Berita

Sumpah Pemuda, Momentum Optimalisasi Ekonomi dan Rasa Aman Perempuan

Al-Musthofa Publication Sumpah Pemuda, Momentum Optimalisasi Ekonomi dan Rasa Aman Perempuan

Jakarta, NU Online

Direktur Asian Muslim Action Network (AMAN) Dwi Rubiyanti Kholifah menilai bahwa Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum tepat bagi pemerintah untuk memaksimalkan pemberdayaan perempuan bagi peningkatan dan penguatan perekonomian bangsa.

 

“Kita ketahui bahwa angka kesetaraan gender di Indonesia masih cukup rendah dalam forum ekonomi internasional, dan itu menjadi catatan kita,” tegas Ruby saat diwawancarai NU Online via sambungan telepon, Kamis (28/10/2021).

 

Kesetaraan gender yang ia tekankan adalah kesempatan yang sama bagi gender laki-laki dan perempuan dalam hal partisipasi ekonomi, kesetaraan akses pendidikan, kesehatan serta political empowerment.

 

Bila merujuk penelitian McKinsey & Company pada 2018, menunjukkan kesetaraan gender dengan memberikan hak yang sama bagi laki-laki dan perempuan dapat meningkatkan produk domestik bruto (PDB) hingga US$135 miliar pada 2025.

 

Sementara itu, State of The Global Islamic Economy Report mencatat peran perempuan yang menjadi wirausaha dalam ekonomi syariah global sangat nyata. Jika mereka mendapat kesetaraan, PDB global bisa bertambah sekitar 3 persen sampai 6 persen dengan nilai mencapai US$5 triliun.

 

Ia juga menyebutkan bahwa memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas merupakan salah satu dari 7 agenda pembangunan lima tahun ke depan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Dalam hal ini perempuan harus meningkatkan kesejahteraannya dan kualitas hidupnya agar setara dengan laki-laki.

 

“Perempuan bisa menjadi aktor strategis di dalam pembangunan. Tidak hanya pembangunan di desa-desa, tetapi juga pembangunan secara nasional yang dapat mengubah kehidupan masyarakat Indonesia menjadi lebih baik dan sejahtera,” ujar Ruby.

 

Mengenai 7 agenda pembangunan,rancangan teknokratik RPJMN 2020-2024, antara lain mencakup ketahanan ekonomi, mengurangi kesenjangan antarwilayah, kualitas sumber daya manusia (SDM), revolusi mental, memperkuat infrastruktur serta pelayanan dasar, lingkungan hidup, dan terakhir memperkuat stabilitas politik, hukum, pertahanan, dan keamanan.

 

Urgensi keamanan bagi perempuan

Terkait keamanan, pada momentum Hari Sumpah Pemuda ini Ruby merekomendasikan pemerintah untuk mengembalikan rasa aman perempuan yang rentan menjadi korban kekerasan seksual.

 

Merujuk kasus-kasus seperti pemerkosaan tiga anak di Luwu Timur dan kasus asusila terhadap anak tersangka oleh oknum kepolisian di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, ia menilai Indonesia tengah berada di situasi darurat keamanan bagi perempuan.

 

“Ini membuat kita betul-betul perlu merefleksikan ‘aman’ bagi perempuan itu seperti apa. Bagi perempuan tentu saja makna keamanan itu ketika dia bebas dari segala bentuk ancaman kekerasan berbentuk gender maupun seksual. Dan itu penting.” tegas peraih 100 perempuan berprestasi versi BBC pada 2014 ini.

 

Pandangan itu diutarakan Ruby karena rasa aman tidak bisa sebatas diungkapkan melalui jargon-jargon belaka. Akan tetapi dalam hal keamanan, preventif itu selalu lebih efektif dibanding menunggu dan menangani kejadian baru. Karenanya, ia menegaskan bahwa pemerintah dan semua elemen masyarakat punya andil untuk menciptakan budaya aman.

 

“Pemerintah harus memperhatikan, isu perempuan sama pentingnya dengan isu anak. Negara harus memastikan perlindungan dan keterlibatan masyarakat untuk mencegah kekerasan seksual,” tegas aktivis kesetaraan gender dan anak ini.

 

“Jadi, makna kebangkitan (Sumpah Pemuda) kita kali ini adalah betul-betul sebuah refleksi bersama atas pentingnya menciptakan keamanan,” tandas Ruby.

 

Kontributor: Syifa Arrahmah

Editor: Muhammad Faizin

Al-Musthofa Publication Sumpah Pemuda, Momentum Optimalisasi Ekonomi dan Rasa Aman Perempuan

Source link