Berita

Orang Baik Akan Resah Ketika Ilmunya Tidak Tersalurkan

Al-Musthofa Publication Orang Baik Akan Resah Ketika Ilmunya Tidak Tersalurkan

Semarang, NU Online

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Bahauddin mengungkapkan, salah satu ciri khas orang baik adalah merasa resah ketika ilmu yang dimiliki tidak tersalurkan kepada orang lain.

 

Menurut Pengasuh Lembaga Pembinaan Pendidikan dan Pengembangan Ilmu Al-Qur’an (LP3IA), amanat pertama bagi pengampu ilmu dari Allah ialah wajib mengajak dan mengertikan yang tidak mengerti, serta memintarkan yang tidak pintar. Karena nikmat pintar harus dirasakan oleh orang banyak.

 

“Yang dikatakan kebaikan itu adalah satu ilmu, keyakinan, atau pengalaman baik yang bisa dirasakan oleh orang lain. Jadi, jangan merasa hal ini milik kita, lalu kita nikmati sendiri. Itu namanya egois!” kata Gus Baha, sapaan akrab KH Ahmad Bahauddin pada Tabligh Akbar Kebangsaan dalam rangka semarak 21 tahun Dies Natalis Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (24/7).

 

Menurut kiai kelahiran Rembang, 1970 ini, lembaga pendidikan sangatlah penting sebab mereka bisa memanaj hati, keilmuan, dan potensi agar semuanya menjadikan kita kenal kepada Allah Swt.

 

Alumnus Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, ini menegaskan, semua nabi dalam kitab tafsir dijelaskan adalah orang yang memberitahu. Maka dari itu, menurut Gus Baha sangatlah mulia tugas para kiai, ulama, dosen, guru, dan pengampu ilmu.

 

“Karena ciri khas nabi itu mengartikan. Sehingga di dalam Al-Qur’an dijelaskan secara berulang; ingat peristiwa ini, ingatlah, kaji, dan pelajari prahara yang dialami orang-orang sebelum kamu. Semua itu mengarah ke ilmu dan harus ada penjelasan,” ungkap Gus Baha.

 

Adapun cara dalam memberikan penjelasan menurut Gus Baha, sebagaimana dianjurkan Al-Qur’an ialah dengan membuat analogi agar dapat dipahami orang banyak.

 

Sebagai contoh, Gus Baha bercerita, ketika orang-orang kafir di Mekkah pada zaman dulu Tuhannya sangat banyak. Sebab orang Arab kala itu berpikir, semakin banyak masalah, maka Tuhannya harus banyak pula.

 

Untuk menjadikan mereka bertuhan satu, terang Gus Baha, maka Nabi Muhammad membuat dua analogi; “Jika kalian punya majikan banyak kemudian perintahnya berbeda-beda, sama punya majikan satu dan perintahnya sama, kalian akan pilih mana? Lalu, orang kafir tersebut berkata jika mereka suka punya majikan satu.”

 

Nabi berkata; Tuhan itu majikan kamu, jika punya Tuhan banyak dan perintahnya berbeda-beda, maka akan bingung untuk taat kepada majikan yang mana. Akhirnya orang kafir itu bilang; “ya sudah Muhammad, Tuhannya satu saja”.

 

Lalu analogi kedua, Gus Baha mengutip Surah Ar-Rum ayat 28:

 

Dlaraba lakum matsalam min anfusikum, hal lakum mimmaa malakat aimaanukum min syurakaa’a fii maa razaqnaakum fa antum fiihi sawaa’un takhaafuunahum kakhiifatikum anfusakum.”

 

Terjemahan “Dia membuat perumpamaan bagimu dari dirimu sendiri. Apakah (kamu rela jika) ada di antara hamba sahaya yang kamu miliki, menjadi sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu, sehingga kamu menjadi setara dengan mereka dalam hal ini, lalu kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada sesamamu.”

 

Memaknai analogi kedua, Gus Baha menganalogikan, jika seorang membeli kendaraan dengan uang hasil kerja kerasnya, dari warisan orang tua, atau dari apa saja yang sumber materi miliknya. Kemudian ada orang yang merasa memiliki kendaraan tersebut, seperti pemiliknya.

 

Menurut Gus Baha, hal tersebut menjadi peristiwa aneh. Tidak ikut beli kendaraan, tetapi merasa memiliki, menguasai dan memakai sama seperti pembelinya.

 

Sama halnya dengan Allah. yang menciptakan langit dan bumi dengan sendiri. Lalu kemudian ada Tuhan-Tuhan yang dipertuhankan ikut menuhani bumi, sementara tidak terlibat dalam penciptaan langit dan bumi.

 

“Untuk menuhani bumi dan langit harus ikut menciptakan bumi dan langit. Sementara kita tahu pencipta langit dan bumi hanya Allah Swt,” tegas Gus Baha.

 

Namun, lanjutnya, Allah secara indah menjelaskan betapa naifnya teori syirik, teori menuhankan selain Allah, dengan analogi jika kita punya barang yang dibeli dengan harta dan aset kepunyaan kita, apakah kita ridha jika ada orang lain yang merasa memiliki barang itu setingkat kita dan merasa persis dalam penguasaan barang milik kita.

 

“Pasti kita tidak mau, begitupun dengan Allah. Masak yang tidak ikut menciptakan langit dan bumi kamu pertuhankan setingkat Allah,” papar Gus Baha.

 

Dari peristiwa tersebut, akhirnya penyembah latta dan beberapa orang musyrik lain sadar dengan analogi itu dan mereka pun mau bertauhid dan menyembah Allah.

 

“Islam itu agama Ilmu, agama yang dimulai dengan kata-kata fa’lam annahu lailahaillalah. Jadi keyakinan, akidah, harus dibangun berdasarkan ilmu. Jadi betapa mulianya para pengampu ilmu,” pungkasnya.

 

Kontributor: Disisi Saidi Fatah

Editor: Zunus Muhammad

Al-Musthofa Publication Orang Baik Akan Resah Ketika Ilmunya Tidak Tersalurkan

Source link