Berita

Prof Quraish Jelaskan Penyakit ‘Ain dan Penangkalnya

Al-Musthofa Publication Prof Quraish Jelaskan Penyakit 'Ain dan Penangkalnya

Jakarta, NU Online

Pendiri Pusat Studi Qur’an, Profesor Muhammad Quraish Shihab, meluruskan soal pengertian ‘ain yang selama ini dipahami sebagai penyakit. Padahal arti sebenarnya adalah pengaruh buruk dari pandangan mata atau pikiran disertai rasa takjub atau iri hati sehingga menimbulkan madharat terhadap apa saja yang dilihatnya. 

 

“‘Ain itu bukan penyakit. Ain itu pandangan mata yang kemudian berkembang maknanya sehingga bisa mencakup segala sesuatu yang terpikirkan secara fokus,” kata Prof Quraish dalam acara Shihab & Shihab, Senin (12/7).

 

Ia menyebutkan, bagi sebagian umat Muslim penyakit ‘Ain mungkin sudah bukan sesuatu yang asing, bahkan dalam literatur Islam banyak ditemukan contoh-contohnya. Seperti kejadian yang menimpa sahabat Nabi SAW saat dikagumi oleh seorang Arab atas kerupawanannya. 

 

“Dua orang sahabat Nabi mandi terus salah satunya terkagum oleh ketampanannya, kemudian yang dikagumi seketika pingsan. Nah, itu namanya kena Ain. Di sini pandangannya pandangan ketakjuban,” papar Cendekiawan Muslim Indonesia ini.

 

Dijelaskannnya, orang yang memiliki ‘Ain biasanya akan diliputi perasaan iri hati serta dengki bahkan kekaguman yang sangat berlebihan terhadap apa yang berada di depan matanya. 

 

“Yang iri hati orang lain, kita yang kena dampaknya,” jelas pemilik karya monumental Tafsir Al Misbah ini. 

 

Terlepas dari itu, lanjut Prof Quraish, ‘Ain juga bisa datang dari diri sendiri apalagi di era teknologi serba digital seperti sekarang ini. Di saat semua aktivitas dapat diunggah dan diakses secara mudah. Maka tidak menutup kemungkinan ‘Ain muncul dari bisikan-bisikan hati yang lalai saat memuji. 

 

“Misalnya ketika bercermin kita merasa diri paling cantik, itu adalah gambaran dari keinginan Anda yang dipendam dalam hati yang kemudian salah mengucapkannya lalu tanpa disadari membawa madharat,” lanjutnya. 

 

Oleh karena itu, Ia menganjurkan untuk senantiasa melafalkan ta’awudz, membaca surat-surat perlindungan (mu’awwidzatain), wiridan dan beberapa doa yang diajarkan oleh para Ulama. Sebagai penangkal dan usaha membentengi diri dari pengaruh-pengaruh negatif.

 

“Untuk mencegahnya ulama mengajarkan doa-doa juga beberapa wirid. Seperti pagi-pagi membaca Wirdul Lathif, malamnya membaca Rathibul Haddad. Nah itu semua untuk memagari kita,” tutur penulis buku Lentera Hati; Kisah dan Hikmah Kehidupan ini. 

 

Kemudian, Ia juga berpesan untuk senantiasa melibatkan Allah dalam setiap keadaan, karena segala macam kemungkinan baik pujian maupun celaan semata-mata bergantung kepada Allah SWT. 

 

“Kalau itu pujian ucapkanlah Masyaallah, Subhanallah. Tapi kalau itu celaan maka ucapkan A’udzu bi kalimatillah at-tammah min Syarri ma khalaq,” pesan Mufasir Kebanggaan Indonesia ini.

 

Kontributor: Syifa Arrahmah 

Editor: Kendi Setiawan

Al-Musthofa Publication Prof Quraish Jelaskan Penyakit 'Ain dan Penangkalnya

Source link