَنْ اَثْنَى اللهُ عَلَيْهِ بِخُلُقٍ حَسَن، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَان أما بعد  فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ. فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.  وقال تعالى في كتابه الكريم : وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah.

Pada kesempatan yang penuh hidmah ini, izinkan khatib berwasiat kepada diri khatib dan jamaah, marilah kita senantiasa berusaha dan terus berusaha untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt, dengan senantiasa menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah.


Dalam sebuah kehidupan, kebahagiaan adalah satu hal yang ingin diraih oleh semua orang. Baik kaum lelaki maupun perempuan. Nyatanya, tidak ada satu orang pun yang tidak menginginkan hidup bahagia. Ketika seseorang ditanya tentang sebuah pilihan, apakah ia memilih bahagia atau sengsara, tentu jawabannya adalah menginginkan kehidupan bahagia bahkan tak satupun yang akan memilih kehidupan sengsara.


Mengapa demikian? Karena kehidupan bahagia adalah dambaan, harapan juga cita-cita yang ingin dicapai oleh semua orang. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik ra, beliau menyampaikan :


وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:اللَّهُمَّ آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَtsعَذَابَ النَّارِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْه)ِ


Artinya: “Doa yang lebih sering diucapkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam adalah Allahumma Aatinaa fid Dunyaa Hasanah, wa fil Aakhirati Hasanah, wa Qinaa ‘Adzaaban Naar (artinya: Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebahagiaan di dunia, berikan pula kebahagiaan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa Neraka).”  (HR. Imam Bukhari no. 4522, dan Muslim no. 2690)


Hadits ini menyatakan bahwa Rasulillah Muhammad SAW senang sekali berdoa dengan memohon kebahagiaan. Secara tersirat beliau menyampaikan betapa pentingnya hidup bahagia. Beliau ajarkan juga kepada kita untuk selalu berharap kebahagiaan hidup di dunia yang saat ini kita jalani, juga kebahagiaan hidup di akhirat yang nantinya akan menjadi kehidupan kekal kita selanjutnya pasca kehidupan dunia. Bahkan, beliau menambahkan redaksi doa “wa Qinaa ‘Adzaaban Naar” agar kita semua mendapatkan kebahagiaan yang totalitas tanpa ada kesengsaraan hidup di neraka.


Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah

Dalam memenuhi keinginan untuk hidup bahagia, kebanyakan manusia berlomba-lomba mencapai kebahagiaan melalui harta kekayaan, pencapaian karir, ataupun melalui keluarga. Namun sayangnya, tak banyak orang yang menyadari bahwa kebahagiaan sebenarnya berasal dari hati. Hatilah yang sejatinya dapat menentukan bahagia atau tidaknya seseorang. Namun hati seperti apakah yang dapat membuat pemiliknya bahagia?


Rupanya, hati yang dapat membuat pemiliknya bahagia adalah hati yang bersih, hati yang mampu mengontrol dirinya dari berbagai tindakan yang tidak sesuai dengan hati nurani itu sendiri. Apabila hati manusia bersih dan terhindar dari penyakit hati, maka hidupnya pun dapat dijalani dengan baik dan tenang. Oleh karena itu, hati menjadi potensi terbesar dalam diri manusia.


Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:


أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ


Artinya: “Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Untuk menunjang terciptanya kebahagiaan maka kita harus pandai menjaga hati. Ada 3 (tiga) keyword atau kata kunci yang harus dilaksanakan, agar hati mencapai kebahagiaan. Pertama, Jangan pernah membenci siapapun, karena bisa jadi orang yang kita benci saat ini adalah orang yang kita butuhkan esok hari. Betapapun, kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan pasti membutuhkan orang lain. Bahkan mulai kita lahir sampai kita meninggal dunia semua membutuhkan campur tangan orang lain. Tidak mungkin kita bisa melakukannya sendirian. Ini adalah salah satu bukti bahwa kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri.

 

Maka ketika kita menginginkan hidup bahagia, syaratnya adalah jangan pernah membenci siapapun dengan kebencian yang amat sangat, karena bisa jadi tetangga kita, saudara kita, kawan kita yang kita benci adalah orang yang notabene dipilihkan oleh Allah untuk membantu kita. Ketika bibit kebencian merasuk dalam diri kita, maka saat itulah bibit ketidakbahagiaan akan bersemayam di dalam diri kita. Bukan orang yang kita benci yang hidupnya tidak bahagia, namun sejatinya kitalah yang membenci yang akan merasakan kegelisahan dalam kehidupan.


Kedua, jangan pernah menghina siapapun, karena bisa jadi orang yang kita hina saat ini adalah orang yang mulia esok hari. Boleh jadi, orang tersebut saat ini adalah pemabuk, penjudi, perampok, pezina namun ketika bertaubat dan memperbaiki hubungannya dengan Allah (hablum minallah) serta hubungannya dengan manusia (hablun minan nas) maka ia akan memperoleh derajat yang mulia dihadapan Allah swt. Ada hal yang harus betul-betul kita tanamkan di dalam hati bahwa seburuk-buruk manusia, ternyata masih ada kebaikan di dalam hatinya dan sebaik-baik manusia pasti pernah berbuat jelek. Maka, jangan pernah menghina para pendosa seakan-akan kita tidak pernah berbuat dosa. Jangan pernah menghina orang yang saat ini melakukan kemaksiatan, karena kita tidak tahu seberapa berat proses ia menuju taubat.


Ketika ada orang yang senang menghina kejelekan orang lain, kebejatan moral orang lain maka saat itu sejatinya ia sedang merasa lebih baik dari orang lain dan saat itulah benih-benih kesombongan muncul dalam dirinya. Ketika benih-benih kesombongan muncul dalam diri, maka saat itulah sejatinya ia berada dalam titik terendah dihadapan Allah swt dan seluruh amal ibadahnya bisa dihapuskan oleh Allah swt.


Ketiga, jangan pernah sakit hati apabila di dzalimi orang lain. Mengapa demikian? karena bisa jadi, hal itu adalah cara Allah meninggikan derajat kita dan memuliakan diri kita di hadapan Allah swt. Berat memang berat menahan gejolak amarah di dalam diri seseorang, apalagi menahan amarah karena kedzaliman yang dilakukan orang lain kepada kita. Namun Rasulillah Muhammad SAW menyampaikan dalam sebuah haditsnya yang artinya :


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari no. 6116)”


Menahan amarah itu memang luar biasa beratnya, sehingga Rasul mengulang-ulang redaksi tentang larangan marah itu sebanyak tiga kali. Menunjukkan bahwa menahan amarah memang begitu berat, sehingga hadiahnya pun luar biasa berupa surga. Jangan marah apabila dibenci orang lain, jangan marah apabila dihina orang lain, jangan marah apabila didzalimi orang lain, maka bagimu surga.


Akhirnya, harapan kita semua, semoga dengan melaksanakan 3 kunci kebahagian tersebut, hati kita betul-betul tertata, betul-betul sumeleh, mengakui ketiadaan kita dan mengakui kemahakuasaan Allah swt, sehingga nantinya kita betul-betul memperoleh kebahagiaan hidup di dunia, kabahagiaan hidup di akhirat.


بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم


Khutbah II


 الْحَمْدُ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدنَا مُحَمَّد مَنْ اَثْنَى اللهُ عَلَيْهِ بِخُلُقٍ حَسَن، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَان .فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ. فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ؛

فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى :  إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا


اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ،. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَعَنْ سَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ


عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ


H M. Ali Maksum, Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Kota Semarang


Baca naskah khutbah lainnya:


Al-Musthofa Publication Khutbah Jumat: Kunci Kebahagiaan HidupAl-Musthofa Publication Khutbah Jumat: Kunci Kebahagiaan Hidup

Al-Musthofa Publication Khutbah Jumat: Kunci Kebahagiaan Hidup

Source link