Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA Helmy Faishal Zaini menyebut organisasi masyarakat yang tidak menjadikan sosial media sebagai platform di dalam dakwahnya akan menjadi fosil sejarah.

 

“Saat ini masyarakat berubah, dari ruang yang serba fisik, sekarang serba siber. Artinya, ketika kita menganggap transformasi digital tidak sebagai pilihan maka kita akan menjadi masyarakat yang ketinggalan,” kata Helmy di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Senin (12/4).

 

Menurutnya, ketika era serba digital datang, sebagai keluarga besar NU, harus mengambil peran strategis, karena dakwah merupakan amanah dari para pendiri NU. Pihaknya mengajak seluruh lembaga ataupun banom NU untuk memaksimalkan sosial media dalam dalam menyampaikan informasi dan edukasi serta mengajak kepada hal-hal baik.

 

“Dakwah merupakan jalan kita untuk meneruskan sekaligus melakukan transformasi besar agar bisa berubah dari masyarakat yang gelap menuju masyarakat yang terang benderang,” ujar pria kelahiran Cirebon ini.

 

Ia menjelaskan apabila kita cerdas memahami situasi, kita dapat melakukan transformasi. “Kita dapat mengubah masalah menjadi maslahah,” tambahnya.

 

Ia mengingatkan bahwa dai milenial  yang memiliki jutaan followers, jauh lebih berpengaruh kepada masyarakat dibandingkan seorang ulama yang tidak tersentuh oleh sosial media. “Maka tugas LDNU ini melakukan transformasi besar agar dakwah NU benar benar sampai ke kalangan milenial,” pesannya.

 

Tahun 2025 yang akan datang, ia menyebut hampir 70 persen penduduk Indonesia dipenuhi oleh milenial. Apabila LD PBNU tidak memiliki platform digital dalam dakwahnya, tentu milenialis akan lari dan memilih platform dakwah lain yang tidak kita ketahui.

 

Sekjen berharap media-media NU terus berkolaborasi, arena di era sosial media, tidak ada persaingan, yang ada adalah kolaborasi.

 

Kolaborasi Media NU

 

Sementara itu, Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) Kiai Agus Salim HS menyebut saat ini Nahdlatul Ulama telah ikut serta mengisi ruang-ruang teknologi informasi secara masif.

 

“Seperti NU Online dan TV NU, Lembaga Dakwah PBNU juga mempunyai media publikasi internal dakwahnu.id yang tujuannya mempublikasikan semua kegiatan dakwah NU dari tingkat pusat sampai ke daerah,” kata Kiai Agus.

 

Ia mengatakan dengan hadirnya media-media yang dimiliki oleh NU, arus informasi telah diwarnai oleh konten-konten keislaman yang ramah dan menyejukkan.

 

“Kalau dulu medsos dikuasai konten-konten yang sangar maka sekarang telah berubah dengan Islam yang berbinar,” kata Kiai Agus.

 

Dia berpesan agar warga NU terus mengembangkan fitur-fitur baru untuk menunjang kebutuhan Muslim Indonesia dalam mempelajari Islam, terutama berkaitan dengan konten-konten dakwah yang ramah melalui media sosial yang ada.

 

Kiai Agus juga berharap dengan adanya kerja sama tersebut dapat menggairahkan semangat kiai-kiai NU, khususnya yang ada di LD PBNU. 

 

“Kalau kemarin kita menyadari semua pengurus LDNU punya konten sendiri-sendiri, sekarang sudah ada medianya. Tinggal kita mau berjuang saja, berusaha apa tidak. Insyaallah sejahtera pun akan mengikuti,” tandas dia.

 

Kontributor: Abdullah Faquhudin Ulwan

Editor: Kendi Setiawan

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link