Berita

Norma Manusia yang Tercatat dalam Al-Qur’an

Al-Musthofa Publication Norma Manusia yang Tercatat dalam Al-Qur’an

Manusia akan selalu membuat kemajuan baru dalam kehidupannya. Dengan akal yang mereka miliki, ia tidak akan segan-segan berhenti berfikir untuk membuat inovasi-inovasi baru yang akan mendatangkan kemudahan dalam menjalani hidup ini. Mereka akan terus membangun peradabannya sampai tidak ada kehidupan lagi di dunia.

Al-Qur’an telah mencatat, mempercayakan manusia untuk dijadikan sebagai khalifah di bumi. Mereka diperintahkan oleh Allah Swt. untuk mendirikan norma-norma (hukum) yang telah ditetapkan, dan melestarikan keharmonisan dalam mengatur segala hal yang ada di dalamnya.

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (al-Baqarah: 30)

Sebagai manusia, seharusnya dapat berperilaku dengan bijak, memanfaatkan dengan baik apa saja yang telah Tuhan berikan kepada kita dan tidak menyia-nyiakannya. Yang memiliki kekayaan lebih, harus bisa berlaku adil dengan membagi sebagian hartanya kepada yang membutuhkan. Yang diberikan anugerah kecerdasan, jangan sampai lupa membaginya dengan orang lain.

Namun sebagai manusia, melihat dari tatanan peradabannya, mereka selalu diliputi sifat serakah. Ia selalu menginginkan kenikmatan hanya untuk dirinya atau kelompoknya saja. Mereka tidak mau berbagi dengan saudaranya. Hal ini yang selalu memunculkan krisis dan konflik yang tidak ada habisnya. Mulai dari krisis ekonomi hingga lunturnya rasa perdamaian, yang diikuti menyebarnya kekacauan hanya karena ia ingin menguasai dunia. Hal tersebut membuat penciptaan manusia jauh dari keterangan yang berada dalam al-Qur’an (Al-Buthi, tt).

Orang yang memiliki kekayaan berlebihan, akan terus menambah kekayaan dan tidak peduli bahwa banyak orang yang menderita akibat keserakahannya. Mereka seperti menginginkan dunia berada dalam genggaman tangannya. Bahkan, jika pun ada pekerjaan yang dapat memuaskan hasratnya dengan menindas kelompok lain, hal tersebut akan dilakukan.

Kompetisi yang diwujudkan dari inovasi dalam peradaban manusia, seringkali memunculkan persaingan yang tidak sehat. Kompetisi seperti ini biasanya ditenggarai atas sifat serakah dan hanya ingin menang sendiri. Pembangunan yang ada, hanya akan membuat kemajuan di satu pihak saja, dan merugikan dipihak yang lain.

Said Buthi Ramadhan dalam Manhaj Hadhorotil Insaniyyah, mengatakan kurang lebih: “Tak henti-hentinya kita temukan sebuah bangsa yang melebarkan pembangunan peradaban dengan cara demikian. Ia akan menyibukkan satu tangannya untuk mengembangkan peradaban dan segala faktor penyebabnya. Dan di waktu yang sama, bangsa tersebut mengulurkan tangan yang lain untuk menyalakan api permusuhan dan peperangan antara satu bangsa dengan bangsa yang lain.”

Ketika ada bangsa dalam keadaan aman dan tidak ada sedikit yang menampiknya, pasti ada negara yang sedang mengalami peperangan. Penyebab dari hal ini ialah kerakusan nafsu manusia.

Penggambaran saja seperti ini, mereka saling berlomba-lomba menciptakan alat paling canggih dalam segala hal. Tidak kurang semisal ingin menciptakan pengghancur massal atau nuklir. Dengan pengetahuan dan keilmuan, hal tersebut bisa kita dapatkan. Tetapi ketika penemuan telah wujud, jika didiamkan saja, atau tidak diuji coba, bagaimana bisa mengetahui kemanfaatan, atau sekedar melihat dan mengetahui sebatas mana pencapaian itu. Maka Ia menjadikan daerah lain sebagai tempat uji coba. Sebab, ia juga tidak sudi dan tidak mau ketika negaranya hancur. Ia menggunakan beberapa umpan dengan kelompok lain, supaya ia tidak didakwa sebagai dalang. Sehingga diri dan negaranya tetap dalam keadaan aman. Masih banyak negara-negara yang menjadi teror atas kebiadaban dan ketamakan manusia.

Kecenderungan kepada dunia yang menggelora, menyebabkan kenyataan yang diwujudkan manusia tidak seperti asal penciptaannya. Meraka salah pengertian bahwa dunia adalah hal yang mereka cari. Padahal, tidak seperti itu.

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَى

“Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (An-Nisa: 77)

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِ (196) مَتَاعٌ قَلِيْلٌ ثُمَّ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ  (197)

“Jangan sekali-kali kamu terperdaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) diseluruh negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara. Kemudian tempat kembali mereka adalah neraka Jahannam. (Jahannam) itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” (Ali-Imran: 196-197)

Kompetisi memang baik, membikin suatu pekerjaan yang lebih dinamis dan mampu memberikan gerak agar terus tergerak maju. Kompetisi membuat inovasi-inovasi baru untuk perubahan dalam peradaban manusia. Tetapi jika kompetisi dibuat tidak untuk saling menyejahterakan dan hanya mengerahkan pemiliknya agar bisa menjadi yang paling berkuasa, ini hanya akan mengalami kemunduran dalam peradaban.

Maka, perlu kembali perenungan dengan lebih hikmat untuk mewujudkan bahwa kita memang benar-benar layak untuk dijadikan kholifah di atas muka bumi ini. Kemajuan peradaban manusia dan keharmonisan yang ada di dalamnya, bisa dengan mudah kita dapat, yaitu melalui kompetisi yang dibarengi tidak hanya dengan akal sehat, tetapi juga dengan kerja sama. Bukan disertai dengan syahwat (nafsu) atau dengan rasa dendam (marah).

Seperti yang dipaparkan oleh Imam Sulaiman bin Umar al-Ajily dalam Tafsir Futuhatil Ilahiyyah “Sesungguhnya dalam setiap jiwa manusia, ada tiga perkara yang paling kuat dalam menentukan arah peradaban. Di antaranya; syahwat, marah, dan akal. Dua perkara yang awal, hanya akan menghasilkan kemunduran dalam kepribadian manusia. Sedangkan urutan yang terakhir, mengantarkan kesempurnaan dan keutamaan dalam kehidupan manusia.”[]

Norma Manusia yang Tercatat dalam Al-Qur’an
Norma Manusia yang Tercatat dalam Al-Qur’an
Norma Manusia yang Tercatat dalam Al-Qur’an

Baca juga: Sejarah Peradaban Kalender Arab
Jangan lupa like & subcribe youtube Pondok Lirboyo

Al-Musthofa Publication Norma Manusia yang Tercatat dalam Al-Qur’an

Source link