Maahad Al Musthofa Mobile

Penulis Hafidz Alwy

Sebenarnya disadari atau tidak, dua prinsip yang sangat menentukan langkah umat Islam dalam menjalani kehidupannya, di mana kedua hal ini telah berhasil merubah tatanan dalam kehidupan umat Islam sendiri. Pertama adalah prinsip kekayaan, kedua adalah prinsip pengetahuan.

Selama ini persepsi terhadap kekayaan sudah lebih kepada pandangan negatif. Di mana kekayaan adalah sumber malapetaka, penghalang seorang manusia menjadi hamba Tuhannya karena lebih menghambakan diri pada kekayaan. Dan sederet stigma negatif yang dialamatkan pada kekayaan yang kesemuanya berputar pada kekayaan adalah mudarat.

Sehingga yang terjadi adalah jika ingin berada di jalan yang benar adalah dengan menjauhi kekayaan, menghindar dari gelimang harta dunia. Maka tidak heran jika seseorang yang berpandangan demikian, hidupnya menjauhi segala hal yang menjurus kepada kekayaan. Seperti bekerja keras, banting tulang, belajar ekonomi dan sebagainya. Otomatis kehidupannya pun jauh dari kekayaan.

Salahkah hal itu?

Suatu prinsip yang terbentuk akan tergantung bagaimana suatu pemahaman didapat. Mereka yang berprinsip bahwa kekayaan merupakan sesuatu yang harus dijauhi biasanya memahami bahwa dalam Islam terdapat dorongan untuk menjauhi dunia dengan hiruk pikuknya karena menjadi sumber kemudaratan. Juga dengan melihat keadaan para panutan umat yang hidup dengan sederhana dan tidak begitu menghiraukan materi dunia.

Namun kiranya perlu meninjau kembali pada pemahaman yang didasarkan pada sikap panutan terdahulu terhadap kekayaan, benarkah mereka menjauhi materi duniawi sehingga menjauhi juga pada kekayaan?

Pertama, adalah yang paling jelas yaitu anjuran yang berulang kali dalam mendermakan harta kekayaan. Dengan anjuran yang paling pokok adalah zakat yang mana telah menjadi salah satu dari lima pilar rukun Islam. Zakat sangat jelas merupakan ajaran yang memerintahkan kepada umatnya untuk membelanjakan hartanya.

Kedua, terdapat ratusan ayat yang mengenai perbuatan baik. Anjuran untuk berbuat baik, beramal salih, beraktifitas yang berkualitas serta imbalan untuk semua itu baik di dunia maupun di akherat. Betapa hal itu sebenarnya menunjukkan bahwa Islam menghendaki segala perbuatan yang bermanfaat, baik dan bagus dalam kehidupan ini.

Ketiga, kiranya perlu menggambarkan bagaimana sikap Rasulullah dan para sahabatnya terhadap harta. Apakah menjauhi atau malah menganjurkan?

Rasulullah bersabda : “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Betapa hal ini menunjukkan bahwa pemberi adalah anjuran. Namun jika tidak memiliki apa yang diberikan bagaimana ia akan mendapatkan kebaikan tersebut. Kemudian juga dalam sabdanya : “Sebaik baiknya harta adalah harta baik di tangan orang yang baik.”

Suatu ketika, Rasulullah sedang berada di masjid ketika ada utusan dari daerah Khaibar membawa hasil dari aset beliau. Dengan membawa sejumlah uang sekitar dua milyar. Lantas Rasulullah menggelar semuanya itu di samping beliau dan membagi-bagikan kepada orang-orang sampai tidak tersisa satu kepingpun sebelum beliau masuk rumahnya. Begitu pula ketika Rasulullah memberikan kawanan kambing seluas lembah gunung kepada salah satu sahabat Rasul. Tentu ketika kita melihat bagaiamana dermawannya Rasulullah dan jumlah yang beliau dermakana, betapa menunjukkan bahwa beliau sangat kaya raya.

Kemudian bagaimana dengan para sahabat Rasulullah? Abdurrahman Ibn Auf berkata : “Betapa bagusnya harta ini, dengannya ku bisa menyambung kerabatku, dengannya pula aku mendekatkan diri kepada Tuhanku.” Begitu pula Zubair Ibn Awwam berkata : “Sesungguhnya dalam harta terdapat perbuatan-perbuatan baik, menyambung sanak keluarga, mendermakan untuk menjunjung agama. Begitu pula menstimulus budipekerti yang baik. Pada saat yang sama dalam harta terdapat kemuliaan dunia dan derajatnya. ”

Suatu ketika Umar ibn Khattab berkata : “Sesungguhnya aku menjumpai seseorang lantas ia membuatku kagum. Kutanyakan apa ia memiliki pekerjaan ? Jika dijawab bahwa ia tidak memiliki pekerjaan, maka hilanglah kekagumanku.”

Ia juga menyerukan kepada para fakir miskin : “Wahai para fakir miskin, angkat kepala kalian. Sesungguhnya sarana sudah sangat jelas. Berlomba lah dalam kebaikan, jangan kalian menjadi beban bagi umat Islam.”

Juga kita melihat bahwasannya kehidupan sahabat Rasulullah yang tercitrakan sebagai hidup yang sederhana ternyata tidak berarti bahwa mereka tidak memiliki harta benda. Bahkan sebaliknya, perputaran perekonomian mereka sangatlah besar. Sebagai contoh :

Umar Ibn Khattab menikahi Umm Kultsum Binti Ali dengan mahar 40.000 (lebih dari 1 milyar, dengan asumsi 1 dirham 3,7 gram perak). Begitu pula Abdurrahman Ibn Auf menikahi seorang muslimah dari warga Anshar dengan mahar 30.000 (hampir satu milyar). Ada salah satu sahabat nabi yang suatu hari merasa gundah gulana karena hartanya menumpuk. Lantas ia mengadukan hal itu kepada istrinya. Oleh istrinya disuruh membagi-bagikan kepada kaumnya. Benar saja, ia membagikan hartanya. Selesai melakukan itu, ia menanyai kepada pegawainya berapa jumlah uang yang keluar? Ternyata 400.000 (kurang lebih 10 milyar)

Begitu pula jika kita lihat jumlah harta yang diwariskan oleh para sahabat ketika meninggal. Ibnu Mas’ud mewariskan 70.000 begitu pula Zubair ibn Awam mewariskan 500.000 ketika meninggal. Bahkan disebut-sebut warisan Umar Ibn Khattab mencapai nilai triliyun.

Bagaimana dengan anjuran miskin versi “mereka” ?

Sebenarnya ketika prinsip kesederhanaan dan menghindari kekayaan ketika diteliti lebih lanjut, selain tidak selalu benar, namun juga membawa kepada pola hidup yang tidak ideal menurut Islam itu sendiri. Karena jika prinsip antipati terhadap kekayaan ini sampai menjadi suatu budaya bagi masyarakat, tentu akan banyak mengalami kemudaratan.

Bagaimana tidak, jika suatu daerah menjadi dominan kemiskinan maka tidak menutup kemungkinan akan mengalami bencana. Dan itu sangat dijauhi oleh Islam. Dalam Islam sendiri kemiskinan adalah momok yang harus diberantas. Dengan bukti adanya kewajiban zakat, anjuran yang berulang-ulang dalam mendermakan harta dan peduli terhadap sosial.
Sehingga sikap yang anti kekayaan ini tidak bisa dengan begitu saja menjadi prinsip kehidupan. Karena bagaimanapun juga dengan kekayaanlah suatu perjuangan bisa ditegakkan, suatu misi bisa dilaksanakan.

Sehingga pandangan pribadi saya. Kekayaan adalah sesautu yang netral. Tidak bisa disebut sumber petaka juga tidak bisa dikatakan harus dikejar hingga ajal menjemput. Kekayaan adalah sarana. Tergantung yang menggunakannya apakah mau diarahkan kepada kebaikan atau kejelekan.

Islam mengajak untuk mendapatkan kekayaan dengan cara yang benar, yang mana tujuan akhirnya bukanlah untuk dipergunakan kesenangan semata. Namun lebih dari itu, sisi kemanusaan, sosial, saling membantu yang mana semua itu adalah tujuan yang mulia dan sangat ditekankan oleh Islam.

Kairo, Pasca Ujian Musim Panas 2019.

Koordinator LBM 2018-2020, Koord. Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCINU Mesir 2018-2020. Mahasiswa Al-Azhar, Kairo. Alumnus Pesantren Lirboyo mutakharijin tahun 2012

SEJAK KAPAN ISLAM MENGAJARKAN HIDUP MISKIN?

Baca juga:
KISAH HIKMAH: ANTARA IBADAH DAN KEKAYAAN

Simak juga:
Mengamalkan Ilmu

SEJAK KAPAN ISLAM MENGAJARKAN HIDUP MISKIN?
SEJAK KAPAN ISLAM MENGAJARKAN HIDUP MISKIN?

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link