Berita

Kunjungi PBNU, Habib Ali Ungkap Rencana Bangun Langgar Al-Hinduan Jadi Pusat Dakwah

Al-Musthofa Publication Kunjungi PBNU, Habib Ali Ungkap Rencana Bangun Langgar Al-Hinduan Jadi Pusat Dakwah

Jakarta, NU Online

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Banjarmasin berkunjung ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, pada Selasa (9/11/2021). Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Sekretaris Jenderal PBNU H Ahmad Helmy Faishal Zaini.

 

Pada pertemuan itu, PCNU Kota Banjarmasin melaporkan bahwa Langgar Al-Hinduan, sebuah bangunan bersejarah yang menjadi lokasi Muktamar ke-11 NU pada 1936, akan dibangun dan dijadikan sebagai pusat dakwah NU Banjarmasin.

 

Wacana pembangunan Langgar Al-Hinduan dan akan diberi status sebagai cagar budaya datang dari Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina. Karena itu, PCNU Kota Banjarmasin berkunjung ke PBNU untuk melengkapi data sejarah mengenai Muktamar ke-11 NU di Banjarmasin, termasuk Langgar Al-Hinduan sebagai lokasi muktamar, serta keputusan-keputusan yang dihasilkan pada saat itu.

 

“Saya kedatangan Ketua PCNU Banjarmasin, Habib Ali Hasan Al-Kaff yang memiliki tujuan mulia ingin mengembalikan Banjarmasin sebagai pusat syiar Islam. Karena pada tahun 1936 di Banjarmasin, telah memberikan dasar serta titik tolak di dalam berbangsa dan bernegara. Konsep Darussalam lahir dari Banjarmasin,” kata Sekjen PBNU Helmy Faishal.

 

Helmy pun memberi usul kepada PCNU Kota Banjarmasin agar meminta pemerintah setempat, baik di tingkat kota maupun provinsi Kalimantan Selatan untuk membangun sebuah menara di dekat Langgar Al-Hinduan itu yang diusulkan agar diberi nama ‘NU Darussalam’.

 

“Sehingga kita bisa melihat pusat peradaban NU tentang berbangsa dan bernegara di Banjarmasin. Ada museum sejarah (diusulkan diberi nama Museum Darussalam) yang tentu sangat bermakna kita semua. Mudah-mudahan berkah, lancar, sukses,” harap Helmy.

 

Usai pertemuan dengan Sekjen PBNU, Ketua PCNU Kota Banjarmasin Habib Ali Hasan Al-Kaff beserta Rais Syuriyah KH Murjani Sani dan rombongan mengunjungi perpustakaan di lantai 2 Gedung PBNU. Di sana, mereka membuka catatan atau arsip Muktamar ke-11 NU di Banjarmasin.

 

Ia berharap, masukan-masukan yang diberikan Sekjen Helmy dan arsip yang terdapat di perpustakaan PBNU menjadi landasan atas rencana pembangunan Langgar Al-Hinduan sebagai pusat dakwah NU Kota Banjarmasin yang terletak di pusat Provinsi Kalimantan Selatan.

 

“Bangunan (Langgar Al-Hinduan) dipakai sebagai tempat Muktamar ke-11 NU tahun 1936 itu akan dilestarikan bangunannya sebagai tempat bersejarah dan cagar budaya. Bangunan itu sangat bersejarah karena pernah menghadirkan utusan-utusan muktamirin dari berbagai daerah,” kata Habib Ali.

 

Masukan-masukan yang didapat ketika berkunjung ke PBNU ini, kelak akan disampaikan kepada Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina agar rencana pelestarian Langgar Al-Hinduan yang terletak di bantaran Sungai Martapura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan itu benar-benar dapat diwujudkan.

 

Habib Ali mengamini usul Sekjen Helmy yang meminta Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina untuk berkenan pula membuatkan menara dengan nama ‘NU Darussalam’, di Pusat Kota Banjarmasin. Tujuannya agar memberikan semangat kepada masyarakat di sana, terutama generasi muda supaya lebih memahami keberadaan sejarah NU di Banjarmasin.

 

“Sejarah ini luar biasa bagi kita masyarakat Nahdliyin Banjarmasin. Karena satu-satunya muktamar yang pertama kali dilakukan setelah selama 10 kali muktamar digelar di Jawa. (Muktamar) yang ke-11 dilaksanakan di Banjarmasin (di luar Jawa),” terang Habib Ali.

 

Ia berharap, hasil silaturahim dari PBNU ini dapat menjadi momentum untuk menggali dan melengkapi tentang sejarah pelaksanaan Muktamar ke-11 NU di Banjarmasin. Sejarah ini yang kemudian akan disampaikan kepada wali kota Banjarmasin.

 

“Kami berharap Walikota bisa memberikan nama untuk museum sejarah Banjar yang sekarang sedang dalam proses pembangunan dengan nama Museum Darussalam. Karena asas pendirian negara Indonesia ini Darussalam atau negara yang penuh kedamaian itu dicetuskan pertama kali oleh ulama-ulama NU melalui Muktamar ke-11 NU tahun 1936 di Kota Banjarmasin. Mudah-mudahan gayung bersambut bapak walikota menyepakati masukan ini,” pungkas Habib Ali.

 

Hasil Muktamar Ke-11 NU di Kota Banjarmasin

Abdul Mun’im DZ dalam buku ‘Piagam Perjuangan Kebangsaan’ (2011) menerangkan bahwa salah satu hasil Muktamar ke-11 di Kota Banjarmasin adalah NU secara tegas memutuskan bahwa Indonesia merupakan Darul Islam.

 

Meski begitu, Darul Islam yang dirumuskan NU bukan sebuah rancangan membangun negara teokrasi, bukan Islam sebagai agama yang hendak diformulasikan ke dalam sistem kenegaraan. Namun konteks Darul Islam yang dimaksudkan NU adalah wilayah Islam. Sebab Indonesia saat itu masih terjajah sehingga melawan penjajah merupakan kewajiban setiap Muslim, atau dengan kata lain berjihad melawan penjajah adalah kewajiban agama.

 

Definisi itu berdasarkan tafsir yang dijelaskan oleh ulama kharismatik NU, KH Ahmad Shiddiq (1926-1991) bahwa hasil Muktamar NU tahun 1936 terkait Darul Islam itu bukan merujuk pada istilah tatanan politik kenegaraan, tetapi sepenuhnya merupakan istilah keagamaan yang lebih tepat diartikan sebagai wilayatul Islam atau wilayah Islam.

 

Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Aiz Luthfi

Al-Musthofa Publication Kunjungi PBNU, Habib Ali Ungkap Rencana Bangun Langgar Al-Hinduan Jadi Pusat Dakwah

Source link