Berita

Syekh Sulaiman Kurdi, Ulama Bojonegoro yang Mengajar di Makkah pada Abad 20

Al-Musthofa Publication Syekh Sulaiman Kurdi, Ulama Bojonegoro yang Mengajar di Makkah pada Abad 20

Syekh Sulaiman Kurdi merupakan ulama asal Bojonegoro yang jadi bagian penting dalam simpul mata rantai sanad Aswaja di Makkah, pada abad 20. Namanya tak dikenal di Jawa Timur, bahkan Kota Bojonegoro sendiri. Ulasan mengenai sosoknya pun masih sangat sulit dicari. Tapi, nama Syekh Sulaiman Kurdi Bojonegoro pernah masyhur di Kota Makkah. Beliau tercatat sebagai ulama pengajar di Tanah Haramain.

 

Syekh Sulaiman Kurdi Bojonegoro adalah bukti betapa kota-kota kecil di Jawa Timur telah memiliki ulama kaliber dunia, sejak zaman dulu. Selain itu, ini juga bukti bahwa Islam di Bojonegoro Jawa Timur, merupakan peradaban intelektual yang cukup sepuh.

 

Nama Syekh Sulaiman Kurdi Bojonegoro tercatat dalam kitab biografi berjudul al-Jawahir al-Hisan fi Tarajum al-Fudhala karya Syekh Zakariya Billah yang kemudian dikutip dan diperjelas oleh Dr. Maulana La Eda dalam buku berjudul 100 Ulama Nusantara di Tanah Suci.

 

Dalam buku tersebut, namanya tertulis secara lengkap: Sulaiman Kurdi bin Abdul Qodir bin Abdurrahman bin Syihabuddin Bojonegoro al-Jawiy al-Makkiy Asy-Syafi’i. Lahir di Kota Bojonegoro, Jawa Timur, pada 1904 dan wafat pada 1952. Beliau disebut sebagai salah satu ulama berpengaruh di Makkah pada abad 20.

 

Dalam buku itu juga dijelaskan, beliau lahir dan tumbuh hingga remaja di Kota Bojonegoro. Terdidik dalam keluarga Syihabuddin yang terkenal akan kesalehannya. Saat sudah memahami bahasa Arab dan ilmu dasar agama, beliau berangkat ke Makkah untuk kembali memperdalam ilmu.

 

Di Kota Makkah, beliau berguru pada ulama besar pada zamannya seperti Syekh Umar Bajunaid, Syekh Nahrawi al-Banyumasi, Syekh Soleh Syatha, hingga

Syekh Umar Hamdan. Beliau belajar dengan penuh kesungguhan hingga mencapai derajat keulamaan.

 

Syekh Sulaiman Kurdi dikenal sebagai ulama pengajar yang mumpuni. Beliau tak hanya mengajar di satu tempat. Tapi beberapa tempat sekaligus. Satu diantaranya adalah madrasah legendaris yang melahirkan banyak Waliyullah Nusantara, yakni Madrasah Shaulatiyyah Makkah.

 

Syekh Sulaiman Kurdi punya peranan penting dalam transmisi sanad Aswaja. Santrinya tak hanya berasal dari Nusantara, tapi dari berbagai penjuru dunia. Beliau berkiprah di Kota Makkah hingga wafat, dan dimakamkan di pemakaman Ma’la pada 1953.

 

Kiprah Syekh Sulaiman Kurdi di Makkah, kelak diteruskan para penerusnya seperti Syekh Zakaria Billah (Sumatera Utara), Syekh Abdullah Durdum (ahli nahwu Kota Makkah asal Sumatera), hingga Syekh Yasin al-Fadani (guru bagi banyak ulama besar Nusantara).

 

Syekh Sulaiman Kurdi Bojonegoro menjadi ulama penjaga transmisi sanad Aswaja yang melahirkan ulama-ulama besar generasi berikutnya. Beliau wafat di Kota Makkah dan dimakamkan di pemakaman Ma’la, yang masyhur sebagai makam para Aulia.

 

Jejaring Ulama Nusantara di Tanah Haramain

A Ginanjar Sya’ban, penulis buku Mahakarya Islam Nusantara mengatakan, pada abad ke-19 dan abad ke-20, komunitas terbesar di Masjidil Haram adalah penganut Mazhab Syafi’i.

Dan sebanyak 60 persen pengajar dari unsur syafi’i di Masjidil Haram, berasal dari Nusantara. Sebab, mereka banyak menulis karya-karya keilmuannya kedalam Bahasa Arab.

 

Jauh sebelum Wahabi mengkudeta dan membangun rezim di Makkah, ulama Nusantara telah membentuk rantai jejaring Aswaja yang transmisinya tak pernah putus dari generasi ke generasi.

Geliat mereka tercatat sejak abad ke-18 (1700 masehi), dengan ditandai hadirnya tokoh-tokoh ulama besar dari Nusantara yang kelak terkenal dengan sebutan Empat Serangkai Ulama Tanah Jawi. Mereka adalah:

 

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari al-Jawi (Kalimantan/ 1710-1812), Syekh Abdus Shomad al-Falimbani al-Jawi (Sumatera/ 1704-1785), Syekh Abdurrahman Mishri al-Batawi al-Jawi (Jawa), dan Syekh Abdul Wahab Bugis al-Jawi (Sulawesi/ c. 1725 – 1790).

 

Lalu disambung generasi; Syekh Abdul Ghani al-Bimawi (c.1780-1848), Syekh Ahmad Khatib As-Sambasi (1803-1875), Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1879), Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860 -1916), Syekh Mahfud at-Tarmasi (1842-1920), dll.

 

Dari generasi itu, muncul generasi berikutnya lagi yakni Syekh Nahrawi al-Banyumasi (1860 – 1926), Syekh Abdul Hamid al-Kudusi (1860 – 1915), Syekh Mukhtar al-Bughuri (1862 – 1930), Syekh Baqir al-Jugjawi (1884 -1941), dll.

 

Kemudian disusul generasi Syekh Ahyad al-Bughuri (1885-1952), Syekh Sulaiman Kurdi al-Bojonegori (1904 – 1953), Syekh Abdullah Durdum al-Fadani (1915 – 1987), hingga Syekh Yasin al-Fadani (1916-1990). Pada periodisasi inilah, Syekh Sulaiman Kurdi Bojonegoro berkiprah sebagai penuntut ilmu sekaligus pengajar di Makkah.

 

Lahir dan Tumbuh di Bojonegoro

Nama dan nasab lengkap beliau, sesuai al-Jawahir al-Hisan fi Tarajum al-Fudhala, adalah Sulaiman Kurdi bin Abdul Qodir bin Abdurrahman bin Syihabuddin Bojonegoro al-Jawiy al-Makkiy Asy-Syafi’i (1904 – 1952). Lahir dan tumbuh di Bojonegoro. Berangkat ke Kota Makkah ketika sudah remaja.

 

Keluarga Syihabuddin dan nama-nama yang tertera pada nasab beliau, cukup sulit dideteksi karena menggunakan nama Arab. Sementara di zaman itu, banyak ulama Bojonegoro yang menyembunyikan nama Arab dan menggunakan nama Jawa, agar selamat dari penangkapan penjajah.

 

Tapi, dari data Sarkub Institute, kami menemukan seorang ulama penyebar agama Islam bernama Mbah Raden Totokromo yang memiliki nama asli Syekh Syihabuddin Padangan. Makam beliau berada di makbaroh Dusun Blimbing, Padangan, dengan tarikh wafat 1211 H (1870 M).

 

Kiai Furqon Azmi, pemerhati sejarah dari Sarkub Institute mengatakan, Syekh Syihabuddin Padangan adalah putra Hamengku Buwono III yang menyebarkan agama Islam di Padangan. Mbah Syihabuddin merupakan adik dari Abdul Hamid Mustahar alias Pangeran Diponegoro.

 

Mbah Syihabuddin anak kandung Hamengku Buwono III dari selir bernama Nyai Dewi Sri Ningsih (putri bupati Magelang). Dengan kata lain, Syekh Syihabuddin adalah adik Pangeran Diponegoro dari bapak yang sama, tapi beda ibu.

 

Pangeran Diponegoro lahir pada 1785 dan wafat pada 1855. Dengan umur di bawah Pangeran Diponegoro, Syekh Syihabuddin yang wafat di Padangan pada 1870, tentu memiliki tahun lahir tak jauh dari sang kakak. Yakni setelah tahun 1785 atau sekitar 1790-an.

 

Dari data yang ada, Mbah Syihabuddin (c.1790 – 1870) pertama kali datang ke Padangan pada 1830, pasca kekacauan Perang Jawa. Hingga wafat pada 1870, Mbah Syihabuddin melahirkan banyak anak yang mayoritas jadi ulama penyebar Islam di wilayah Padangan.

 

Periodisasi Mbah Syihabuddin Padangan (c.1790 – 1870), cukup mendekati jika diurut dengan nasab yang tertera pada biografi Syekh Sulaiman Kurdi (1904 – 1953). Yakni, Sulaiman Kurdi bin Abdul Qodir bin Abdurrahman bin Syihabuddin Bojonegoro al-Jawiy.

 

Hal itu diperkuat dengan keterangan yang ada pada kitab al-Jawahir al-Hisan fi Tarajum al-Fudhala dan buku 100 Ulama Nusantara di Tanah Suci, yang mengatakan bahwa keluarga Syihabuddin terkenal akan kesalehannya. Sebab, mayoritas keturunan Syekh Syihabuddin Padangan memang ulama penyebar Islam.

 

Kita tak pernah tahu, apakah Raden Syihabuddin Padangan, adalah Syekh Syihabuddin yang dimaksud dalam kitab al-Jawahir al-Hisan fi Tarajum al-Fudhala. Tapi, kita wajib bersyukur bahwa ulama Nusantara punya peran intelektual yang cukup besar di Makkah, sejak dahulu kala.

 

Ahmad Wahyu Rizkiawan, Khadim di Pondok Pesantren Ar-Ridwan Al Maliky Bojonegoro dan penulis buku “Kronologi Lahirnya NU Bojonegoro”

Al-Musthofa Publication Syekh Sulaiman Kurdi, Ulama Bojonegoro yang Mengajar di Makkah pada Abad 20

Al-Musthofa Publication Syekh Sulaiman Kurdi, Ulama Bojonegoro yang Mengajar di Makkah pada Abad 20

Source link