Maahad Al Musthofa Mobile

Jombang, NU Online 

Salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Chasbullah, adalah sosok yang lihai melihat dan memanfaatkan sebuah kesempatan. Bahkan, dalam situasi sangat sempit sekalipun. Saat kebanyakan orang belum memahami tentang pentingnya media massa, Mbah Wahab sudah gencar memanfaatkannya.


Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, H Abdul Mun’im DZ, mengemukakan hal tersebut saat menjadi pembicara sarasehan Meneladani Mbah Wahab, Membangkitkan Spirit Perjuangan lewat Tulisan diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jombang di Pendopo Pemerintah setempat, Rabu (17/3).


“Beliau adalah seorang yang punya kesadaran media yang sangat tinggi, seluruh pernyataan Mbah Wahab itu dimediakan sehingga menjadi tersiar,” kata Mun’im.


Mbah Wahab, lanjut dia, merupakan sosok yang memiliki kepekaan dan kesadaran yang tinggi terhadap keberadaan media. Saat itu media massa yang berkembang hanya majalah dan koran. Ia memanfaatkannya dengan spirit perjuangan untuk kepentingan NU, agama, politik, dan keutuhan negara.


Dalam catatan penulis buku Fragmen Sejarah NU: Menyambung Akar Budaya Nusantara ini, di beberapa majalah dan koran tulisan sekaligus pernyataan-pernyataan Mbah Wahab masih bisa dilacak. Di antaranya di Swara Nahdlatoel Oelama (SNO), majalah NU sendiri yang ia cetuskan tidak lama setelah NU resmi berdiri.


Media saat itu masih belum banyak seperti sekarang. Namun, pengaruhnya sangat dirasakan, terutama saat para pendiri dan penggerak NU harus terus bersikeras memperjuangkan ajaran-ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah agar tersebar dengan luas.


“Contoh saat beliau pergi ke Makkah, Komite Hijaz menghadap raja Raja Ibnu Sa’ud ketika protes masalah pembongkaran Nabi, dan Itu diekspos di media,” papar Mun’im.


Lebih jauh ia menyampaikan, Pendiri Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang itu kerap kali berkomentar tentang persoalan-persoalan yang terjadi di Indonesia, baik terkait politik, keagamaan, lebih-lebih upaya mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 


“Jadi, pandangan politik beliau, pandangan agama beliau seringkali disampaikan di media. Dan disosialisasikan di berbagai kesempatan,” jelasnya.


Baginya, Mbah Wahab adalah sosok pejuang yang komplet. Bahkan NU berdiri atas dorongan dan ide Mbah Wahab. Beberapa organisasi sebelumnya juga sudah didirikan, seperti Nahdlatut Tujjar, Tashwirul Afkar, dan lain sebagainya. 


Tidak hanya itu, ia juga adalah seorang Komandan yang memimpin langsung pasukan perang. “Beliau adalah Komandan Barisan Ulama, kalau Hizbullah kan jenderalnya Zainul Arifin. Dan beliau itu langsung turun ke lapangan sendiri,” tambahnya. 


Pewarta: Syamsul Arifin

Editor: Musthofa Asrori

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link