Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Ramadhan adalah sarana untuk mencapai sasaran atau tujuan utama. Segala ibadah dan aktivitas kebaikan yang dilakukan di dalamnya dan kemudian mendapatkan pahala maka itu hanya bonus dari Ramadhan sebagai bulan yang mulia. 

 

Demikian disampaikan Pengasuh Pesantren Mahasiswa Lingkar Studi Al-Quran (eLSIQ) KH Husnul Hakim Izmi secara virtual dalam Pesantren Ramadhan yang digelar Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) dan Majelis Ta’lim Telkom Grup (MTTG), pada Jumat (23/4) pagi. 

 

Dikatakan, sebelum ditetapkan sebagai bulan puasa, Ramadhan layaknya bulan-bulan lain dalam kalender Hijriah. Kiai Husnul menyebut, istilah Ramadhan dibuat oleh orang-orang Arab pra-Islam.

 

“Nama-nama bulan di tahun Hijriyah adalah bulan yang dibikin orang-orang Arab pra-Islam yang disesuaikan dengan kondisi alam. Kemudian Allah menjadi Ramadhan sebagai bulan untuk umat Islam diwajibkan berpuasa dan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an. Meskipun Ramadhan tak ubahnya seperti bulan-bulan yang lain,” ujar Kiai Husnul. 

 

Ia mengutip ungkapan seorang cendekiawan Muslim asal Suriah Mustafa As-Siba’i yang menyatakan bahwa Ramadhan adalah utusan Allah yang agung. Ramadhan mengemban amanat besar dari Allah untuk mendatangi umat Islam demi melakukan tempaan dan pendidikan. 

 

“Kita mengenal jargon Ramadhan adalah tempat melatih dan mengendalikan hawa nafsu. Inilah yang terbesar. Meskipun julukan lain banyak, ada bulan kesabaran, bulan kedermawanan, bulan ketaatan. Tetapi julukan yang paling kuat adalah Ramadhan sebagai bulan untuk melatih dan mengendalikan hawa nafsu,” terang Kiai Husnul.

 

Jika disebut sebagai bulan untuk melatih dan mengendalikan hawa nafsu maka Ramadhan bukanlah sasaran atau tujuan utama umat Islam. Karena tujuan utamanya agar mampu mengendalikan hawa nafsu di bulan-bulan setelah Ramadhan.

 

“Kalau kita menyatakan Ramadhan adalah bulan untuk melatih dan mengendalikan hawa nafsu maka kita seakan-akan dimasukkan ke dalam satu tempat diklat (pendidikan dan pelatihan) secara bersama-sama jutaan orang selama satu bulan untuk melatih dan mengendalikan hawa nafsu,” jelas Kiai Husnul. 

 

Ia mengingatkan hawa nafsu sangat berbahaya yang dapat membuat segala sesuatu menjadi tidak bermanfaat. Hawa nafsu juga tidak mengenal kebenaran, tidak mengenal pengajian, keadilan, dan kedermawanan. 

 

“Karena yang dikenal hawa nafsu adalah yang penting senang. Padahal kita tahu yang disenangi hawa nafsu itu terkadang dilarang oleh Allah dan Rasulullah. Hawa nafsu itu selalu menghendaki apa saja yang berada di luar diri kita. Tetapi ketika mendapatkan, dalam waktu tidak berapa lama, dia kemudian bosan,” tuturnya.

 

Karena itu, Kiai Husnul menegaskan bulan Ramadhan adalah sarana untuk mencapai tujuan utama umat Islam yaitu agar bisa mengendalikan hawa nafsu.

 

Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Kendi Setiawan

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link