Berita

Setop Berita Covid?

Al-Musthofa Publication Setop Berita Covid?

Beberapa hari ini di lini masa media sosial saya, dan mungkin milik warganet lainnya, beredar broadcast dari sumber tak jelas yang mengajak masyarakat untuk menghentikan informasi dan pemberitaan tentang kondisi Covid-19. Mengonsumsi berita tentang Covid-19 dinilai akan menurunkan imun tubuh sehingga akan mudah terjangkit penyakit. Berita yang selama ini dimunculkan di media sosial disebut sebagai hal yang menakut-nakuti masyarakat dan bisa menurunkan kesehatan. Konten broadcast yang menyebar cepat itu pun mengajak masyarakat untuk cukup tahu saja bagaimana menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.


Ajakan ini tentu sangat kontraproduktif dengan fenomena lonjakan signifikan kasus Covid-19 yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan data Pemerintah, di bulan Juni ini rekor baru terjadi untuk kasus harian Covid-19 yakni mencapai angka lebih dari 20 ribu kasus. Di tambah lagi saat ini total kasus di Indonesia juga sudah mencapai 2 juta lebih dengan korban yang meninggal dunia di atas 50 ribu orang. Kondisi ini tentu tidak boleh serta merta menutup mata kita dengan tidak tahu dan tak mau tahu tentang kondisi kekinian Covid-19. Hal ini agar kita lebih tahu apa yang harus kita lakukan sekaligus menjaga diri dan orang lain agar rantai penyebaran Covid-19 bisa diputus.


Apalagi Kementerian Kesehatan menyebut bahwa lonjakan Covid-19 yang terjadi dalam bulan ini dikarenakan adanya varian baru Covid-19 yang bermunculan. Saat ini setidaknya ada 10 varian baru Covid-19 di dunia yakni varian Alpha B.1.1.7 (Inggris), Beta B.1.351 (Afrika Selatan), Gamma P.1 (Brasil), Zeta P.2 (Brasil), Theta P.3 (Filipina), Eta B.1.525 (Inggris), Epsilon B.1.427/B.1.429 (Amerika Serikat), Iota B.1.526 (Amerika Serikat), Kappa B.1.617.1 (India), dan Delta B.1.617.2 (India). Untuk di Indonesia, varian yang saat ini marak menjangkiti adalah varian yang berasal dari India, yaitu Delta B 1617.2. Penyebaran varian ini menurut beberapa ahli lebih mudah dan cepat menular ketimbang sebelumnya.


Jika kondisi ini diabaikan oleh masyarakat karena tidak mengetahui update terbaru, maka masyarakat akan berada pada ‘zona nyaman’ terus-menerus. Akibatnya lambat laun akan abai terhadap penerapan protokol kesehatan sehingga tidak akan tahu apa yang harus dilakukan. Penting bagi masyarakat untuk terus memperbaharui pengetahuan dengan terus meningkatkan imunitas tubuh agar tidak mudah terpapar virus. Imunitas tubuh sendiri tidak mesti disebabkan karena masifnya pemberitaan tentang Covid-19. Namun bisa juga disebabkan oleh kecerobohan kita kerena tidak menerapkan protokol kesehatan secara sungguh-sungguh.


Saya mengibaratkan ajakan untuk tidak melakukan update berita tentang Covid-19 ini seperti saat rumah kita kemasukan binatang buas. Bukannya mencari cara bagaimana agar binatang tersebut bisa keluar dari rumah dan penghuninya selamat, malah kita diimbau untuk menutup mata kita dengan kain hitam dalam menghadapi binatang yang membahayakan diri dan keluarga itu. Seharusnya penghuni rumah melihat pergerakan binatang tersebut dan mencari cara yang paling efektif untuk segera mengusirnya ke luar rumah.


Ajakan-ajakan dengan nada provokatif, hoaks, dan dengan masif mempengaruhi pola pikir masyarakat ini memang terus bergerak seiring dengan semakin banyaknya kasus Covid-19 yang skala dunia sudah menyentuh angka 100 juta lebih kasus. Ada yang mengatakan Covid-19 adalah sebuah konspirasi, virus Corona tidak ada, sampai dengan gerakan menolak memakai masker dan sebagainya. Wacana seperti ini harus terus dieliminasi dengan kontra narasi agar masyarakat sadar bahwa Covid-19 ada dan masih menjadi pandemi di dunia.


Di era post-truth saat ini, saat berita hoaks mengalahkan berita hak, masyarakat justru harus dicerahkan dengan ajakan bijak dalam bermedia sosial dan menyikapi banjir informasi ini dengan selektif. Selama pemberitaan tentang Covid itu memenuhi unsur ‘kesahihan’ seperti kepastian sumber (sanad), konten (matan), rawi (pembawa berita), maka tentu akan baik dikonsumsi untuk antisipasi diri dan masyarakat. 


Yang berbahaya justru adalah mengonsumsi berita-berita hoaks baik terkait Covid-19 ataupun bukan yang menjadikan masyarakat apatis, egois, dan abai dalam menyikapi pandemi Covid-19 yang saat ini berseliweran di media sosial. Sudah seharusnya kita mengonsumsi berita-berita yang baik dan shahih (benar) dan jangan terpengaruh provokasi dari sumber yang tidak jelas. Jika kita renungkan, ajakan menghentikan pemberitaan tentang Covid ini menjadi salah satu trik atau cara kelompok tertentu untuk menggiring opini masyarakat agar mengabaikan pandemi Covid-19 yang masih melanda. 


Di samping itu, perlu disadari juga bahwa semakin hari produsen berita hoaks semakin banyak dan memiliki berbagai jenis motif dalam melancarkan aksinya. Mulai dari motif ekonomi, agama, politik dan sejenisnya. Data Kemenkominfo menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu. Situs ini memanfaatkan internet sebagai ladang mencari keuntungan pribadi dan kelompok melalui memproduksi dan menyebarkan konten-konten negatif untuk menimbulkan keresahan dan saling mencurigai di masyarakat.


Dalam bermedsos, tidak perlu semua berita yang kita terima harus dikonsumsi. Jangan sampai otak kita diperlakukan seperti kulkas yang diisi berbagai macam makanan. Jika tidak selektif dalam memilih makanan, bisa jadi makanan busuk juga masuk ke dalam kulkas kita. Begitu juga otak manusia ketika tidak bisa memilih berita baik dan buruk, bisa jadi informasi yang tidak benar dan menyesatkanlah yang akan memenuhi otak kita. Semakin banyak informasi buruk dalam otak kita maka akan bisa mencelakakan kita dan juga orang lain.


Menjadi mustahil di era kemajuan teknologi informasi saat ini, kita akan mampu membendung informasi. Jika dulu orang yang sukses adalah orang yang memiliki banyak informasi, di era saat ini sudah bukan zamannya lagi. Orang yang sukses saat ini adalah orang yang bisa menyaring informasi. Bijak menjadi kunci dalam bermedsos. Mari, saring sebelum sharing.


Muhammad Faizin, Redaktur NU Online

Al-Musthofa Publication Setop Berita Covid?

Source link