Berita

Peneliti Sampaikan Tiga Tantangan NU Menuju Usia Satu Abad

Al-Musthofa Publication Peneliti Sampaikan Tiga Tantangan NU Menuju Usia Satu Abad

Jakarta, NU Online

Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) bakal digelar di Lampung, pada 23-25 Desember 2021. Menurut Peneliti Alvara Research Center Hasanuddin Ali, Muktamar NU kali ini memiliki agenda besar untuk merumuskan berbagai strategi dan kebijakan untuk lima tahun mendatang. 

 

Seperti diketahui, para pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang kelak terpilih pada muktamar di Lampung itu akan bekerja selama lima tahun hingga 2026, bertepatan dengan usia satu abad NU. Untuk itu, Hasan menyampaikan tiga tantangan yang harus dijawab NU dalam menyongsong usia 100 tahun pertama. 

 

Hasan mengatakan muktamar kali ini merupakan momentum sangat krusial bagi NU. Bahkan, denyutnya bisa disamakan dengan Muktamar NU di Situbondo pada 1984 saat NU  menghasilkan keputusan sangat penting, yakni menerima Pancasila sebagai asas kehidupan berbangsa dan bernegara. 

 

“(Tantangan) pertama, manajemen organisasi. Sebagai organisasi besar, NU membutuhkan organisasi yang efektif yang bisa menggerakan anggota-anggotanya. Relasi jam’iyah dan jama’ah yang kadang tidak sejalan harus ditemukan jalan keluarnya,” terang Hasan melalui tulisan di facebook, dikutip NU Online, pada Selasa (26/10/2021).  

 

Lalu, tantangan kedua yang harus dijawab NU adalah berorientasi pada pelayanan umat. Ia menjelaskan bahwa setiap program NU harus menempatkan umat sebagai poros utamanya. Salah satunya, layanan keagamaan dan sosial kemasyarakatan NU harus dirasakan secara nyata oleh masyarakat luas.

 

“Dan, yang ketiga, penguatan SDM (sumber daya manusia) Nahdliyin. Kompetensi Nahdliyin semakin beragam, tidak hanya agama. Mereka harus lebih banyak diberi ruang untuk beraktualisasi menyumbangkan ide dan gagasannya,” tegas Ketua Litbang Pengurus Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor itu.

 

Hasan menegaskan, kebutuhan Nahdliyin ke depan tidak lagi melulu soal agama tetapi juga mengenai ekonomi, teknologi, dan berbagai kebutuhan dasar lainnya. Karena itu, lanjutnya, sumbangsih dari para diaspora Nahdliyin dari berbagai disiplin ilmu di berbagai belahan dunia, sangat dibutuhkan oleh NU. 

 

“Apapun hasil Muktamar nanti seharusnya (NU) mampu menjawab tiga tantangan tersebut. Apalagi sebentar lagi, tahun 2026, NU akan berusia 100 tahun dan akan memasuki abad kedua,” katanya. 

 

Dari tantangan dan beban yang menantang itu, Hasan menegaskan bahwa NU membutuhkan nakhoda yang memiliki visi, gagasan besar, dan pandangan jauh ke depan. Tidak hanya sekadar rutinitas lima tahunan.

 

“Saya membayangkan di abad kedua, NU seperti zaman Gus Dur. NU yang dinamis, adaptif, dan dipenuhi anak-anak muda progresif. NU yang disegani di percaturan dunia global dan juga NU yang mengakar kuat melayani umat, bangsa, dan negara,” pungkasnya.

 

Pelaksanaan muktamar dari masa ke masa

Diambil dari Ensiklopedia NU, gelaran muktamar pertama kali diselenggarakan di Surabaya pada 21 Oktober 1926, tak lama setelah NU berdiri. Setelah itu, muktamar tetap terselenggara di Surabaya hingga muktamar ketiga. 

 

Pada tahun-tahun berikutnya, muktamar secara berurutan semakin ke barat. Mulai Semarang (1929), Pekalongan (1930), Cirebon (1931), Bandung (1932), dan Jakarta (1933) yang kemudian pindah ke Banyuwangi (1934). Selanjutnya, muktamar terselenggara secara acak. 

 

Muktamar di luar Jawa pertama kali diselenggarakan di Banjarmasin pada 1936. Pada 1941, muktamar direncanakan digelar di luar Jawa untuk kedua kalinya, yakni di Palembang, tetapi gagal karena situasi Perang Asia Pasifik. 

 

Selama enam tahun masa pendudukan Jepang, tidak diselenggarakan muktamar. Barulah pada 1946, muktamar diselenggarakan di Purwokerto. Ini menjadi muktamar pasca-kemerdekaan RI.

 

Setelah itu muktamar diselenggarakan di Madiun (1947), Jakarta (1950), Palembang (1951), Surabaya (1954), Medang (1956), Jakarta (1959), Solo (1962), Bandung (1968), Surabaya (1971), Semarang (1979), Situbondo (1984).

 

Kemudian muktamar terselenggara setiap lima tahun sekali. Mulai di Yogyakarta (1989), Tasikmalaya (1994), Kediri (1999), Solo (2004), Makassar (2010), dan Jombang (2015). Lalu, Muktamar NU di Lampung sedianya akan diselenggarakan pada 2020 tetapi sempat tertunda akibat Covid-19 sehingga harus ditunda hingga direncanakan bakal digelar pada Desember 2021. 

 

Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Kendi Setiawan

Al-Musthofa Publication Peneliti Sampaikan Tiga Tantangan NU Menuju Usia Satu Abad

Source link