Berita

Menjaga Lingkungan Hidup – Pondok Pesantren Lirboyo

Al-Musthofa Publication Menjaga Lingkungan Hidup - Pondok Pesantren Lirboyo
[*]

Dalam ayat Al-Qur’an, ada beberapa kosa kata penting yang berkaitan dengan konteks agama dalam memelihara lingkungan. Salah satunya Firman Allah yang terdapat pada surat Ar-Rum ayat 41. Allah berfirman:

            “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum 30:41)

            Perkataan al-fasad (kerusakan) di sini terjadi di dunia ini akibat dari ulah tingkah laku manusia. Sedangkan kini diperlukan adanya tindakan yang nyata terkait mentelaah, membahas, melihat dan menalar mengapa kerusakan terjadi. Allah Swt telah menciptakan alam ini untuk kepentingan manusia. Hubungan manusia dengan alam adalah hubungan sebagai pemelihara yang saling membutuhkan satu sama lain.

            Oleh karena itu, yang kini harus dilakukan oleh manusia adalah bersahabat dengan alam serta memperlakukannya dengan baik, maka alam pun akan berkidmah kepada manusia. Sehingga tugas manusia memelihara dan memakmurkan ala mini. Bukankah adanya penciptaan alam ini manusia diberi amanah untuk menjadi khalifah sebagai pengatur dan pemelihara, memakmurkan dan mengeksploitasi alam ini dengan bijaksana.

            Betapa banyaknya kemanfaatan yang dapat manusia peroleh dari alam, sesuai dengan kepentingannya. Tidak ada sesuatu pun yang diciptakan oleh Allah Swt secara sia-sia. Kecuali manusia dapat memanfaatkannya. Sungguh tidak beradab manusia, jika sesuatu yang telah disiapkan untuk dirinya, malah dirusak olehnya.

             Lingkungan yang merupakan alam tempat manusia berada di dalamnya, sudah seharusnya menjadi tanggung jawab dalam menjaga kelestarian (ungkapan yang memiliki makna pemeliharaan, hifdzul-bi’ah). Pemeliharaan lingkungan sejatinya bukan hanya untuk kepentingan manusia itu sendiri, melainkan juga memelihara semua makhluk Allah Swt dikarenakan manusia juga banyak bergaul dengan makhluk lain, baik makhluk hidup yang bernyawa maupun makhluk hidup yang tidak bernyawa.

            Penyebab terjadinya bencana alam

            Akhir-akhir ini sering kita jumpai munculnya bencana alam, seperti: gempa bumi, tsunami, banjir, pembalakan hutan, longsor, cuaca ekstrim dan tidak menentu, kebakaran dan bencana-bencana lainnya. Secara umum, terjadinya degradasi lingkungan hidup ada dua penyebbab, yaitu: penyebab yang bersifat langsung dan tidak langsung.

            Penyebab tidak langsung menjadi sebab yang sangat dominan terhadap kerusakan lingkungan secara nyata. Dalam artian, rusaknya ekosistem dalam hal ini manusia tidak memiliki peran, misalnya: gunung Meletus, gempa bumi, tsunami, dan lain-lain.

            Sedangkan penyebab yang bersifat langsung, banyak dilakukan oleh perbuatan manusia yang mengekspoitasi lingkungan secara berlebihan. Bila kita observasi adanya persoalan tersebut, dikarenakan desakan kebutuhan, keserakahan, gaya hidup (lifestyle) yang mewah serta kurangnya rasa sadar diri betapa pentingnya menjaga lingkungan hidup. Kita bisa mengambil beberapa contoh, misalnya: menebang hutan secara liar dan ilegal, membuang sampah sembarangan, membendung aliran sungai sehingga menciut, pembuangan limbah industri dan lain sebagainya.

Baca Juga: Dahsyatnya Pengaruh Lingkungan.

            Hal ini secara eksplisit telah disebutkan oleh Al-Qur’an pada kalimat “Bimaa kasabat aidinnas”. Redaksi tersebut banyak dipahami oleh pakar ahli tafsir bukan menunjukan perilaku manusia secara langsung dalam konteks kerusakan alam, seperti: penebangan hutan secara liar dan ilegal, membuang sampah sembarangan, pembuangan limbah industri dan lain sebagainya, melainkan mengacu pada perilaku manusia yang non fisik, seperti: kemusyrikan, kefasikan, kemunafikan, dan segala bentuk kemaksiatan. Dalam artian, penyimpangan akidah dan perilaku kemaksiatan itulah yang menjadi sebab mendasar terjadinya kerusakan lingkungan.

            Dalam penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwasannya terjadinya bencana pada hakikatnya adalah sebagai akibat dari rusaknya mentalis dan moralitas manusia. Kerusakan mental inilah yang dapat mendorong seseorang melakukan pebuatan yang destruktif, baik yang berkaitan langsung dengan kerusakan alam, seperti: korupsi, suap, kerakusan, keserakahan, kejahatan ekonomi dan lain sebagainya.

            Manusia memang diberi kebebasan dalam mengeksplorasi alam demi memenuhi kebutuhan hidupnya. namun yang harus disadari oleh manusia justru “Bersahabat” dengan alam, baik secara langsung seperti: peduli dan menjaga lingkungan, maupun tidak langsung, seperti: mengembangkan kebajikan kepada semua orang, berlaku jujur, adil, berani, berkorban, peduli sesama makhluk lain dan tidak berlebihan dalam mengeksploitasi alam.

Simak Juga: Nasionalisme Religius.

            Ala kulli hal, demikian keberadaan manusia sebagai khalifah-Nya harus dibarengi dengan kesadaran bahwa dirinya merupakan satu kesatuan dari makrokosmos. Di sisi lain, juga dimaksudkan untuk mencari solusi bersama dalam menangani bencana, seperti: Gerakan penghijauhan, mengfungsikan kembali serapan-serapan air, membangun pemukiman penduduk pasca bencana dan lain sebagainya. Wallahu ‘alam [*]

Penulis: Mohammad Ghozy Al-Farhan Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo.

[*]Al-Musthofa Publication Menjaga Lingkungan Hidup - Pondok Pesantren Lirboyo
[*]Source link