Berita

Pengislaman di Nusantara Melalui Dua Tahap, Tasawuf dan Fiqih

Al-Musthofa Publication Pengislaman di Nusantara Melalui Dua Tahap, Tasawuf dan Fiqih

Bekasi, NU Online 

Pengampu Ngaji Ihya daring KH Ulil Abshar Abdalla mengungkapkan, sejarah pengislaman di Nusantara melalui dua tahap yakni tasawuf dan fiqih. Tasawuf muncul lebih dominan dan fiqih belakangan.


Hal itu disampaikan dalam acara Talkshow dan Kick Off Peluncuran Buku Menimbang Pluralisme karya KH Husein Muhammad yang diselenggarakan secara virtual pada Selasa, (6/7) sore.


Dijelaskan Gus Ulil, bahwa Islam pada generasi pertama ditandai dengan kuatnya ajaran tasawuf. Hal ini tampak dengan adanya perdebatan antara Hamzah Fansuri dengan Nuruddin ar-Raniri di Aceh pada abad ke-11. Keduanya tidak memperdebatkan fiqih, tapi soal wahdatul wujud.


“Ini menandakan bahwa generasi saat itu cara keislamannya sangat dipengaruhi oleh tasawuf. Kalau Islam sekarang fiqih banget. Misalnya, perdebatan tentang halal haram, sesat, kafir atau Islam. Padahal pada zaman Nuruddin ar-Raniri, wahdatul wujud pembahasannya tentang tasawuf wujudiyah sesuai ajaran Islam atau tidak, bukan dipandang dari sudut sesat atau tidak. Ini penafsiran yang keren,” ujarnya.


Lebih lanjut, Gus Ulil mencontohkan pembahasan wahdatul wujud yang dibahas ulama terdahulu. Ulama Sunni Asy’ari membahas teori wujud sangat mendalam. Begitu juga dengan Fakhruddin ar-Razi yang menulis tentang wahdatul wujud pada bagian pertama kitabnya yang berjudul al-Mabahits al-Masyriqiyyah. Ia mengagumi penjelasan al-Razi itu. Tak ayal, ia menyebut bahwa tasawuf yang teoritis ada di situ.


Contoh lain pembahasan orang Jawa tentang bahasa wahdatul wujud yang dilambangkan dalam ajaran sangkan paran (asal muasal tujuan hidup). Hal semacam itu, kata Gus Ulil, direnungkan oleh masyarakat Jawa. 


Ia menduga masyarakat Jawa sudah punya tradisi berpikir tentang sangkan paran ketika datang risalah Syekh al-Burhanpuri dalam kitab al-Tuhfah al-Mursalah yang membahas tentang sangkan paran dalam bahasa yang indah, singkat, tapi juga rumit.


“Saya ingin hal yang seperti ini diingat kembali oleh masyarakat, betapa kayanya peradabaan Islam di dalam berpikir,” kata Pengajar di Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) itu.


Karenanya, Gus Ulil menilai bahwa tradisi tasawuf ini lebih kaya dan bisa membuat orang merenung atau lebih berpikir, sedangkan tradisi fiqih mengarahkan cara berpikir yang cenderung hitam putih.


Kontributor: Suci Amaliyah

Editor: Syakir NF

Al-Musthofa Publication Pengislaman di Nusantara Melalui Dua Tahap, Tasawuf dan Fiqih

Source link