Berita

Malam Lebaran

Al-Musthofa Publication Malam Lebaran

Cerpen Ahmad Zaini

Ramadhan telah berada di ujung bulan. Sinar matahari di bulan suci tinggal sejengkal lenyap di rerimbunan perdu. Rohana dibantu ketiga anaknya menata berbagai menu berbuka di ruang makan. Mereka menanti detik-detik terakhir berbuka puasa. Ketika beduk magrib bertalu-talu dari masjid, Rohana memimpin anak-anaknya berdoa lalu mengawali buka puasanya dengan makanan yang manis.

Azan berkumandang di sela kegiatan berbuka. Mereka menjawabi setiap lafal azan dengan pelafalan yang tak sempurna. Rohana dan anak-anaknya tak ada niat mengacaukan atau mempermainkan ucapan tiap huruf dalam lafal azan. Akan tetapi, menu buka puasa yang memenuhi mulut merekalah yang memaksanya demikian itu.

“Cukup anak-anak kita memakan takjil. Waktu maghrib sangat pendek. Mari kita shalat berjamaah dulu!” Rohana mengajak anak-anaknya. Ketiga anaknya tak ada yang menawar waktu. Mereka bergegas  mengambil air wudlu lalu menunggu ibu terkasihnya di ruang shalat.

Usai shalat mereka duduk berzikir melantunkan bacaan istighfar, tasbih, tahmid, dan takbir. Mereka melantunkannya secara bersamaan hingga gema suara memenuhi seluruh ruang rumah. Sungguh lafal-lafal itu mampu melunakkan kerasnya hati karena nafsu dan keangkaramurkaan.

Rohana masih duduk khusuk dengan balutan mukena. Dia merogoh sukmanya sambil mengurai segala khilaf dan dosa yang pernah dia lakukan selama ini. Untaian istighfar yang terucap dari bibirnya membuka lembaran kelam hidupnya. Catatan dosa dalam memori tergambarkan secara sirri dalam benaknya. Rohana menegaskan diri bertobat kepada Allah atas dosa-dosanya. Dia memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa yang meluber bersama air mata pertobatannya.

Ada yang tak sempurna pada malam lebaran kali ini. Rohana tidak lagi bersama suaminya dalam menyelami malam lebaran tahun ini. Dia mengusir Abdul Aziz, suaminya, dari rumah yang telah dibangun dengan susah payah lantaran fitnah tetangga pada pertengahan puasa. Aziz menjadi korban fitnah perselingkuhan dengan seorang janda sehingga Rohana mengusirnya meskipun tanpa bukti. 

Rohana cemburu buta. Dia ceroboh dengan memercayai laporan tetangganya begitu saja. Ribuan kata fitnah meluncur dari mulut tetangganya. Kata-kata itu membentuk pedang kebencian yang dihunus Rohana untuk menyerang Abdul Aziz. 

“Apa maksud semua ini?” tanya Abdul Aziz setelah melihat sikap Rohana.

Rohana membuang sepiring nasi di depan Abdul Aziz. Piring tersebut hampir saja mengenai kepala anak keduanya. Untung Ratih sangat sigap menghindari piring terbang itu. Serpihan piring berserak mengurai mahligai rumah tangga yang telah mereka bina selama ini. Nasi dan lauknya berceceran memenuhi lantai putih seputih cinta Abdul Aziz kepada Rohana. Namun, putihnya cintanya telah tertutup oleh noda-noda fitnah yang telah menggelapkan mata hati Rohana. 

“Aku tak menyangka kau tega menikam saya dari belakang. Di depanku kau tampak seperti suami yang jujur dan sok romantis. Akan tetapi, di belakang kau bermain cinta dengan Maryamah. Sekarang kau pilih. Aku dan anak-anak yang keluar dari rumah ini atau kamu yang minggat ke rumah orang tuamu?” Kata Rohana dengan wajah angkara murka.

“Dik Rohana, aku tidak paham dengan semua tuduhanmu. Bermain cinta dengan Maryamah siapa?”

“Berlagak bodoh, ya? Maryamah, wanita TKW yang baru datang dari Timur Tengah, anak Pak Subhan temanmu pengurus masjid. Wanita janda, bahenol  yang telah menggelapkan matamu sehingga kau tega melupakanku dan anak-anak.”

“Astaghfirullahalazim. Atas dasar apa kau menuduhku seperti itu? Aku tak pernah melakukan perbuatan seperti yang kau tuduhkan kepadaku. Bahkan, aku baru kenal Maryamah setelah Pak Subhan menceritakan anaknya itu yang baru pulang dari Suriah. Anaknya bisa pulang dengan selamat dari negara yang bergejolak tersebut.”

“Atas dasar itu kan kamu pura-pura bersimpati dan sering mengunjungi Maryamah di rumahnya?”

“Rohana! Kau sudah termakan fitnah!” bentak Abdul Aziz.

“Fitnah!? Ini bukan fitnah. Ini fakta. Semua tetangga tahu bahwa kamu semenjak Maryamah di rumah, kau sering ke situ.”

“Rupanya kau lebih percaya pada omongan tetangga daripada mendengar penjelasanku. Aku ke rumah itu karena aku menemui Pak Subhan. Kami membicarakan persiapan pelaksanaan takbir keliling dan salat Id di masjid. Kami berunding tentang khotib salat Id. Bukan bicara tentang Maryamah.”

“Aku tidak percaya dengan semua alasanmu. Sekarang juga kamu pergi dari rumah ini atau kami yang akan pergi? Sekarang juga,” desak Rohana.

Abdul Aziz dengan muka sedih karena tuduhan palsu istrinya bangkit dari balik meja makan. Dia masuk ke kamar untuk mengemasi pakaian lalu meninggalkan istri dan ketiga anaknya yang berderai air mata sembari memainkan menu berbuka puasa. Ketiga anaknya berdiri lalu berhamburan menuju kamar masing-masing.

Selang tiga hari Pak Subhan datang ke rumah Rohana. Dia mengantarkan konsep acara takbir keliling serta rencana shalat Id yang telah dirembugkan bersama Abdul Aziz di rumahnya. Rohana sendiri yang menerima konsep dua acara yang terjilid rapi dari Pak Subhan. 

“Memang Pak Abdul Aziz di mana, Bu Rohana? Tiga hari ini saya tidak melihatnya sama sekali. Padahal, ada beberapa hal yang sangat penting untuk dibahas bersama panitia yang lain?”

“Memangnya suami saya menjabat apa dalam acara ini?” tanya Rohana penasaran.

“Pak Abdul Aziz sebagai ketua dan saya sebagai sekretarisnya. Kami berdua hari-hari ini sering mendiskusikan kedua acara tersebut di rumahku agar acara bisa berjalan dengan baik dan lancar.” Pak Subhan menjelaskannya kepada Rohana.

“O, begitu! Maaf, tiga hari ini Pak Subhan ada kepentingan di rumahnya Banyuwangi. Mungkin besok sudah pulang,” kata Rohana. Pak Subhan manggut-manggut. Dia pun pamit meninggalkan istri Abdul Aziz.

Rasa sesal mulai tumbuh dalam diri Rohana. Dia menyesali tindakannya yang telah menuduh suaminya bermain api dengan Maryamah. Dia termakan fitnah tetangganya yang iri hati pada keharmonisan rumah tangganya. Hati Rohana yang paling dalam sebenarnya tak percaya dengan fitnah itu, namun karena cintanya selama ini pada Abdul Aziz sehingga dengan mudah dia mudah terbakar gosip miring sampai-sampai cemburu buta.

“Bu, kenapa menangis?” tanya Laili, si anak bungsu.

“Ah, tidak. Ibu tidak menangis,” jawabnya sambil mengusap air matanya.

“Malam lebaran ini terasa tidak sempurna tanpa kehadiran ayah,” sambung Laili.

“Benar,” kata singkat Rohana sambil mendekap Laili.

“Besok pagi ayah harus berkumpul lagi dengan kita.”

Rohana terhenyak mendengar ucapan Laili. Dia menatap wajah anaknya yang masih duduk di bangku SMP ini dalam-dalam. Hati Rohana menangis karena terharu atas kerinduan anaknya pada sosok ayahnya. Rohana tertunduk di hadapan anaknya. Dia merasa malu karena telah mengusir suaminya tanpa alasan yang jelas. Dia ingin memutar waktu sehingga dia mencabut kata-katanya yang terakhir pada suaminya.

Laili menemui Ratih dan kakak tertuanya Fatimah. Laili menyampaikan niatnya kepada kedua saudaranya. Dia bercerita tentang ibunya yang selalu menangis dan berlinang air mata penyesalan. 

“Benarkah itu? Kalau begitu saat ini pula kita telepon ayah agar besok pagi-pagi keluarga kita menjadi lengkap lagi,” kata Amran.

Fatimah segera mengambil handphone. Dia menghubungi ayahnya yang telah berpisah dengannya selama dua minggu. Dia meminta kepada ayahnya agar segera kembali ke rumah yang telah ditempatinya selama ini. Ayahnya setuju dan menerima permintaan anak-anaknya. 

Malam semakin larut. Suara takbir menggema di seluruh alam raya. Kalimat-kalimat thayyibah yang mengagungkan Allah tiada henti merambati waktu semalam suntuk. Pada penghujung malam saat fajar mulai tampak, di pintu depan rumah Rohana terdengar suara ketukan. Fatimah, Ratih, dan Laili bergegas bangkit dari tidurnya. Mereka berhamburan menuju pintu depan. Daun pintu kayu jati mereka buka perlahan. Ternyata sosok ayah yang mereka rindukan telah berdiri di depannya. Mereka saling berangkulan dan hanyut dalam dekap kerinduan. 

Ratih dan Laili menjemput ibunya yang akan menunaikan shalat shubuh. Mereka memberi kejutan pada ibunya yang semalam suntuk melantunkan takbir di ruang salat rumahnya. Dia dipertemukan suaminya oleh anak-anaknya.

Rohana bersimpuh dengan isak tangis penyesalan. Dia meminta maaf kerena telah mengusirnya atas dasar hasutan tetangganya.

Di hari yang suci keluarga yang sempat berantakan kini menyatu lagi. Bunga-bunga permaafan memenuhi ruang hati mereka. Senyum kebahagiaan mengembang dari penghuni rumah di hari kemenangan yang penuh makna. Mereka berkumpul lagi merayakan hari raya lebaran dengan kesempurnaan.
 

Wanar, Maret 2022  

Ahmad Zaini, guru di SMKN 1 Lamongan dan Ketua PC Lesbumi NU Babat. Beberapa puisi dan cerpen sering dimuat di berbagai media cetak dan online serta telah menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi dan cerpen. Buku kumcer Lorong Kenangan dinobatkan sebagai pemenang dalam GTK Creative Camp (GCC) 2021 oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Saat ini dia berdomisili di Wanar, Pucuk, Lamongan.

Al-Musthofa Publication Malam Lebaran

Source link