Berita

Literasi ala Rasulullah, Kunci Berdakwah di Era Digital

Al-Musthofa Publication Literasi ala Rasulullah, Kunci Berdakwah di Era Digital

Jombang, NU Online

Pakar ilmu hadits Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur Ahmad Ubaydi Hasbilllah menjelaskan cara berliterasi ala Rasulullah saw. Demikian ini termuat dalam hadits dari Abi Mas’ud, yang berbunyi: Nadlorallahumroan Sami’a Maqolati Fawaa’aha Tsumma Addaaha Kama Sami’aha.

 

Menurutnya, literasi ala Rasulullah pertama yaitu mendengarkan sebuah informasi kemudian merenungkan, menghafalkan, memahami, dan mencermati baru disampaikan kepada orang lain.

 

Hal ini disampaikannya saat menjadi pembanding dalam bedah buku “Literasi Digital Santri Milenial” di Pondok Pesantren Tebuireng, Ahad (10/10/2020).

 

“Dalam hadits dijelaskan, dengarkan pesan Rasulullah kemudian renungkan dan pahami. Di sini menggunakan huruf fa yang menandakan waktunya tidak lama. Barulah kemudian disampaikan, tapi di sini menggunakan kata tsumma. Artinya ada jeda yang cukup lama,” jelasnya.

 

Ia menjelaskan, literasi ala Rasulullah saw juga diterapkan di pesantren-pesantren Indonesia dengan model ngaji sorongan dan hafalan. Kemudian diminta mengajar dan dakwah ke masyarakat.

 

Ia juga mengatakan bahwa salah satu sanad keilmuan dari KH M Hasyim Asy’ari Tebuireng adalah menulis. Tradisi ini diteruskan oleh KH Wahid Hasyim, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Salahuddin Wahid.

 

“Salah satu sanad keilmuan dari Kiai Hasyim dan Tebuireng adalah kitabah (kepenulisan). Kiai Hasyim memiliki karya cukup banyak, terhimpun dalam Irsyadus Sari,” katanya.

 

Ubaydi menambahkan, di era Kiai Hasyim Asy’ari akses dunia tulis menulis tidak semudah saat ini. Namun, dengan segala keterbatasannya, Kiai Hasyim masih bisa produktif menulis. Warisan Kiai Hasyim hingga saat ini terus dikaji berbagai kalangan.

 

“Jika Kiai Hasyim Asy’ari hidup di zaman sekarang, bisa jadi ada ribuan karyanya. Dengan terbatas saja karyanya cukup banyak,” ujar pria yang juga Dewan Masyayikh Darussunnah Jakarta ini.

 

Ubaydi menambahkan, dakwah ala Rasulullah saat ini lebih fleksibel. Karena bisa lewat handphone, komputer, dan internet. Semua ini adalah perangkat yang membantu memudahkan seorang Muslim untuk berdakwah. 

 

Sehingga perangkat tersebut harus diisi dengan tulisan yang bermanfaat dan mencerdaskan. Apabila literasi ala Rasulullah ini diterapkan, maka kabar hoaks tidak tersebar di mana-mana. Terutama via media sosial.

 

Manfaat dakwah digital lewat tulisan cukup banyak. Di antaranya, dakwah lewat tulisan akan melewati lintas batas negara, usia, dan abadi. Selain itu, konten dakwah yang ditulis akan berbeda dengan konten-konten yang hanya direkam video. Tulisan lebih mudah dicari lewat kata kunci di internet.

 

“Era Imam Malik tradisinya menulis hadits, terwujudlah kitab Muwatho’. Zaman Kiai Hasyim, yang populer menulis tentang akidah, maka muncul kitab Risalah Ahlussunnah. Saat ini, era internet, manfaatkan menulis di website dan media sosial,” imbuhnya. 

 

Ia mengingatkan, meneruskan dakwah Rasulullah lewat tulisan dirasakan cukup penting karena manusia sekarang mengalami banjir informasi. Yang namanya banjir itu melimpah atau berlebihan. Sesuatu yang berlebihan itu bahaya. 

 

“Pakar hadits nabi, KH Ali Mustafa Yaqub mengingatkan kita bahwa jangan mati sebelum menulis. Jangan lewat satu hari tanpa membaca yang produktif,” tegasnya.

 

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz menyampaikan bahwa bedah buku dan webinar kepenulisan adalah dua hal yang sangat penting bagi lembaga pendidikan seperti pesantren. 

 

Kegiatan tersebut mengasah santri penerus ajaran Rasulullah untuk maju, kegiatan ini mempertajam pemikiran santri. 

 

“Kita sadari, saat ini kita tidak bisa tidak harus adaptasi dengan kemajuan teknologi. Perubahan begitu cepat. Seperti hari ini webinar pakai zoom. Kecepatan ini banyak manfaatnya, juga banyak tantangannya. Karena begitu banyak informasi. Kita harus cerdas memilah informasi yang baik dan dibutuhkan. Banyak juga informasi yang menyesatkan,” pesannya.

 

Baginya, meneladani dakwah Rasulullah di era sekarang harus kreatif dan masuk ke dunia internet. Menghiasi dan menjadi pembanding di tengah informasi yang menyesatkan masyarakat. Tugas santri harus bisa memberikan pembanding informasi yang ada di dunia maya. 

 

“Modernisasi tidak bisa dihindari, tetapi harus cerdas. Bisa mengkombinasikan antara ajaran Rasulullah dan kemajuan zaman. Sehingga kita berpijak pada sesuatu yang jelas,” tutupnya.

 

Kontributor: Syarif Abdurrahman

Editor: Syamsul Arifin

Al-Musthofa Publication Literasi ala Rasulullah, Kunci Berdakwah di Era Digital

Source link