Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Kekerasan berbasis gender online kerap menyasar kaum perempuan. Hal itu menggunakan perangkat online sebagai medianya. Bantuk kasusnya seperti sexting sebagai aktivitas mengirim atau menerima pesan tidak pantas yang sengaja disebarkan melalui platform media berbasis onlien seperti media sosial.


Penjelasan tersebut disampaikan Pendiri dan Pengasuh MTM Al-Anwar, Kediri, Nyai Nur Afiyah, saat mengisi ceramah di acara Ngabuburit bersama Ulama Perempuan, Jumat (16/4).


Dikatakan Nyai Nur Afiyah, banyak ditemukan peningkatan kekerasan seksual di masa pandemi, bahkan di bulan Ramadan, padahal menurutnya, esensi berpuasa adalah Shiamul Jawari yang berarti mempuasakan seluruh anggota tubuh dari segala kemaksiatan dan hal-hal buruk.


“Ketika kita berpuasa maka puasakan juga kedua mata kita dari melihat segala sesuatu yang tidak pantas, melihat segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah, mempuasakan hati kita dari berangan-angan, berimajinasi, berfantasi hal-hal yang tidak berguna, inilah esensi berpuasa,” ujarnya.


Nur Afiyah mengingatkan, setiap anggota tubuh manusia kelak akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan selama di dunia dengan mengutip ayat 24 dalam surat An-Nur. 


“Pada hari itu seluruh anggota tubuh lidah, tangan, kaki, akan bercerita di hadapan Allah, maka, dari sini sudah jelas bahwa sexting itu sangat berbahaya,” terangnya. 


Sebab, sexting berpotensi menggiring pelakunya dengan tanpa sadar melakukan sesuatu yang tidak bermoral dan tidak dibenarkan oleh agama. Dengan demikian, Nyai Nur mengimbau kepada para orang tua untuk selalu mendampingi anaknya ketika berselancar di media sosial, dan memahami media apa saja yang sering digunakan oleh anaknya. 


“Hal ini juga penting untuk para milenial untuk menjauhi sexting, lebih-lebih di bulan puasa,” tandas dia.


Kontributor: Syifa Arrahmah

Editor: Fathoni Ahmad

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link