Berita

LPBINU Jelaskan Dua Cara Hadapi Perubahan Iklim

Al-Musthofa Publication LPBINU Jelaskan Dua Cara Hadapi Perubahan Iklim

Jakarta, NU Online

Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan, bencana gelombang panas, kebakaran hutan, angin topan dan banjir akan makin sering terjadi akibat perubahan iklim. 


Merespons pernyataan itu, Project Manager Lingkungan Hidup di Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU), Hijroatul Maghfiroh mengungkapkan bahwa ada dua cara yang harus dilakukan dalam menghadapi perubahan iklim. 


Pertama, adaptasi perubahan iklim untuk mengurangi resiko dan dampak perubahan iklim. Hal itu, menurutnya penting dilakukan secara sistematis dan menyeluruh karena dampaknya sangat masif dan berbahaya.

 

Banyak akibat telah diperkirakan terjadi dalam skala luas baik secara geografis (lokal/nasional/regional/global), tingkat (tinggi/rendah), maupun intensitas sebagai akibat terjadinya kenaikan suhu global atau pemanasan global.


“Adaptasi perubahan iklim, yaitu bagaimana kita memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan iklim yang terjadi. Kemampuan tersebut harus tersistematis,” katanya kepada NU Online, Selasa (5/10/2021).


Misalnya, kata dia, jika sebelumnya petani bercocok tanam tanaman tertentu di musim penghujan, tetapi karena perubahan iklim, musim hujan tidak bisa diprediksi, bahkan terjadi kemarau panjang. Maka perlu adaptasi agar petani tetap bisa bercocok tanam.

 

Salah satu solusinya, dengan efisiensi penggunaan air, membangun penyimpanan air (embung, dan lainnya), memulihkan daerah aliran sungai (DAS), atau melindungi sumber air.


“Adaptasi perubahan iklim tidak hanya penting bagi manusia semata. Tetapi, bagi satwa dan tumbuhan pula,” katanya lagi.


Pendekatan kedua, lanjut dia, yaitu mitigasi. Mitigasi dimaknai sebagai upaya mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Para ilmuwan sudah bersepakat bahwa pemanasan global yang menimbulkan perubahan iklim terjadi karena kerusakan lingkungan yang sebagian besar diakibatkan oleh aktivitas manusia.


“Beberapa pemicu perubahan iklim adalah tingginya karbondioksida, metana dan beberapa zat lain yang itu semua dihasilkan dari aktivitas manusia. Asap kendaraan, pabrik, zat metana yang dihasilkan dari limbah peternakan berjumlah besar, bahkan pertanian,” papar ketua koordinator bidang perekonomian PP Fatayat NU ini.


Menurutnya, banyak organisasi di Indonesia, di antaranya LPBINU yang mencoba melakukan adaptasi perubahan iklim. Walaupun dalam beberapa hal belum maksimal. Hal ini penting karena dampak perubahan iklim kini sudah mulai terlihat, termasuk kenaikan permukaan laut, perubahan pola curah hujan, insiden gelombang panas, peristiwa cuaca ekstrim lainnya.


“Oleh karenanya, LPBI-NU mengajak kita semua, terutama masyarakat NU. Paling tidak melakukan ikhtiar kecil untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Memang dampaknya tidak langsung, tetapi puluhan tahun kemudian dampak nyatanya akan dirasakan langsung oleh warga Nahdliyin kelak,” ungkapnya.


Dilansir dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), baru-baru ini ilmuwan yang tergabung dalam Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim atau IPCC memberikan peringatan berupa kode merah bagi umat manusia.

 

Hal ini disampaikan oleh Sekjen PBB Antonio Guterres setelah diterbitkannya hasil laporan kelompok kerja ilmuwan IPCC pada tanggal 9 Agustus 2021. Peringatan ini bukan hanya ditujukan untuk beberapa negara saja, melainkan untuk seluruh dunia, termasuk Indonesia.


Dimana menurut prediksi ilmuwan yang tergabung dalam IPCC, pemanasan global yang menjadi penyebab bencana cuaca ekstrim di seluruh dunia ini, dalam 20 tahun ke depan berisiko tidak lagi dapat dikendalikan. Namun dengan catatan apabila kita masih melakukan aktivitas seperti biasa atau business as usual dan tidak mengurangi emisi karbon dioksida secara ekstrim.


Dari analisis yang sudah dilakukan, ternyata sebanyak 14 ribu studi yang berkaitan dengan perubahan iklim menunjukkan bahwa penyebab kenaikan suhu bumi sebesar 1.1°C, yakni akibat pembakaran bahan bakar fosil. Salah satunya industri pembangkit listrik yang mayoritas bahan bakarnya masih menggunakan batubara.


“Peningkatan suhu bumi sebesar 1.1°C kelihatannya angka yang kecil. Namun kalau berkaitan dengan suhu bumi, efek yang ditimbulkan sangatlah besar dan destruktif. Sebut saja hujan dengan intensitas tinggi, siklon tropis, banjir, dan musim kemarau yang semakin panjang penyebab kebakaran skala besar,” kata Antonio Guterres.


Kontributor: Syifa Arrahmah

Editor: Fathoni Ahmad

Al-Musthofa Publication LPBINU Jelaskan Dua Cara Hadapi Perubahan Iklim

Source link