Maahad Al Musthofa Mobile

Bogor, NU Online

Dalam kitab Hasyyah Miqrotussu’ud wa Tasydiq karya Syaikh Nawawi Al Bantani diungkapkan hari kiamat menjadi kerinduan bagi umat Islam, yang telah siap dengan bekal amal kehidupan. Kiamat tersebut akan terjadi pada waktu fajar di hari Jumat. Bagi orang mukmin, kedatangan hari kiamat terasa ringan seringan umat Islam yang melaksanakan shalat lima waktu.

 

Demikian beberapa poin yang disampaikan dalam kegiatan Dzikir, Shalawat, dan Bedah Kitab Hasyyah Miqrotussu’ud Wa Tasydiq karya Syaikh Nawawi Al Bantani yang digelar oleh Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor, Kecamatan Gunungsindur, Bogor, Ahad (14/3). Kegiatan itu bertempat di Wisata Pancing, Kampung Batutapak, Desa Cidokom, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

 

Bedah kitab karya ulama Nusantara ini dipimpin oleh Hodari Mahdan Abdallah atau yang akrab disapa Gus Hodari. Menurut Gus Hodari, dalam pembahasan kiamat, mushanif atau pengarang kitab memaparkan pendapat ulama yang bernama Syaikh Fasyani. Kiamat yaitu sesuatu yang terjadi secara merata dan berbarengan dengan tiba-tiba atau dadakan. 


“Waktunya pada fajar hari Jumat, untuk bulan dan tahunnya tidak dijelaskan,” beber Gus Hodari.


Kemudian dijelaskan bahwa Syaikh Nawawi meyakini proses peniupan trompet sangkakala berjumlah dua tahap. Hal itu selaras dengan pemahaman mufasir Yusuf Qordhowi. “Ada yang berpendapat satu tiupan ada yang dua dan ada juga yang tiga kali tiupan. Semua khilafiyyah, dan Syekh Nawawi meyakini yang dua tiupan,” jelasnya.


Meski terjadi perbedaan, sambung Gus, para ulama memiliki alasan atau berdasar pada atsar yang jelas yakni bersumber dari Al-Qur’an. “Semua punya dalil. Dan, semua ulama tak ada yang menerangkan secara jelas waktu kiamat, tahun maupun bulannya,” sambung Gus Hodari.


Terpenting dari pengetahuan kiamat, kata Gus Hodari, adalah memperbanyak amal shaleh untuk bekal di akhirat kelak. Setelah umat Islam terbiasa dalam beramal, mereka termasuk orang yang justru merindukan datangnya kematian atau bahkan kiamat.


“Tanpa tahu jadwal pasti kiamat, kita bisa terus berbuat baik dan beramal hingga tiba ajal kita,” pungkasnya.

 

Kegiatan ini merupakan salah satu program yang saat ini tengah digalakkan adalah MDS Gunungsindur.  Syarifuddin, selaku Ketua MDS Rijalul Ansor Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bogor mengatakan keberadaan majelis sebagai wadah untuk terus menjaga syiar. Karenanya para individu membutuhkan wawasan keislaman yang memadai. 


“Untuk meningkatkan kualitas para pengurus kami rasa penting kegiatan bedah kitab ini,” kata Syarifuddin.

 

Tak hanya untuk mengingat Allah SWT, adanya majelis ini juga untuk mempelajari dan memperdalam literasi para ulama Indonesia. Sehingga, keilmuan dari ulama tersebut dapat menjadi ruh gerakan. “Semoga bisa terus istiqomah. Setelah kitab ini khatam, kami akan bedah kitab lainnya,” imbuhnya.

 

Pada kegiatan malam itu, sebelum memulai bedah kitab, para pengurus MDS lebih dulu membacakan shalawat, membaca ratib, dan tahlil.

 

Kontributor: Usman Abdul Azis

​​​​​​​Editor: Kendi Setiawan

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link