Berita

Menengok Khutbah Idul Adha di Jerman

Al-Musthofa Publication Menengok Khutbah Idul Adha di Jerman

Bonn, NU Online

Idul Adha 1442 H di Bonn Jerman dilaksanakan pada Selasa (20/07), dengan penuh khidmat. Perayaan Idul Adha adalah momen mempererat tali silaturahmi antar komunitas muslim yang ada di Jerman, khususnya di kota Bonn.

 

Kasus pandemi korona di negara Jerman telah menurun drastis dan sebagian masyarakat telah divaksin. Namun, kegiatan shalat Idul Adha tetap dilaksanakan menggunakan protokol kesehatan yang ketat, menjaga jarak, dan bertempat di ruang terbuka.

 

Kegiatan yang diprakarsai Indo Muslim Bonn (IMB) bersama Muslimah Bonn ini diikuti oleh segenap diaspora muslim Indonesia yang ada di Bonn dan kota sekitarnya. Sesepuh dan Ketua Indo Muslim Bonn, H Ibrahim Omar, mengundang PCINU Jerman untuk mengisi khutbah pada Shalat Idul Adha tersebut.

 

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Konsul Jenderal RI – Frankfurt, Acep Somantri dan beberapa jajarannya. Shalat dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat.

 

Rais Syuriah PCINU Jerman, KH Syaeful Fatah yang didaulat sebagai khatib pada shalat Idul Adha 1442 H ini, menyampaikan pesan tentang pentingnya proses internalisasi lafadz Lâ ilâha illallâh dalam kehidupan.

 

Ia menjelaskan pentingnya pelaksanaan syariat Islam dengan berazaskan Ahlussunnah wal Jamaah. Selain itu, Rais Syuriyah PCINU Jerman juga memaparkan urgensi mencontoh metode akhlak oleh para kiai dan ulama seperti Imam Al-Ghazali di zaman sekarang.

 

“Proses belajar mengajar merupakan rangkaian kegiatan yang seharusnya dilaksanakan secara terus menerus di dalam kehidupan,” kata Kiai Syaeful.

 

KH Syaeful Fatah menjelaskan tentang pentingnya memahami kalimatul haq (kalimat yang benar) di manapun berada, yaitu Lâ ilâha illallâh. Seorang Muslim seharusnya setiap hari terus menerus melafalkan dan menjaga kalimat tersebut. Menurutnya, Islam telah memberikan cara untuk tetap melafalkan kalimat tersebut setiap hari, yaitu melalui pembacaan di dalam setiap shalat.

 

Meskipun begitu, terkadang ada sebagian masyarakat yang tidak sempat melaksanakan shalat karena kesibukan kerja ataupun hal yang lain, tetapi ada juga yang sangat giat mengerjakan shalat sunah, tahajud setiap hari. Manusia berbeda-beda.

 

“Namun, yang terpenting adalah bagaimana cara kita secara bersama-sama menjaga shalat, sebagai bagian dari jamaah dan sebagai seorang muslim,” tambahnya.

 

Proses internalisasi lafadz Lâ ilâha illallâh dalam kehidupan merupakan hal yang sangat krusial. Hal tersebut adalah salah satu cara seorang muslim menjaga keimanan. Proses internalisasi ketauhidan dan ilmu dapat dilakukan dengan terus-menerus, mengulang-ulang hal tersebut.

 

Perulangan sebagai Proses Internalisasi Ilmu

Menanggapi hal itu, seorang muslim semestinya dapat merefleksikan bahwa proses pembelajaran manusia tidak didesain seperti transfer file pada komputer. Tetapi bagaimana pengetahuan, pemahaman dan kesadaran baru yang didapatkan bisa diinternalisasikan ke dalam diri. Terinstal menjadi kebiasaan dan menjadi sebuah karakter.

 

“Perulangan adalah sebaik-baiknya proses internalisasi ilmu pengetahuan,”katanya.

 

Dalam suatu pengajaran, seorang muslim semestinya selalu mengulang-ulang secara gradual. Karena kalau tidak sering dan tidak terus-menerus mengulang ilmu tersebut dalam kehidupan akan mudah sekali lupa. Pengulangan dalam hidup mulai dari lahir, tumbuh dewasa, menikah, dan akhirnya meninggal semestinya ada proses internalisasi Lâ ilâha illallâh di setiap jenjang kehidupan.

 

“Jadi misalnya, proses perulangan tersebut tidak cukup hanya dilaksanakan sampai atau saat kita menikah saja, tetapi setelah menikah kita perlu mengulang-ulang lagi pemahaman serta proses internalisasi ilmu keislaman dan ketauhidan tersebut. Perlu sekali adanya pembinaan terus-menerus,” ujarnya.

 

“Kita harus bisa terus-menerus membimbing dan membina masyarakat. Kita bersama-sama mengajak melantunkan Lâ ilâha illallâh. Diharapkan dengan adanya perulangan kalimat tersebut bisa menolong seseorang untuk terus-menerus mengingat kepada Allah dalam kehidupan,” pungkas Kiai Syaeful Fatah.

 

Kontributor: Ahmad Mustafid

Editor: Aiz Luthfi

Al-Musthofa Publication Menengok Khutbah Idul Adha di Jerman

Source link