Berita

Shalawat Rifa’iyah: Sejarah, Penulis, dan Faedahnya

Al-Musthofa Publication Shalawat Rifa’iyah: Sejarah, Penulis, dan Faedahnya

Berikut ini penulis akan menjelaskan salah satu shalawat dari sekian banyak shalawat kepada Nabi Muhammad, shalawat itu adalah shalawat Rifa’iyah, yaitu salah satu shalawat yang dinisbatkan kepada penulisnya, Sayyid Ahmad ar-Rifa’i.


Selain shalawat ar-Rifa’iyah, Waliyullah Sayyid ar-Rifa’i sebenarnya memiliki banyak shalawat dan hizib yang pernah ia tulis. Hanya saja, di antara beragam shalawat itu (selain hizib) hanya shalawat Rifa’iyah yang sangat masyhur dan paling sering dibaca, khususnya di Indonesia. Semua itu tentunya tidak lain karena keberkahan, manfaat, dan faedah yang ada dalam shalawat ini.


Sebagaimana shalawat pada umumnya, shalawat Rifa’iyah merupakan bacaan yang berisikan doa dan pujian kepada Nabi Muhammad. Hal itu sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan kepadanya. Selain karena telah sukses membawa ajaran Islam dengan penuh rahmat, juga sebagai pujian kepada satu-satunya makhluk paling mulia di sisi Allah swt.


Berikut teks, transliterasi dan arti dari shalawat Farah:

 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ وَخَلِيْلِكَ وَحَبِيْبِكَ صَلَاةً أَرْقَى بِهَا مَرَاقِي الْإِخْلَاصِ وَأَنَالُ بِهَا غَايَةَ الْاِخْتِصَاصِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا عَدَدَ مَا أَحَاطَ بِهِ عِلْمُكَ وَأَحْصَاهُ كِتَابُكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُوْنَ

 

Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ muḫammadin ‘abdika wa rasûlika wa khalîlika wa ḫabîbika shalâtan arqâ bihâ marâqil ikhlâshi wa anâlu bihâ ghâyatal ikhtishâsi wa sallim taslîman ‘adada mâ aḫatha bihi ‘ilmuka wa aḫshâhu kitâbuka kullama dzakarakadz dzâkirûna wa ghafala ‘an dzikrihil-ghâfilûna


Artinya, “Ya Allah, anugerahkan rahmat dan keselamatan yang berlimpah atas junjungan kami Nabi Muhammad hamba-Mu, utusan-Mu, kekasih-Mu, pecinta-Mu, yang dengan shalawat itu aku bisa naik ke derajat ikhlas, dan aku bisa meraih puncak kekhususan (dari-Mu), sebanyak yang diliputi ilmu-Mu, dan (sebanyak) yang dihitung catatan-Mu, selama orang-orang yang ingat itu mengingat-Mu, dan selama orang-orang yang lalai itu lupa untuk mengingat-Nya.”


Selain dikenal dengan sebutan shalawat ar-Rifa’iyah, shalawat di atas juga masyhur dengan nama shalawat Ikhlas, dan ada juga beberapa kalangan yang menyebutnya dengan hizib shagir Sayyid ar-Rifa’i. (Syekh Farid al-Mazidi, Abul ‘Alamain al-Quhtbul Kabir Sayyid Ahmad ar-Rifa’i wa Ushulit Thariqah ar-Rifa’iyah, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], halaman 362).


Biografi Sayyid Ahmad ar-Rifa’i

Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Kahiruddin az-Zarkili, salah satu ulama ahli sejarah abad kedua belas dalam salah satu kitabnya, bahwa Sayyid Ahmad ar-Rifa’i memiliki nama lengkap Abul Abbas Ahmad bin Ali bin Yahya ar-Rifa’i al-Husaini. Namanya bersambung dengan jelas kepada Rasulullah melalui jalur Sayyidina Husain bin Sayyidina Ali suami Sayyidah Fatimah putri Rasulullah.


Tepat pada abad kelima Hijriah, Iraq kedatangan tamu agung yang kelak akan menjadi salah satu intelektual Islam yang akan membawa perubahan, yaitu dilahirkannya Sayyid Ahmad ar-Rifa’i. Ia dilahirkan pada hari Kamis pertengahan bulan Rajab tahun 512 Hijriah, bertepatan dengan tahun 1118 Masehi di desa Hasan, salah satu desa yang terletak di Kota Iraq.


Di situlah Sayyid ar-Rifa’i memulai rihlah intelektual dan spiritualnya. Sejak masih sangat kanak-kanak, semangatnya untuk bisa mendapatkan ilmu pengetahuan sangat tampak. Selain semangat, ia juga tumbuh sebagai sosok yang sangat cerdas dan tangkas. Oleh karenanya, ilmu-ilmu yang ia pelajari, mulai dari Al-Qur’an, fiqih, tasawuf, hadits, dan ilmu-ilmu lainnya, bisa dengan muda ia pahami.


Setelah rihlahnya selama bertahun-tahun belajar ilmu pengetahuan, ia telah tumbuh sebagai sosok yang memiliki keluasan ilmu pengetahuan dan etika yang luhur. Saat itu, ia tidak hanya paham saja, namun juga bisa merumuskan beragam cabang-cabang ilmu syariat. Selain itu, Sayyid Ahmad ar-Rifa’i merupakan sosok yang sangat dermawan, tidak cinta dunia, dang sangat zuhud. Terbukti, masyarakat berbondong-bondong mendatanginya untuk belajar dan meminta nasihat kepadanya,


اِنْضَمَّ إِلَيْهِ خَلْقٌ كَثِيْرٌ مِنَ الْفُقَرَاءِ كَانَ لَهُمْ بِهِ اِعْتِقَادٌ كَبِيْرٌ


Artinya, “Masyarakat luas (banyak) berbondong-bondong (datang) kepadanya dari golongan orang-orang fakir, yang mana mereka telah memiliki keyakinan yang kuat kepadanya  (perihal keilmuan dan kedermawanannya).” (Imam az-Zarkili, al-A’lam li Asyhurir Rijali wan Nisai minal Arabi wal Musta’rabin wal Mustasyriqin, [Darul Ilmi: 2002], juz I, halaman 174).


Hanya saja, di akhir usianya ia lebih senang menjauh dari keramaian manusia dan melakukan khalwat (menyendiri) untuk fokus beribadah kepada Allah dan berzikir kepada-Nya, sekaligus memperbanyak membaca shalawat kepada Rasulullah kakeknya. Dari menyendiri yang ia lakukan selama bertahun-tahun itu, akhirnya tercipta banyak shalawat, hizib, dan zikir lainnya, termasuk shalawat Rifa’iyah.


Faedah Shalawat Rifa’iyah

Membaca shalawat merupakan salah satu cara mendapatkan pahala secara pasti dari Allah ‘azza wa jalla. Shalawat apa pun akan diberi pahala oleh Allah, termasuk juga shalawat Rifa’iyah. Bahkan, dengan membaca shalawat bisa memiliki harapan mendapatkan syafaat dan pertolongan dari Nabi Muhammad kelak di hari kiamat, ketika para nabi yang tidak tidak ada yang bisa memberi pertolongan.


Hanya saja, di antara ratusan bahkan ribuan shalawat yang ada, masing-masing dari setiap shalawat memiliki faedah dan keutamaan yang juga berbeda. Ada shalawat yang bisa menghilangkan kesusahan, ada yang bisa menggampangkan rezeki, bahkan ada juga yang bisa menjadikan badan kuat dan disegani oleh musuh.


Shalawat Rifa’iyah, sebagaimana disebutkan oleh penulisnya Sayyid Ahmad ar-Rifa’i dan sudah terbukti sejak awal mula shalawat ini ditulis, juga memiliki banyak faedah dan keutamaan secara khusus. Faedah-faedah itu sebagaimana disebutkan oleh al-Qadhi Syekh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, di antaranya bisa menggampangkan kebutuhan. Dengan kata lain, siapa yang istiqamah membaca shalawat ini, maka semua hajat dan kebutuhannya akan dipermudah oleh Allah,


مَنْ دَاوَمَ عَلَيْهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ بَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ عَلَى أَيِّ مُرَادٍ وَنِيَةٍ تَحْصُلُ حَاجَتَهُ بِاِذْنِ اللهِ


Artinya, “Siapa yang dengan tekun membacanya (shalawat Rifa’iyah) setiap hari setelah shalat Subuh dengan tujuan dan niat apa pun, maka hajatnya akan berhasil dengan izin Allah.” (Syekh Yusuf an-Nabhani, Sa’adatud Darain fis Shalati ‘ala Sayyidil Kaunain, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: 2019], halaman 252).


Tidak sebatas faedah dan penjelasan di atas, shalawat ini juga memiliki faedah dan khasiat bisa bermimpi dengan Rasulullah secara langsung, sebagaimana dalam penjelasan Syekh Yusuf selanjutnya,


مَنْ قَرَأَهَا اِثْنَيْ عَشَرَ أَلْفِ مَرَّةٍ يَرَى النَّبِي فِي الرُّؤْيَا. وَاِذَا دَاوَمَ عَلَيْهَا أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا لِكُلِّ حَاجَةٍ وَلِكُلِّ مُهِمَّةٍ وَعَلَى أَيِّ مَقْصَدٍ كَانَ يَحْصُلُ بِعِنَايَةِ اللهِ


Artinya, “Siapa membacanya 12.000 kali, maka akan melihat Nabi Muhammad dalam mimpi. Dan jika tekun membacanya empat puluh setiap waktu subuh untuk setiap hajat, dan setiap kepentingan, atau atas tujuan apa saja, maka akan berhasil dengan pertolongan Allah.” (an-Nabhani, 2019: 252).


Demikian penjelasan singkat perihal sejarah, penulis, dan keutamaan shalawat Rifa’iyah. Dengan mengetahuinya, semoga kita bisa istiqamah dalam membacanya, semua hajat dan kebutuhan bisa dipermudah oleh Allah, dan yang paling penting bisa dipertemukan dengan Rasulullah sekalipun dalam mimpi, Amin.


Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.

Al-Musthofa Publication Shalawat Rifa’iyah: Sejarah, Penulis, dan Faedahnya

Source link