Maahad Al Musthofa Mobile

Jombang, NU Online

Spirit pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Abd Wahab Chasbullah dalam membangkitkan ekonomi melalui pendirian Nahdlatut Tujjar cukup relevan di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang.

 

Salah satu yang digaungkan Mbah Wahab di dalam menggerakkan ekonomi masyarakat saat itu adalah memberi pengaruh kepada pemerintah dan masyarakat agar membatasi impor secara ketat. Barang-barang yang bisa diproduksi sendiri tidak boleh mendatangkan dari negara lain.

 

“Pada forum muktamar, Mbah Wahab menegaskan kita tidak boleh impor terhadap barang-barang yang bisa diproduksi sendiri, contohnya saat itu ikan asin, gula, dan sepeda,” kata H Abdul Mun’im DZ, Rabu (17/3).

 

Penegasan disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut saat menjadi narasumber sarasehan ‘Meneladani Spirit Mbah Wahab, Membangkitkan Spirit Perjuangan lewat Tulisan.’ yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jombang.

 

Dalam pandangan Mu’im DZ, pandemi Covid-19 sekarang ini tidak boleh melulu dianggap sebuah bencana. Tetapi harus dimaknai dengan sebuah kesempatan yang baik untuk membangkitkan ekonomi nasional. Pasalnya, leberalisasi ekonomi pergerakannya tidak efektif. Semua negera, kata dia, saat ini tengah sibuk mengurusi ekonominya masing-masing untuk bisa bertahan di tengah masa pandemi.

 

“Seperi Mbah Wahab, beliau dikenal dengan sosok yang hampir dipastikan menemukan jalan keluar di saat kondisi sempit,” ujarnya pada acara yang diselenggarakan di Pendopo Kabupaten Jombang tersebut.

 

Sektor ekonomi semua negara yang diterpa virus mematikan itu merosot. Karenanya, persaingan ekonomi di tengah sistem liberalisasi menjadi mandeg. Justru menurutnya, pergerakan ekonomi kecil di tengah masyarakat yang saat ini sedang menemukan titik kemajuannya. Hal ini juga yang tentu akan membantu memulihkan ekonomi nasional.

 

“Di dalam ekonomi global, kita sulit bersaing, karena tidak ada perlindungan dari pemerintah. Karena liberalisasi, pemerintah tidak boleh ikut campur dalam hal ekonomi, sehingga kita dibiarkan bersaing dengan perusahaan besar dari luar negeri yang besar-besar itu,” ucapnya.

 

Terbukti di beberapa daerah, menurut informasi yang ia terima, sektor ekonominya jauh lebih maju dibandingkan sebelum pandemi Covid-19. “Salah satunya seperti di Lamongan. Di sana sekarang ekonominya bagus,” ungkap penulis buku Fragmen Sejarah NU: Menyambung Akar Budaya Nusantara ini.

 

Untuk itu, terjadinya pandemi Covid-19 memberikan hikmah yang besar, khususnya dalam kebangkitan ekonomi, mulai lingkup kecil, hingga ekonomi nasional.

 

“Artinya, tidak benar kalau ekonomi hancur, (kalau) negara mungkin iya. Allah menurunkan pandemi Covid-19, kita harus bersyukur karena Allah memberikan perlindungan terhadap ekonomi rakyat, ekonomi nasional. Karena terjadi proses deglobaliasi,” terangnya.

 

Keinginan Mbah Wahab dalam membangkitkan ekonomi di antaranya yaitu mendirikan sentra industri di berbagai daerah. Kalau dalam kondisi Covid-19 menurutnya bisa dimaknai dengan menemukan produk ekonomi unggulan di masing-masing daerah yang bisa memikat khalayak, baik di lingkungannya sendiri, maupun di ranah yang lebih luas.

 

“Misalnya, Jombang unggulannya apa, Nganjuk unggulannya apa, dan seterusnya, sehingga menjadi kekuatan ekonomi bersama,” pungkas pria asal Jombang ini.

 

Pewarta: Syamsul Arifin

Editor: Ibnu Nawawi

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link