Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Cendekiwan Muslim Profesor Muhammad Quraish Shihab, dalam tayangan Shihab & Shihab, Ahad (25/4), mengisahkan saat Nabi diliputi kecemburuan kepada saudara sepersusuan Sayyidatina Aisyah RA, yang kemudian hal tersebut disadari oleh Aisyah.


“Ini saudara sepersusuan saya. Kemudian kecemburuan Nabi tercetus melalui komentar beliau, ya kalian hati-hati lah mengambil sepersusuan atau tidak, karena itu ada syaratnya jangan sampai tidak memenuhi syarat,” terang Prof Quraish menceritakan.


Menurut Prof Quraish, pengakuan kecemburuan Nabi merupakan indikator kecintaan seorang suami kepada pasangannya. Berbeda dengan curiga, cemburu itu dianjurkan untuk memupuk sebuah keharmonisan dalam rumah tangga.


“Curiga itu beda dengan cemburu. Curiga itu ada sisi negatifnya, cemburu itu bisa melahirkan sisi positif,” kata Mufasir kebanggaan Indonesia ini.


“Cemburu itu air yang bisa menyuburkan tumbuhan, kalau Anda tidak cemburu berarti cintanya layu,” sambungnya.


Dalam kehidupan berumah tangga banyak ditemukan perbedaan pendapat atau hal-hal baru yang tidak disukai pada pasangan baik istri maupun suami. Tetapi, menurut Prof Quraish, sudah semestinya setiap pasangan menyikapi hal yang demikian itu dengan penuh kebijakan.


“Salah satu yang mutlak dimiliki oleh pasangan suami-istri. Pertama, bahwa mereka itu beda jangan paksakan kehendak Anda. Perbedaan itu bukan karena perempuan atau laki-laki, tapi ada kecenderungannya yang berbeda dengan kita, ada keinginannya yang berbeda dengan kita,” tuturnya. 


“Nah, rahasia hidup berumah tangga adalah upaya mendekatkan (perbedaan) ini, sehingga mencari titik temu di tengah,” imbuhnya. 


Kemudian, Penulis Buku Pengantin al-Qur’an ini menyampaikan bahwa bukan hanya saling percaya yang menjadi kebutuhan dalam rumah tangga, namun, saling mengalah pun menjadi sebuah keniscayaan yang dapat mengantarkan pada titik terang. 


“Masing-masing mundur selangkah untuk bertemu, sebab, segala teka-teki jawabannya adalah cinta,” ungkap Prof Quraish mantap. 


Kontributor: Syifa Arrahmah

Editor: Fathoni Ahmad

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link