Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai, industri kreatif seperti film dan musik di tanah air banyak yang mati karena tidak diperkenankan menghadirkan kerumunan. Padahal, dunia hiburan sangat lekat dengan kehadiran banyak orang. 


Karena itu, banyak pihak yang memanfaatkan kehadiran teknologi digital untuk tetap bisa bertahan hidup. Komisaris Utama PT Telkom Indonesia Rhenald Kasali mengingatkan bahwa terdapat dua perspektif saat arus teknologi digital begitu deras di tengah pandemi Covid-19.


“Untuk yang ke sekian kalinya kita melihat digital teknologi telah menyelamatkan industri hiburan. Ketika teknologi datang, meski tidak baru sama sekali, kita selalu menyaksikan dua perspektif,” ucap Rhenal dalam sebuah galawicara di salah satu stasiun televisi swasta, Kamis (18/3) malam.


Perspektif yang pertama adalah tetap mempertahankan cara-cara lama dan berharap bahwa segalanya akan kembali seperti semula. Mereka menjadi korban akibat pandemi Covid-19 dan bisa saja menyalahkan keadaan, serta mengharapkan dukungan agar keadaan menjadi seperti sediakala.


“Sedangkan yang kedua, seakan tidak punya beban terhadap masa lalu. Kemudian menciptakan dunia baru, yaitu home entertainment yang dikirim secara virtual atau online. Mereka inilah yang menikmati pertolongan baru bahkan menciptakan perubahan,” tutur Rhenald.


Saat ini, banyak pekerja film dan musik mencoba peruntungan dengan mengandalkan panggung virtual. Hal ini tentu berbeda ketika dunia belum diterpa pandemi Covid-19. Film bisa disaksikan melalui layar lebar di bioskop, sedangkan musisi menggelar konser dengan sangat meriah. 


Pertandingan sepakbola pun demikian, tetap digelar meski tanpa penonton. Tidak ada lagi sorak-sorai suara gemuruh pendukung di tribun stadion. Sementara para gamers di gadget tetap asyik menikmati pandemi Covid-19 bersamaan dengan derasnya kemajuan teknologi digital. 


“Pandemi telah mengubah segalanya, membuat manusia mencari hiburan murah dari rumah. Membuat dunia lama menunda peluncurannya. Bahkan menutup sama sekali sambil menunggu. Jika seseorang terus menunggu sampai badai berlalu maka dia akan kehilangan kesempatan untuk menikmati sinar mentari,” ucap Rhenald.


Sebelum pandemi, imbuhnya, Grup Musik Coldplay menggelar konser di berbagai negara. Bahkan, masyarakat Indonesia sampai rela pergi ke negara lain untuk menonton langsung konser tersebut. 


“Ada yang pergi ke New Zealand, Tokyo (Jepang), Thailand. Mereka cari itu. karena mendapatkan ruh (dari kemeriahan konser) itu, mereka bisa lepas menikmati musik. Ini adalah bagian dari hiburan masyarakat,” kata Rhenald.


“Tetapi memang pandemi ini tidak terjadi hanya pada mereka. kalau kita lihat sepakbola, mereka tetap jalan tuh. Tapi tidak ada penonton, jadi kameranya langsung menyorot penonton. Biasanya kan penontonnya gemuruh. Itu tidak ada penontonnya. Tapi sepakbola tetap jalan,” lanjutnya.


Karena itu, para pekerja di ranah yang mendatangkan banyak massa mesti kreatif untuk mencari pendapatan di dunia yang baru. Paling tidak, mereka harus melakukan upaya untuk bisa menyambung hidup. Sebab, paradigma pandemi Covid-19 adalah tidak bisa mendatangkan keramaian. 


“Kita harus masuk ke dunia baru, dunia steaming (virtual) ini, tetapi tidak semua bisa berhasil. Ada cara-cara dan strateginya,” pungkas Rhenald.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link