Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online 

Spirit ajaran Islam sesungguhnya sangat memanusiakan perempuan, namun banyak disalahgunakan atau dipahami dengan cara-cara yang melemahkan perempuan. Ini menjadi sebab pentingnya nalar kritis Muslimah supaya tidak hanyut dalam pemahaman Islam contohnya menstruasi.

 

Hal ini diungkapkan Nur Rofiah, Dosen tetap Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta dalam diskusi Muslimah Reformis bertajuk Puasa untuk Kesehatan Reproduksi, Sabtu (17/4).


Menstruasi, kata Rofiah, adalah bagian dari kemanusiaan perempuan secara biologis. Oleh karena itu penting disadari bahwa untuk memanusiakan perempuan harus lengkap dengan takdir kemanusiaan yang berbeda itu. “Jadi sistemnya dari Tuhan, tapi menyikapinya dari manusia,” jelas Nur Rofiah.

 

“Sayangnya perbedaan biologis itu menjadi bagian dari kemanusiaan perempuan dan laki-laki yang disikapi manusia dengan cara menistakan,” imbuhnya.


Nur Rofiah menjelaskan pengalaman perempuan biologis dekat sekali dengan darah baik itu darah saat menstruasi, nifas, melahirkan maupun istihadah. Sementara itu, tidak semua manusia punya akses yang baik seperti akses pembalut, sehingga darah perempuan identik negatif.

 

Sehingga, lanjutnya, darah perempuan dianggap sesuatu yang tidak hanya buruk tapi juga membahayakan. Perempuan dianggap kutukan apa pun yang disentuh perempuan akan rusak bahkan tatapan mata saja dengan perempuan akan menimbulkan sial atau tabu.


Kondisi perempuan saat menstruasi dalam tradisi Arab

Pengampu Ngaji Kesetaraan Gender Islam itu menceritakkan kondisi perempuan dalam tradisi Jazirah Arab yang bertolak belakang dengan Al-Qur’an.

 

“Tradisi di Jazirah Arab dahulu setiap perempuan yang sedang menstruasi dikucilkan, dikurung dan diasingkan di Gua sendirian supaya dampak negatif perempuan tidak ke mana-mana,” ungkapnya.


Tradisi ekstrem lainnya yakni perempuan tetap disetubuhi dalam kondisi menstruasi. Padahal al-Qur’an justru mengubah cara pandang yang buruk itu dengan cara empati dan ayat tentang menstruasi dalam Al-Qur’an menjelaskan perempuan menstruasi bukan sebagai makhluk yang nista tetapi sebagai orang yang mengalami rasa sakit.

 

Ayat tersebut berbicara tentang menstruasi tetapi ditujukkan kepada suami. “Jadi, ciri suami yang shaleh yaitu sayang istri ketika menstruasi dan ia sadar istrinya sedang mengalami sakit,” kata Perempuan kelahiran Pemalang itu.

 

Agama mengubah cara pandang terhadap perempuan 

Menstruasi memang menyakitkan, bahkan sakitnya dirasakan sejak sebelum menstruasi. Karena itu, dalam fiqih disebutkan tidak boleh berhubungan kalau sedang menstruasi. Begitu pula dalam islam ada tuntunan bukan hanya halal tapi thoyib bahkan ma’ruf  sebagai makhluk yang berakal dan berbudi.

 

PPerubahan cara pandang perempuan yang sedang menstruasi adalah mereka yang merasakan sakit. Maka ayo bantu bersikap sesuatu yang meringankan mereka,” ajak penulis buku Nalar Kritis Muslimah itu.

 

Saat Ramadhan perempuan tidak diwajibkan puasa ketika dalam kondisi menstruasi. Maka dari itu hadist yang mengatakan bahwa perempuan kurang ibadahnya karena menstruasi mestinya dipahami secara nilai bukan jumlah. 

 

Nur Rofiah mengingatkan agar perempuan tak perlu minder jika ada pemahaman islam yang mendiskriminasi perempuan. Perempuan tidak menjalankan puasa karena agama melarang berarti dia taat terhadap perintah agama. Mengikuti aturan agama bukan berarti perempuan berkurang kualitas agamanya.

 

“Mengapa perlu nalar kritis Muslimah? Karena ajaran agama yang sebetulnya memuliakan perempuan termasuk kemanusiaan perempuan yang berbeda terhadap laki-laki seperti menstruasi itu diapresiasi dan tidak menjadi alasan perempuan dipinggirkan dalam ritual puasa dan sebagainya,” tandasnya.

 

Kotributor: Suci Amaliyah 

Editor: Kendi Setiawan

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link