Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof Komarudin mengatakan bahwa Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) sebagai organisasi guru terbesar kedua setelah PGRI, memiliki peranan yang sangat penting untuk mengawal kebijakan merdeka belajar dari kearifan pemikiran, budaya, dan nilai-nilai ke-Indonesia-an.

 

Hal itu disampaikannya dalam webinar puncak peringatan Harlah ke-69 Pergunu, Rabu (31/3) malam.

 

Menurutnya, Merdeka Belajar yang diprogramkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim sejalan dengan apa yang dicita-citakan oleh Bapak Pendidikan Bangsa, Kiai Hajar Dewantara. 

 

“Konsep Merdeka Belajar ini memberikan kemerdekaan setiap unit pendidikan berinovasi, menyesuaikan kondisi di mana proses belajar mengajar berjalan, baik sisi budaya, kearifan lokal, sosio-ekonomi maupun infrastruktur,” kata Prof Komarudin dalam peringatan bertema Pergunu Mencerdaskan Bangsa.

 

Pendidikan di abad 21 dan Merdeka Belajar, kata Prof Komarudin, menuntut desain pendidikan yang sejalan dengan dinamika era digital, dengan tetap menjaga kontekstualisasi ciri pendidikan ke-Indonesia-an agar tidak tergerus zaman dan kehilangan identitasnya.

 

Dijelaskan bahwa ruh gagasan Merdeka Belajar bersumber dari nilai-nilai kearifan pendidikan Indonesia, salah satunya berakar dari sistem pendidikan pesantren yang mengilhami berbagai gagasan pemikiran pendidikan yang cerdas dan genuine.

 

“Mendekonstruksi gagasan-gagasan pendidikan yang dilahirkan dari sistem pendidikan pesantren dan para ulama nusantara tersebut menjadi sebuah keniscayaan untuk penguatan kebijakan merdeka belajar, terlebih bagi Pergunu,” paparnya.

 

Prof Komaruddin menyebut ulama Nusantara dan tokoh bangsa yang membawa gagasan genuine pendidikan Indonesia seperti Syekh Kholil Bangkalan Madura, dengan konsep pendidikan, Kebaharian dan Geopolitik.

 

Pendidikan kebaharian Syekh Kholil tercermin dari pertautan antara kontribusinya membangun masjid dan membuat sebuah kapal yang diberi nama Sarimuna. Masjid sebagai simbol pusat pendidikan agama, harus disandingkan dengan sebuah kapal sebagai simbol sarana mencari biaya penghidupan secara mandiri.

 

“Wawasan geopolitik Nusantara Syekh Kholil menjadi jembatan jejaring intelektual ulama di tanah Jawa, Nusantara, dan dunia dengan mewariskan penanaman kepada santrinya untuk membangun pondok pesantren di pelosok Nusantara. Dari sinilah kemudian beliau memperoleh sebutan sebagai Bapak Pesantren Nusantara,” tegasnya.

 

Sementara Ulama Nusantara dan tokoh bangsa yang membawa gagasan genuine pendidikan Indonesia lainnya, yakni Syekh Yusuf Al Makassari, Syekh Nawawi Al Bantani, Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari.

 

“Gagasan genuine pendidikan yang dihadirkan para ulama nusantara tidak sebatas ilmu an sich, tetapi juga melingkupi, kemandirian ilmu, ekonomi, dan kedaulatan umat,” terangnya.

 

Dia menyebut bahwa Pergunu memiliki kekuatan dan peluang dengan kebutuhan masyarakat pada sistem pendidikan yang moderat dan toleran. Pergunu memilik kekayaan khasanah pemikiran yang genuine ulama nusantara sebagai referensi keilmuan. 

 

Puncak harlah ke-69 Pergunu juga dihadiri oleh Ketum PP Pergunu KH Asep Saifuddin Chalim. Sementara narasumber lainnya dalm sesi webinar adalah Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Muhammad Salahuddin dan Rektor IKHAC, Dr Mauhiburrohman.

 

Kontributor: Ridwan

Editor: Kendi Setiawan

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link