Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Timnas Indonesia di All England telah berjuang secara maksimal. Meski dipaksa mundur dari kompetisi, tim Indonesia merupakan tim dengan mental juara.

 

Hal itu disampaikan Ketum Pagar Nusa Muchamad Nabil Haroen menanggapi Timnas Indonesia di All England dan jadwal kepulangan yang lebih cepat.

 

Selama ini, kata Nabil Haoren, para atlet badminton timnas Indonesia telah bekerja keras mempersiapkan segalanya. “Kita harus dukung dan apresiasi, kita sambut kepulangan mereka dengan semangat dan dorongan untuk berprestasi di masa mendatang,” ujarnya, Ahad (21/3) di Jakarta.

 

Menurut Nabil, yang juga anggota Komisi IX DPR, apa yang dialami Timnas wajar membuat banyak masyarakat sedih dan kecewa atas. “Tapi semua telah terjadi, kita harus melihat masa depan, move on,” lanjutnya

 

Sebagai anggota DPR RI dan wakil rakyat, pihkanya mengapresiasi langkah cepat Duta Besar RI di London, Desra Percaya dan tim KBRI London sekaligus Duta Besar Inggris di Indonesia HE Owen Jenkins yang bekerja keras mengkomunikasikan secara rapi dan tepat dengan otoritas lokal dan pihak NHS (National Health Service) atas kondisi timnas Indonesia di All England. 

 

“Kita bersyukur Timnas Indonesia bisa pulang lebih cepat daripada hanya menunggu untuk self isolation di hotel di Birmingham,” kata Nabil.

 

Di samping itu, peristiwa All England menjadi pelajaran bersama bahwa Indonesia mempunyai potensi besar berupa semangat dan dukungan dari rakyat. “Kita perlu menguatkan sistem pelatihan dan penyerapan atlet, jadi ini tidak hanya untuk badminton, tapi juga beberapa cabang olahraga lain,” sambung Gus Nabil sapaan akrabnya.

 

Tak kalah penting, Pemerintah perlu membuka peluang dan kompetisi calon atlet olahraga untuk santri dan komunitas pesantren. Gus Nabil menyebut, ada jutaan santri dan ribuan komunitas pesantren. Hal ini bisa jadi peluang besar untuk mencetak atlet nasional yang tangguh.

 

Pemerintah bisa mendukung lewat dukungan infrastruktur olahraga di pesantren-pesantren, serta mendorong pengawalan pelatihan atlet-atlet dari santri. “Jadi, basis mental dan spiritual santri kan sudah kuat, dengan diasah skill dan didukung asupan gizi yang pas, nnti bisa membuahkan hasil yang bagus.  Kita dukung terus olahraga Indonesia untuk berprestasi lebih jauh,” pungkasnya.

 

Kronologi

Dikutip dari Kompas, para atlet dan tim ofisial berangkat ke Birmingham, Inggris, dengan menggunakan pesawat Turkish, pada Jumat (12/3) pekan lalu. Mereka berangkat dengan membawa hasil negatif tes swab PCR.  

 

Setibanya di Birmingham, Anthony Ginting dan pebulutangkis Indonesia lainnya kembali menjalani tes swab PCR dan diharuskan karantina selama 12 jam hingga hasil tes keluar. Hasilnya, mereka dinyatakan negatif. Kemudian, mereka menggelar latihan di pusat kebugaran yang ada di Hotel Crowne Plaza Birmingham City Centre pada Senin (15/3).

 

Namun, peserta All England 2021 termasuk tim bulutangkis Indonesia masih harus menunggu kepastian kapan dimulainya turnamen tersebut. BWF sempat menunda hasil jadwal pertandingan All England 2021 karena adanya keraguan terhadap sejumlah hasil tes Covid-19. Situasi itu membuat pihak penyelenggara melakukan tes ulang terhadap seluruh peserta All England, baik atlet maupun tim ofisial yang hasil tesnya diragukan.

 

Selanjutnya, PBSI sebagai induk bulutangkis Indonesia menginformasikan, pertandingan All England pada Rabu (17/3) diundur menjadi pukul 14.00 waktu Birmingham. Namun, PBSI menyampaikan soal kepastian jadwal pertandingan harus menunggu hasil manager meeting yang digelar lebih dulu pada pukul 10.30 waktu setempat.

 

Hasil manager meeting berbuah positif, setelah pihak penyelenggara memastikan semua peserta yang terindikasi Covid-19 berdasarkan hasil tes swab PCR kedua dinyatakan negatif. All England 2021 pun resmi bergulir di Utiliti Arena Birmingham, Rabu (17/3) pukul 13.30 waktu setempat atau 20.30 WIB.

 

Sebanyak tiga wakil Indonesia yang bertanding pun berhasil memastikan langkah ke babak 16 besar. Mereka adalah Jonatan Christie, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan. Satu wakil lainnya, yakni Greysia Polii/Apriyani Rahayu, juga mengamankan tiket babak kedua setelah lawannya mengundurkan diri.

 

Tim Indonesia harus menerima kenyataan pahit setelah semua peserta dinyatakan negatif Covid-19, muncul kasus di luar lingkaran All England. Kasus ini bermula dari salah satu penumpang yang berada dalam pesawat yang sama dengan pebulutangkis Indonesia terindikasi Covid-19.  

 

Hal itu terjadi menjelang pertandingan tiga wakil Indonesia lainnya, yakni Anthony Sinisuka Ginting, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Situasi itu membuat Anthony, Praveen/Melati, dan Fajar/Rian gagal bertanding dan status mereka berubah menjadi kalah WO.

 

Pewarta: Kendi Setiawan

Editor: Musthofa Asrori

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link