Berita

Romadhona atau Romadhoni? – Pondok Pesantren Lirboyo

Al-Musthofa Publication Romadhona atau Romadhoni? - Pondok Pesantren Lirboyo

Ramadhan telah tiba, saatnya umat muslim menjalankan ibadah puasa, salah satu dari lima rukun Islam. Sebagaimana semestinya keabsahan suatu ibadah terletak pada niatnya, termasuk juga ibadah puasa. Sabda Rasulullah Saw yang artinya: “Keabsahan suatu amal tergantung pada niatnya”

Niat sendiri dalam literatur fikih diartikan sebagai menyengaja sesuatu bersamaan dengan melakukannya yang mana letaknya ada pada hati. Memang demikian, niat dalamhati haruslah berbarengan dengan saat kita melakukan ibadah tersebut. Namun dalam ibadah puasa terdapat pengecualian dimana niat puasa tidaklah dilakukan saat puasa dimulai (saat fajar) melainkan haruslah dilakukan dimalam hari sebelum fajar.

Meskipun letak niat terdapat pada hati namun terdapat anjuran untuk melafalkan niat suatu ibadah. Sebagaimana niat puasa Ramadhan sebagaimana berikut

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ الشَّهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

“Aku berniat melakukan puasa besok dari melaksanakan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah taala”

Dalam pelafalan lafadz Romadhon sering kali terjadi dilema dikarenakan sebagian membacanya Romadhona dengan di fathah, sedangkan sebagian lagi memilih membacanya dengan Romadhoni dengan di kasroh. Lantas bagaimana yang benar? Apakah mempengaruhi keabsahan puasa kita?

Mengutip pendapat al-Barmawiy, syekh Sulaiman Al-Jamal menyampaikan bahwa, lafadz Romadhoni haruslah terbaca kasroh. Karena secara susunan gramatika arab (tarkib nahwu) lafadz Romadhoni terbaca khofdz dan di sambung pada lafadz setelahnya (hadzihis sanati). Diperkuat lagi dengan alasan bahwa apabila lafadz Romadhoni tidak disambung akan menyebabkan kerancauan makna yakni akan ada kemungkinan isim isyarah Hadzihi ber-taalluq pada lafadz nawaitu sehingga makna yang dihasilkan adalah berniat untuk satu tahun, dan itu rancau. Namun sebagian ulama’ justru membaca lafadz Romadhona dengan di fathah. Mereka berlandaskan bahwa Romadhona adalah suatu nama (alam) yang secara gramatika Arab tidak dipebolehkan untuk disambung dengan lafadz setelahnya.

Keterangan tersebut sebagaimana terekam dalam karangan beliau yakni Hasiyah al-Jamal sebagai berikut:

(قَوْلُهُ: بِإِضَافَةِ رَمَضَانَ) أَيْ لِمَا بَعْدَهُ فَنُونُهُ مَكْسُورَةٌ؛ لِأَنَّهُ مَخْفُوضٌ وَإِنَّمَا اُحْتِيجَ لِإِضَافَتِهِ إلَى مَا بَعْدَهُ؛ لِأَنَّ قَطْعَهُ عَنْهَا يُصَيِّرُ هَذِهِ السَّنَةَ مُحْتَمَلًا لِكَوْنِهِ ظَرْفًا لِقَوْلِهِ: أَنْ يَنْوِيَ وَلَا مَعْنَى لَهُ؛ لِأَنَّ النِّيَّةَ زَمَنُهَا يَسِيرٌ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: إنْ جَرَرْت رَمَضَانَ بِالْكَسْرِ جَرَرْت السَّنَةَ وَإِنْ جَرَرْته بِالْفَتْحِ نَصَبْت السَّنَةَ وَحِينَئِذٍ فَنَصْبُهَا عَلَى الْقَطْعِ، وَعَلَيْهِ فَفِي إضَافَةِ رَمَضَانَ إلَى مَا بَعْدَهُ نَظَرٌ؛ لِأَنَّ الْعَلَمَ لَا يُضَافُ فَلْيُتَأَمَّلْ اهـ. بِرْمَاوِيٌّ.

“Dengan diidhofahkannya lafadz Ramadhan terhadap lafadz setelahnya (Hadzihi as-Sanah) maka huruf Nun terbaca kasrah Karena terbaca Jar. Mengidhofahkan lafadz Ramadhan terhadap lafadz setelahnya, disebabkan jika tidak diidhofahkan, maka lafadz Hadzihi as-Sanah menjadi Dzorf yang dapat merusak makna. Sebagian ulama mengatakan. Jika lafadz Ramadhan dibaca Jar dengan kasrah lafadz sanah juga terbaca Jar, jika lafadz Ramadhan terbaca Jar dengan fathah maka lafadz sanah terbaca Nasab. Maka dari itu lafadz Sanah terbaca Nasab karena terputus dari lafadz Ramadhan. Akan tetapi mengidhofahkan lafadz Ramadhan dengan lafadz setelahnya ini perlu dikaji ulang. Sebab lafadz sanah adalah isim alam yang tidak bisa diidhofahkan.” (Hasyiyah al-Jamal ‘Ala Syrah Manhaj at-Tulab. Hal. 313 vol. II)

Alakullihal, sebenarnya perbedaan pendapat mengenai pembacaan lafadz niat puasa Ramadhan ini hanyalah terletak pada teori gramatika Arab antara Ulama’ Basrah dan Kuffah. Semuanya memiliki statment yang diperkuat hujjahnya masing-masing. Dan yang perlu digaris bawahi adalah perbedaan tersebut hanyalah berimbas pada kefasihan penuturan dan tidaklah sampai menimbulkan konsekuaensi batalnya puasa kita. Karena sekali lagi niat terletak pada hati sedangkan pengucapannya hanyalah sebatas sunah. Wallahu `alam bi as-shawab.

Baca juga:

Menentukan Awal Ramadhan

Niat Puasa Ramadhan Satu Hari Penuh

Bacaan Bilal Dan Uruta Surat Dalam Salat Tarawih

Dalil Ucapan Selamat Ramadhan

0

Al-Musthofa Publication Romadhona atau Romadhoni? - Pondok Pesantren Lirboyo

Source link