Berita

Tafsir Qur’an Tentang Peran Adab dalam Menuntut Ilmu –

Al-Musthofa Publication Tafsir Qur'an Tentang Peran Adab dalam Menuntut Ilmu -

Peran adab dalam menuntut ilmu memiliki eksistensi yang sangat tinggi. Dalam sebuah maqolah dikatakan:

مَنْ لَا أَدَبَ لَهُ لَا عِلْمَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak memiliki adab, maka tidak memiliki pengetahuan.”

Terlebih etika kepada ustadz atau guru. Karena orang yang menuntut ilmu tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat, kecuali menjaga adab, sebagaimana ungkapan dalam kitab Ta’limul Muta’alim:

إِعْلَمْ بِأَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لَايَنَالُ الْعِلْمَ وَ لَايَنْتَفِعُ بِهِ إِلَّا بِتَعْظِيْمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ

“Ketahuilah! Bahwa sesungguhnya seorang pelajar tidak akan mendapatkan ilmu dan tidak akan mendapatkan manfaatnya kecuali dengan mengagungkan ilmu dan ahlinya.”[1]

Dalam al-Qur’an terdapat ayat yang menyingung mengenai adab seorang murid kepada gurunya yaitu:

قَالَ لَهٗ مُوسٰى هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلٰٓى اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا – ٦٦

“Musa berkata kepadanya; “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?” (QS. Al-Kahfi: 66)

baca juga: Belajar Adab dari Nadzam Alfiyah

Tafsir Ayat
  • Merasa rendah hati ketika mencari ilmu

Secara runtutan kalimat, lafadz “ لَهُ “ (yang marji’nya kembali kepada Nabi Khidlir) lebih dulu disebutkan dari pada lafadz “مُوسى” memberi makna tersirat akan pentingnya beradab dalam Maqoliah dan tingginya derajat Nabi Khidlir dibadingkan Nabi Musa. Padahal sudah maklum bahwa Nabi Musa rasul yang kedudukannya jelas lebih tinggi dari pada Nabi Khidlir. Namun, karena dalam maqam ta’lim Nabi Musa menjaga akhlak pada gurunya serta tawadlunya beliau pada gurunya.

Dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin dikatakan:

وَيَنْبَغِيْ أَنْ يَتَوَاضَعَ لِمُعَلِّمِهِ

“Seyogyanya, kamu harus bertawadu’ kepada gurumu.”[2]

Di sana juga dikatakan:

فَلَا يَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِالتَّوَاضُعِ

“Ilmu tidak bisa diperoleh kecuali dengan kerendahan hati.”[3]

Bahwa bagi seorang pelajar harus memiliki sifat rendah hati pada gurunya agar memperoleh ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat.

  • Mengikut apa yang dititahkan guru

Ayat “هَلْ أَتَّبِعُكَ” pada lafadz هَلْ bermakna istifham yang berfaidah meminta izin kepada Nabi Khidlir dan lafadz أَتَّبِعُكَ bermakna ikut kepada guru/kiai, sebagai pengakuan Nabi Musa atas lemahnya dirinya sehingga butuh pada orang yang bisa dijadikan imam.

Sebagai sosok yang patut diikuti, secara makna kalimat di atas adalah bentuk permohonan izin untuk ikut berguru pada Nabi Khidlir.

Pada ayat هَلْ أَتَّبِعُكَ adalah lafadz yang tidak diqoyyidi untuk memberikan makna ketika ikut dengan guru (belajar kepada guru) harus totalitas tanpa batas selagi tidak melanggar syari’at.

  • Meminta diajarkan disiplin ilmu

Lafadz عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ artinya meminta untuk diajari oleh Nabi Khidlir. Secara makna lafadz tersebut mengandung beberapa nilai-nilai akhlak, di antaranya:  

  1. Pengakuan Nabi Musa bahwa dirinya orang yang tidak memiliki ilmu. Sebagaimana orang yang minta diajarkan disiplin ilmu, pasti orang tersebut merasa bahwa dirinya tidak memiliki ilmu.
  2. Pengakuan bahwa Nabi Khidir, orang yang alim dan memiliki ilmu serta patut dijadikan guru. Ini bentuk dari menghormati guru, sebagaimana adab seorang murid kepada gurunya.

Sedangakn lafadz مِمَّا عُلِّمْتَ huruf مِنْ yang di antara maknanya adalah tab’id (Sebagian). Sehingga, makna Nabi Musa meminta kepada Nabi Khidlir untuk diajarkan sebagian ilmu yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada Nabi Khidlir bukanlah semua ilmu yang sebanding dengan Nabi Khidlir, melainkan sebagian ilmu.

Lafadz عُلِّمْتَ shighot madhi yang dimabni majhul dalam kitab juman disebutkan sebagian faidah fi’il yang dimajhulkan, bahwa fa’il yang disamarkan sudah maklum dan pasti pelakunya sudah bisa diketahui secara dhoruri :

قُلْتَ وَلِلْمَفْعُوْلِ إِنَّمَابُنِيْ  #  ِلكَوْنِهِ فِي الذِّكْرِ نُصِبَ الْأَعْيُنِ

Bahwa ilmu yang dimiliki oleh Nabi Khidlir memang murni dari Allah SWT yang langsung diberikan ke hati dengan tanpa melalui perantara apapun.

  • Menghendaki untuk mendapatkan ridha Allah

Lafadz رُشْداً bertujuan menuntut ilmu agar mendapat petunjuk, hidayah, dan ridlo Allah SWT.

Kesimpulan

Dengan membaca tilusan ini, kita dapat memetik hikmah bahwa seberapa tinggi derajat murid, ia harus menganggap lebih tinggi derajat gurunya.

Penulis: Ahmad Baghawi

Peran Adab dalam Menuntut Ilmu
Peran Adab dalam Menuntut Ilmu

tonton juga: Menarik Rezeki || Ijazah dari Kh. Anwar Manshur


[1] Ta’lim al-Muta’alim
[2] Ihya ‘Ulumuddin
[3] Ihya ‘Ulumuddin

0

Al-Musthofa Publication Tafsir Qur'an Tentang Peran Adab dalam Menuntut Ilmu -

Source link