Maahad Al Musthofa Mobile

Sumenep, NU Online

Menuju Aswaja-Materialis: Aswaja, Sains Marxisme dan Post-Moderatisme Islam adalah judul buku hasil oleh pikir Moh Roychan Fajar, seorang Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sumenep, Madura.


Royhan, begitu ia akrab disapa menuturkan, bahwa buku tersebut hadir sebagai sebuah gugatan epistemik atas wacana dan kajian-kajian Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang selama ini menjadi lokus amaliyah sosial-keagamaan Nahdliyin, yang tentu masih terdapat bermacam problematika yang berkelindan di dalamnya.


Dirinya pun mengaku, bahwa saat ini Aswaja kehilangan nilai-nilai progresif dan emansipatifnya. Seolah-olah menjadi ajaran yang bisu di atas berbagai problem-problem struktural yang hari ini berlangsung karena kapitalisme-neoliberal yang sangat ekspansif.

 

“Oleh karena itu, sebagai kerangka teoritis, Aswaja-Materialis hadir sebagai ‘gugatan epistemik’ atas wacana dan kajian-kajian Aswaja, yang selama ini dominan dikampanyekan dalam studi Islam arus utama,,” ujarnya, Jumat (23/4).

 

Ia pun menyebutkan bahwa kajian-kajian Aswaja dimaksud kini tampak cenderung elitis, hiper-moderat dan ideasional. Bahkan, terkadang teralienasi dalam problem-problem struktural yang sengit dan keras di akar rumput.


“Dalam buku ini, saya menggunakan pendekatan, manhaj al-fikr dan metodologi dari Sains Marxisme. Sebagai gugatan epistemik, tentu konsepsi teoritis yang terbangun dalam buku ini nampak baru,” sebut Mantan Koordinator Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Sumenep ini.


Kendati demikian, dirinya menegaskan bahwa konsepsi teoritis tersebut diproyeksikan untuk membangun spirit perjuangan kelas di akar rumput. Tentu hal dimaksud tetap dalam bingkai ideologi Aswaja An-Nahdliyah. Namun, Aswaja dalam pendekatan ini tidak lagi hadir dalam bentuknya yang hiper-moderat dan ideasional. Sebaliknya, ia hadir dengan wujud yang lebih ‘segar’ dan lebih progresif.


“Hingga nantinya dapat diproyeksikan sebagai sebuah pijakan teoritis dalam membangun spirit perjuangan kelas di akar rumput,” ungkapnya.


Alumni Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk Sumenep tersebut mengaku bersyukur sekali akhirnya buah pemikirannya selama ini dapat terbit sebagai buku. Namun, dirinya menggarisbawahi bahwa selesainya naskah tersebut bukan berarti usainya isi, pemikiran, atau substansi yang terkandung dalam buku tersebut.


“Akan tetapi, menjadi momen awal, hipotesis-hipotesis pemikiran dalam naskah ini akan diuji ulang, dikembangkan dan diperluas; melalui ruang-ruang perdebatan, kritik dan sanggahan. Tentu saja secara ilmiah,” pungkasnya.

 

Penulis: A Habiburrahman

Editor: Kendi Setiawan

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link