Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Komposer musik Addie Muljadi Sumaatmadja (MS) menceritakan pengalamannya berdzikir sembari mendengarkan musik di sore hari. Baginya, musik menjadi salah satu alat penenang jiwa. Bahkan bisa mengantarkan seseorang untuk senantiasa mengingat dan mensyukuri kebesaran Tuhan. 


Setiap pukul 17.00 hingga menjelang waktu maghrib, Addie memiliki kebiasaan untuk tidak bekerja. Meletakkan seluruh pekerjaannya untuk kemudian menenangkan diri di luar dan memandang langit sembari mendengar alunan musik.

 

Dari situ, pria kelahiran Jakarta, 7 Oktober 1959 itu kerap bersukacita dan mendapatkan keindahan dari segala yang diciptakan Tuhan.


“Saya punya kebiasaan setiap sore selalu tidak boleh bekerja. Jam 5 sampai maghrib, saya letakkan semua pekerjaan. Saya enjoy kemudian melihat langit, sambil dengar musik. Saya seringkali mendapatkan keindahan atau rasa kesukacitaan. Entah kadang-kadang burung lagi lewat atau awan yang indah, itu yang keluar adalah dzikir,” ungkapnya dalam program galawicara terbaru TV NU bertajuk Artis Bertanya Kiai Menjawab, pada Rabu (3/3) sore.


Dengan menceritakan pengalamannya seperti itu, ia lantas menyatakan bahwa bukan berarti menganggap dirinya paling shaleh. Namun Addie hanya ingin berbagi karena baginya, tidak ada yang lebih nikmat kecuali melakukan dzikir yang keluar tanpa direncanakan sebelumnya.


“Ini bukan soal saya ingin bicara saya shaleh. Enggak, sama sekali. Saya cuma mau berbagi bahwa setelah shalat berdzikir, oke. Tapi tidak ada yang lebih nikmat buat saya, dzikir yang keluar secara spontan,” tutur Pendiri Twilite Orchestra ini.


“Misalnya ketika melihat pemandangan yang indah sekali (lalu spontan berucap) allahuakbar, subhanallah, masyaallah. Itu spontan karena rasa terima kasih dan kebesaran dari Yang Mahakuasa,” imbuhnya. 


Kisah pengalaman itu direspons positif oleh Wakil Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Taufik Damas, sosok kiai yang menjawab segala pertanyaan dari para artis di program terbaru TV NU itu. 


“Musik itu luar biasa. Ada seorang sufi besar namanya Dzun-Nun Al-Mishri mengatakan bahwa musik itu shautul haq yuj’izul quluba ilal haq. Musik itu adalah suara kebenaran yang membangkitkan hati manusia menuju Allah Sang Maha Benar,” jelas Kiai Taufik.


Menurutnya, sejarah musik sudah ada sejak dulu dalam peradaban Islam. Kiai Taufik menyebut dua sufi ternama yang pernah membuat musik sebagai terapi kesehatan. Keduanya adalah Abu Nasir Muhammad bin Al-Farakh Al-Farabi dan Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq As-Sabbah Al-Kindi.


“Ada Al-Farabi dan Al-Kindi yang pernah membuat musik sebagai terapi untuk kesehatan. Kalau orang barat mungkin pada 1944 baru melakukan itu (musik untuk terapi kesehatan). Tapi di sebagian kalangan sufi sudah menggunakan musik (untuk terapi),” terang Kiai Taufik.


Ia kemudian menjelaskan tentang tarekat Maulawiyah yang didirikan Maulana Jalaluddin Rumi. Tarekat itu menggunakan musik ketika sedang berdzikir kepada Allah.


“Bahkan sampai sekarang makam (Rumi) di Turki, ada alunan musiknya. Jadi musik ini sebenarnya luar biasa. Tapi di tangan orang biasa, jadi biasa. Segala sesuatu itu di tangan orang biasa akan menjadi biasa,” pungkas Kiai Taufik.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link